CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 13; Kecewa



“Aku adalah seorang ibu.”


Kalimat yang diucapkan Aleya terus berdengung di telinga San Hyuk. Ekspresi dan rona wajah gadis itu menunjukan tidak adanya kebohongan saat mengatakannya. Tidak ada ruang lagi untuk San Hyuk mengindar.


Tapi apa hal itu mungkin terjadi?


Pikiran San Hyuk benar-benar buntu. Terlebih lagi tidak ada tempat untuk berbagi pendapat. Jika pun itu benar, ia tidak mungkin membeberkan kehidupan pribadi Aleya dengan alasan apa pun. Lalu bagaimana caranya agar ia tetap menjaga kewarasannya?


Semalam suntuk ia tidak bisa tidur. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan bersama Aleya. Ia berusaha mengabungkan berbagai variabel yang mungkin bisa memberinya kejelasan atas sikap-sikap aneh Aleya. Kesimpulan yang didapat justru semakin menguatkan pernyataan Aleya. Sikapnya selama ini seolah menjadi penjelasan atas takdir yang harus dijalani Aleya.


“Aku benar-benar gila kalau seperti ini!”


“Ya, kau benar-benar gila! Sudah berapa botol yang kau habiskan hah?” Yong Nam hanya menatap temannya itu sambil merebut gelas wiski yang hendak diteguknya lagi, “kau tahu bisa mati kalau seperti ini!”


“Hatiku sakiiiitttt…” gumam San Hyuk tidak jelas, “aku ingin bertemu dengannya…aku…” tiba-tiba saja San Hyuk menangis sambil mencengkeram erat bajunya tepat di atas dada. Ada perasaan sesak yang tertahan dan sulit untuk dikeluarkan. San Hyuk meletakan kepalanya di meja sambil terisak pelan.


Yong Nam menghela nafas panjang, ia tahu ada sesuatu yang terjadi dengannya dan Aleya walau masih enggan membaginya. Pasti ada kaitannya dengan perasaan mereka berdua. Ia lalu meraih ponsel San Hyuk yang tergeletak di meja dan memanggil seseorang.


***


“Hallo…” jawab Aleya asal menggunakan bahasa inggris setelah ponselnya berdering tanpa peringatan. Matanya terasa berat karena belum ada satu jam dia memejamkan matanya. Ia melirik ke arah jam yang ada di atas nakasnya. Jam satu dini hari! Siapa yang menghubunginya malam-malam begini?


“Halo, aku adalah pelayan bar, temanmu tidak sadarkan diri di sini, bisakah kau menjemputnya?” Yong Nam yang ada di ujung panggilan sengaja berbohong pada Aleya. Ia ingin melihat seberapa besar kepedulian Aleya pada sahabatnya itu.


“Ini siapa?” sambil berkata demikian, Aleya mengecek nama yang terpampang di layar ponselnya. San Hyuk! Kantuknya seketika menghilang, “Maaf, ada di mana sekarang dia?” tanya Aleya setelah menyadari siapa orang yang dimaksud oleh pelayan bar itu. Ia langsung turun dari tempat tidurnya dan menyambar baju untuk mengganti piayamanya.


“Tolong jaga temanku terlebih dahulu, aku akan segera ke sana!” Aleya segera menutup telepon begitu ia mengetahui keberadaan San Hyuk. Ia buru-buru mengganti bajunya dan berlari ke kamar lain di rumahnya.


“Mbok...” panggilnya pelan. Ia masuk ke ruangan yang ukurannya lebih kecil dari kamarnya dan menyentuh bahu wanita paruh baya yang sedang tidur.


“Mbok, aku keluar sebentar. Ada seseorang yang memerlukan bantuanku,” pamit Aleya.


“Semalam ini, Neng?” Mbok Sari yang baru bangun mencoba melarang Aleya.


“Nggak papa Mbok, aku tinggal sebentar ya?” Aleya langsung pergi begitu Mbok Sari mengangguk pelan. Ia menelepon taksi untuk mengantarnya. Kegelisahan terus saja membebani hati Aleya sepanjang perjalanan. Pasalnya, ia dan San Hyuk sama sekali tidak bertukar kabar setelah pengakuan Aleya beberapa hari yang lalu. Ia juga tidak seperti biasanya bertemu di kampus seolah-olah laki-laki itu sengaja menghindarinya.


Aleya tidak bisa memungkiri kemungkinan perasaan kecewa itu dirasakan oleh San Hyuk. Bagaimana  tidak? Orang yang ia sukai ternyata seorang ibu tunggal tanpa kejelasan status. Ia juga pasti merasa dibohongi oleh sikap Aleya yang tidak jujur. Walau Aleya sudah menduga hal ini akan terjadi, tapi ia tidak menduga situasinya akan sesulit ini. Aleya merasakan rasa bersalah pada San Hyuk karena memberikan harapan fana padanya.


