CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 54; Hidup dengan tenang



“Ibumu ada di penjara...” Jagad sengaja menjeda kalimatnya. Ia menunggu Aleya agar wanita itu menatapnya seolah kalimat yang akan diucapkan berikutnya membutuhkan kesiapan dalam penerimaannya, “Ibumu ada dipenjara karena terbukti bersalah telah membuat seseorang kehilangan nyawa. Dan orang malang itu adalah Moona.”


Keheningan lagi-lagi menyelimuti dua pasang mata yang kini saling menatap. Satu pasang menunjukan kepahitan yang selama ini ia pendam sedangkan sepasang yang lain  penuh doa dan harap apa yang baru saja ia dengar tidaklah benar.


“Jangan bercanda...” kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Aleya. Otaknya masih memproses segala informasi yang ia terima. Gemetar, tangan Aleya mencoba berpegangan pada cangkir teh yang digengamnya dengan erat.


Ekspresi apa yang harus ia berikan saat ini?


Aleya bahkan tidak tahu harus memiliki perasaan apa saat ini. Bahagia karena ibunya masih hidup atau sedih dengan kenyataan yang melekat pada berita itu. Bahkan terbesit di dalam pikiran pendeknya bahwa ia lebih memilih tidak pernah mendengar berita itu saja. Ia merasa hidupnya akan berjalan lebih mudah dan mulus tanpa mengetahui fakta yang selama ini coba disembunyikan oleh keluarganya.


“Apa yang kakak inginkan dengan mengatakan ini padaku saat ini?” Aleya menguatkan hatinya. Ia hampir lupa ada tujuan yang dibawa oleh Jagad. Ia ingin mendengarnya terlebih dahulu sebelum menyimpulkan sesuatu yang mungkin lagi-lagi salah.


“Aku benar-benar tidak tahu malu jika mengajakmu untuk berada dipihak ku. Oleh karena itu, aku hanya ingin kau hidup di sini, seperti ini...” ada nada putus asa yang tersirat dalam kalimat Jagad. Ia merasa berat mengatakan permohonan itu walau itu lebih terdengar lebih pada harapan.


“Kalau kau menginginkan itu, tidak seharusnya kau datang dengan sikap agresif. Kau bahkan menghajar orangku di hari pertama kita berjumpa,” Aleya tersenyum sinis membayangkan kali pertama mereka berjumpa. Sungguh sangat konyol.


“Dia terlalu lemah untuk kau jadikan pengawal karena ia kalah dengan mudah...” Jagad lebih memberikan saran. Jika semua orang yang Aleya selemah itu bagaimana bisa ia melindunginya?


“Kami punya strategi sendiri dalam berkelahi...” Aleya kembali memperhatikan sekitar. Ia tidak ingin terlalu cepat memutuskan apalagi mengambil tindakan dari informasi yang baru saja ia dapatkan. Setidaknya ia harus mengatakan semua ini pada San Hyuk agar tidak ada bias pendapat.


“Aku benar-benar berharap kita bisa hidup dengan tenang...” lirih Jagad berujar. Entah pada siapa harapan itu ia panjatkan.


“Apa kau benar-benar orang yang aku ingat? Kenapa mendadak terlihat lemah seperti itu? Sebenarnya apa yang kau takutkan?” seingat Aleya, selama ini Jagad lah yang memegang kendali. Tapi entah kenapa hari ini laki-laki itu menujukan sedikit banyak wajah ketakutan dan kekhawatiran.


“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika ibumu keluar dari penjara...” pandangan laki-laki itu jauh menembus gelapnya malam.


“Apa dia akan segera keluar dari penjara hingga kau jadi seperti itu?” Aleya tidak tahu berapa lama vonis yang diberikan pada ibunya. Ia tidak ingat untuk menanyakan itu, ia lebih tidak menaruh rasa penasaran pada sosok yang selama ini tidak ada dalam hidupnya itu.


