
“Anda benar-benar seperti tokoh drama yang biasa saya lihat!” gumam Luna tanpa sadar yang membuat meja itu tertawa spontan.
“Anda terlalu sering melihat drama...” jawab San Hyuk sopan, “semua yang ada di sana hanya fiktif belaka,” Ia melemparkan senyum terbaiknya yang membuat Jagad semakin waspada.
Jagad tidak bisa memungkiri bahwa San Hyuk adalah lelaki yang mempesona. Selain tinggi badannya yang jauh melebihinya, San Hyuk juga memiliki paras yang rupawan. Kekayaan dan jabatan yang tinggi menjadi penyempurna bagi kaum hawa untuk tertaik padanya. Hal ini juga membuat Jagad bertanya-tanya bagaimana bisa sosok seperti itu jatuh hati pada Aleya diluar semua kekurangan yang dimiliki wanita itu.
Tidak hanya itu saja yang menganggu hati Jagad. Kedatangan Aleya hari ini sangat mengejutkannya. Tidak seperti saat ia mengunjunginya di apartemen, Aleya yang ia lihat saat ini sangat bebeda jauh dari gambaran yang ia dapat dari kali pertama berjumpa. Wanita itu benar-benar terlihat memancarkan pesona seperti wanita karir sukses dan mandiri. Gaun yang melekat sempurna di tubuhnya tidak menujukan bahwa ia adalah seorang ibu dengan satu anak.
“Kakak...maksudku adik...ehm... sungguh, aku bingung bagaimana cara untuk memanggilmu Nona Aleya...” tidak hanya pada San Hyuk. Luna juga terpesona dengan sosok Aleya. Bagi Luna, Aleya juga seperti sosok yang muncul dari dalam drama. Ia bahkan tidak seperti orang Indonesia jika tidak melihatnya dengan seksama. Jika dibandingkan San Hyuk memang warna kulit Aleya sedikit lebih gelap. Tapi jika dibandingkan dengannya, kulit Aleya terlihat lebih pucat. Luna sampai penasaran produk kecantikan apa yang membuat wanita itu tampak begitu muda.
“Cukup panggil aku Aleya, Kak Luna...” Aleya tersenyum sopan pada calon kakak iparnya. Lengkungan tipis itu membuat Lena tersipu malu.
“Kak Jagad tidak pernah bercerita tentangmu, jadi aku tidak pernah tahu kalau kakak punya adik...” Luna jelas ingin membuat suasana di antara keduanya mencair. Ia tidak bisa terus-terusan berhadapan dengan Aleya yang terus menunjukan sikapnya yang dingin dan cenderung sedikit sekali berbicara.
“Itu wajar karena aku terlalu lama berada di luar negeri. Kau tidak lihat tatapannya? Ia seperti ingin membunuhku. Hehehe...” ucap Aleya menggoda Luna.
“Jaga bicaramu Aleya...” Krisma tidak suka dengan nada bicara Aleya yang terkesan menyindir Jagad itu. Ia tidak ingin ada api sekecil pun yang terpercik di atas meja makan.
Mungkin di mata Luna semua orang terlihat hangat dan saling melempar senyum. Ia sama sekali tidak melihat sinyal waspada yang dipasang semua orang. Dengan polosnya ia mengajak Aleya dan San Hyuk berbicara.
“Kau tidak paham kalau aku merindukanmu? Bisa-bisanya kau menjadi sosok yang sombong dan melupakan dari mana asalmu, heh!” walau Jagad mengemas kalimatnya dengan nada bercanda, hal itu tak ayal membuat Krisma dan Thomas kelimpungan. Bahkan Thomas belum juga membuka mulutnya setelah ia mendengar kalimat Jagad sebelum Aleya datang.
Tubuh Thomas memang ada di sana, namun beda dengan pikirannya yang melayang entah kemana. Rahasia yang selama ini ia sembunyikan kini seolah berada diujung lidah sang putra. Sampai manakah Jagad mengetahui rahasianya?
Rahang Thomas mengeras, ada fakta lain yang membuat hatinya terbakar oleh emosi. Jika memang Jagad menyadari bahwa Aleya masih saudara seayah dengannya, apa ia dengan sengaja merusak gadis itu?