“Bisa menunggu saya sebentar? Saya hanya menjemput teman saya?” pinta Aleya begitu ia sampai di depan bar yang dimaksud.


“Terima kasih!” Aleya langsung berlari masuk ke dalam bar. Ia menoleh ke kanan kiri untuk mencari keberadaan San Hyuk sampai akhirnya ia menemukan laki-laki itu tak sadarkan diri di meja bartander. Ia segera menghampiri San Hyuk untuk mengecek keadaanya.


“Terima kasih. Apa Anda yang mengubungiku tadi?” tanya Aleya sambil memegang bahu San Hyuk, “apa semuanya sudah dibayar?”


“Iya dan billnya sudah dibayar,” pelayan yang sudah diberitahu Yong Nam tentang kedatangan Aleya mengiyakan pertanyaan Aleya. Yong Nam juga sudah membayar bill San Hyuk dan kini mengamati mereka berdua dari jarak aman.


“Saya akan menyuruh staf saya untuk membantu Anda,” tawaran pelayan itu bukan tanpa alasan. San Hyuk memiliki tinggi hampir 190 cm dan Aleya hanya sekitar 165 cm. Ia tidak tega jika harus melihat gadis mungil itu membawa tubuh San Hyuk yang tidak sadarkan diri.


“Terima kasih!” Aleya bahkan tidak berfikir dua kali untuk menerima tawaran itu. Ia benar-benar membutuhkan bantuan agar tidak membuat sopir taksi yang sudah menunggunya tertahan lebih lama.


“Oh, Leya...” gumam San Hyuk setengah sadar begitu mereka berada di dalam taksi. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Aleya, “aku merindukanmu... benar-benar ajaib kau bisa muncul di mimpiku...”


“Mimpi pale lu!” Aleya sengaja mengumpat dengan bahasa Indonesia. Biasanya San Hyuk pandai membatasi porsi minumnya, tapi kini ia mabuk hingga tak sadarkan diri. Aleya tidak bisa mengabaikan hal itu mengingat ia berhutang banyak hal pada laki-laki itu. Tapi setelah ia bersusah payah berusaha memindahkan tubuh raksasa San Hyuk, ia merasa kesal. Kenapa ia tidak sadar diri dengan ukuran tubuhnya dan merepotkan banyak orang. Terlebih lagi, bagaimana Aleya nanti membawa tubuh itu masuk ke dalam rumahnya dengan selamat?


Aleya kembali menghela nafas begitu sampai di depan apartemennya. Ia sudah membayangkan dirinya kepayahan membawa San Hyuk.


“Saya bantu, Nona,” tawar sopir taksi itu menyadari masalah yang dihadapi oleh pelangganya.


“Terima kasih!” Aleya langsung tersenyum lebar. Ia sangat bersyukur dengan bantuan banyak orang hari ini. Aleya bersama-sama memapah tubuh San Hyuk sampai depan lift sesuai dengan permintaan Aleya. Dari sini ia bisa membawa San Hyuk sendiri karena jarak pintu apartemenya dengan lift tidak terlalu jauh. San Hyuk masih bisa berdiri jika ditopang dengan kuat, kalau tidak jalannya limbung.


“Oppa benar-benar!” keluh Aleya. Ia menyandarkan tubuh San Hyuk didinding lift sambil memeluknya dari samping. Keringat sudah membanjiri kausnya sejak keluar dari dalam taksi.


Dengan susah payah Aleya membimbing San Hyuk masuk ke dalam apartemennya. Ia langsung di sambut oleh Mbok Sari yang ternyata tidak bisa tidur saking cemasnya. Kepulangan Aleya bersama seorang laki-laki membuat Mbok Sari terkejut, apalagi laki-laki itu tidak sadarkan diri dalam keadaan mabuk.


“Neng!” teriaknya tertahan.


“Marahnya nanti Mbok! Bantuin Aleya dulu!” Mbok Sari langsung meraih lengan kanan San Hyuk dan membantu Aleya membawa laki-laki asing itu, “bawa ke kamar Aleya!”


Tubuh San Hyuk langsung dijatuhkan begitu saja di atas tempat tidur. Kedua wanita itu saling pandang setelah mengatur nafas masing-masing.


“Mbok jangan lapor siapa-siapa. Dia orang baik, kita tidak boleh mengabaikan orang baik bagaimapun keadaannya kan?” Aleya tersenyum canggung, setengah memohon pada Mbok Sari.


cek visual tipis-tipis!


San Hyuk dulu