“Mungkin, dalam waktu dekat? Aku lupa sudah berapa tahun aku melupakannya...” dunia Jagad teralihkan. Ia yang awalnya sangat mendetail dan juga berambisi untuk membuat tameng perlindungan diri terkecohkan oleh kehadiran Luna. Wanita itu seolah-olah telah mencuri semua perhatiannya dari persiapan yang sudah lama ia lakukan.


Jagad sebenarnya bukan tipe laki-laki pencinta wanita. Walau ia banyak dan sering kali berkencan, ia tidak pernah melibatkan hatinya lebih dalam. Tapi berbeda dengan Luna. Semenjak wanita itu muncul di tempat perjodohan, Jagad langsung merasakan aliran yang berbeda yang mengalir keluar dari tubuh mungil Luna. Ada kekuatan yang selalu menariknya untuk melihat dan menyayangi gadis itu.


Hingga sampai titik ini. Jagad tidak memiliki pilihan lain selain mengajak Aleya berdamai. Wanita itu juga terlihat baik-baik saja dan tidak memiliki ketertarikan apa pun pada masa lalu dan keluarganya. Ia bahkan tidak bergeming saat Jagad menceritakan tentang ibunya dan juga masa lalu pahit yang mengikat takdir mereka.


“Apa kau takut ibuku akan mencariku dan menghancurkan keluargamu? Ah..bukan keluarga kita?” Aleya meralat kalimatnya. Walau ia memang berstatus anak angkat, namun lain cerita jika sudah menyangkut sistematika keluarga. Jika diminta untuk memilih pun, Aleya akan memilih Mama dan Papanya dari pada ibu kandungnya.


“Ya...”


“Apa ibu kandungku sosok yang menakutkan?” Aleya penasaran. Ia tidak mengira Jagad akan menciut nyalinya begitu nama ibu Aleya disebut.


“Dia gila dan lebih buruknya ia memiliki seluruh sumber daya untuk menyalurkan kegilaannya,” penjelasan Jagad membuat Aleya merinding. Ia tidak bisa membayangkan seperti apa sosok ibu kandungnya hanya dengan penjelasan itu. Tapi jika itu memang sesuai kenyataan, maka benar sosok siapa pun itu pasti akan sangat menakutkan.


“Apa dia semacam genster?” Aleya hanya bisa terkekeh menanggapinya.


“Kau saja bisa seperti itu, bisa bayangkan asalmu seperti apa?” Jagad tidak bisa memungkiri bahwa Aleya tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih tangguh daripada dugaannya. Percampuran dua bibit gen yang kuat menjadikan Aleya sebagai bibit unggul yang paten. Bahkan Jagad sudah lama mengakui bahwa Aleya jauh lebih cerdas darinya. Itulah mengapa ketakutan yang ada di hatinya berubah menjadi keinginan untuk menekan sikap alamiah dari dalam diri Aleya.


“Lagakmu seperti sudah mengenalku saja...”


“Apa kau juga mengenalku? Kau saja bisa menilaiku seperti itu walau sudah lama tidak bertemu. Yakin sekali bahwa aku tidak berubah?”


Untuk kali pertama keduanya bisa tersenyum dan tertawa tulus. Keduanya saling mengamati wajah masing-masing. Melihat lebih dalam sejauh mana mereka saling mengenal dan mirip satu sama lain.


“Kakak tahu? Kakak benar-benar mirip dengan Han Byeol, itulah mengapa aku awalnya mengira bahwa dia adalah anakmu...” tiba-tiba Aleya ingin menceritakan tentang putranya itu.


“Mana ku tahu. Aku belum pernah bertemu. Apa kau akan mengenalkannya pada pamannya ini?” tanya Jagad setengah bercanda.


“Lihat bagaimana sikapmu nanti...” Aleya juga sebenarnya ingin mempertahankan hubungan seperti ini dalam waktu yang lama. Ia juga ingin hidup tenang dan damai seperti kebanyakan orang.


Jauh dari semua sikap dan perbuatan yang telah terjadi. Sesunguhnya kedua orang ini dekat. Mengerti karekter satu sama lain. Hanya bahasa tubuhnya saja yang berbeda karena menyimpan maksud dan prasangka di hati.