“DIAM!” tanpa sadar Thomas memukul meja makan dan membuat seluruh pasang mata menatapnya dengan penuh tanda tanya. Kecuali Jagad tentunya.
“Papa...” Krisma tidak menyangka suaminya akan semarah itu di depan semua orang.
“Tidak baik bedebat di atas meja makan. Selesaikan makan kalian, baru setelah itu kita ngobrol dengan nyaman!” menyadari kesalahan yang ia lakukan, Thomas sengaja berdalih dan membuat makan malam itu terasa begitu dingin meskipun hidangan yang disajikan sangat istimewa. Luna bahkan berusaha menahan diri untuk tidak mengomentari setiap makan malam yang disajikan. Ia takut. Ini kali pertama ia melihat calon ayah mertuanya marah.
***
“Di mana putramu?” begitu acara makan malam selesai dan suasana menjadi lebih santai, Jagad langsung duduk di samping Aleya yang duduk di sendiri di counter bar.
“Mau minum apa?” tanya Aleya mengabaikan pertanyaan Jagad. Ia tidak ingin terlihat terintimidasi oleh orang itu.
“Aku tidak menyangka kau akan mempertahankan anak haram itu...”
“Wow..woww...kau sekarang benar-benar bukan seperti Aleya yang aku kenal...” Jagad menyusuri rambut di pipi Aleya sebelum mencengkeram dagu wanita itu dengan telunjuk dan ibu jarinya.
“Kau pikir aku tidak akan berubah setelah kau melakukan hal itu padaku?” Aleya mencengkram pergelangan tangan Jagad dan menyingkirkannya dari wajahnya.
“Aku melakukan apa?” Jagad menaikan sebelah alisnya sambil berpura-pura tak bersalah.
“Ternyata kau tidak bertambah dewasa dan hanya berpegang pada masa lalu itu untuk terus merundungku, cih!” Aleya berdecak dan berpura-pura meremehkan Jagad.
“Aku hanya melakukannya untuk menunjukan rasa sayangku padamu adik kecil...” Jagad kini meraih bahu Aleya dan menepuk-nepuknya pelan.
“Sayang?”
“Apa sayang tidak cukup? Kalau begitu cinta?” mata Jagad semakin berkiliat ketika ia melihat riak perubahan pada wajah dingin Aleya. Apa itu berarti ia berhasil membobol pertahannya.
“Cinta bullshit!” Aleya mengumpat. Walau ini di luar kebiasaannya, ia sangat ingin melakukannya. Jagad lebih licik dari yang ia kira dalam hal memainkan perasaannya.
“Jangan meremehkan cintaku padamu, Sayang!” Jagad mengeratkan cengkramannya di bahu Aleya, “akhirnya aku bisa mencintaimu lagi mulai saat ini...”
“Apa kau gila?”
“Apa salah aku menunjukan rasa cintaku sebagai kakak ke adiknya?”
“Jagad...” tanpa dugaan Robin sudah ada di antara dua kakak beradik itu. Ia menangkap tangan Jagad agar berhenti menekan Aleya. Setelah acara makan malam selesai, para pengawal dan sekretaris sudah diperbolehkan masuk dan ikut menikmati acara makan malam.
“Halo Robin, apa kau begitu merindukannya?” Jagad mau tak mau melepaskan tangannya dari Aleya. Ia bisa melihat wajah sahabatnya yang kini seperti orang linglung. Tidak seperti perangainya tadi pagi yang seolah ingin bertemu saat itu juga, kini Robin bahkan tidak berani menatap wajah Aleya walau mereka sudah sangat sedekat ini.
“Bagaimana makan malam mu Kak Robin?” Aleya menelengkan kepalanya agar bisa melihat wajah Robin. Laki-laki itu terus saja memberikan punggungnya pada Aleya. Ia bahkan tidak menjawab pertanyaannya.
“Duduk!” kali ini ucapan Jagad bernada perintah dari pada tawaran.
“Tidak, aku akan pergi...” jawab Robin masih tetap mengabaikan Aleya.
“Apa yang kau lakukan? Kenapa tergesa-gesa?” Jagad menarik lengan Robin dan menahannya sekuat tenaga, “Aku hanya menyuruhmu duduk di sini. Bukankah ini serasa nostalgia Robin? Bedanya kau dan adikku ini tidak ada di atas ranjang yang sama...”
“Kau!”