
“Han Byeol-a!” suara San Hyuk memecah atmosfer kecanggungan yang mucul di antara Jagad dan Han Byeol. Sambil berlari panik menyusuri lorong, San Hyuk memanggil-manggil nama Han Byeol seperti orang kesurupan. Membuat semua orang menoleh tidak nyaman padanya.
“Appa!” Han Byeol yang melihat itu langsung menyambut langkah San Hyuk sebelum orang tua itu membuat keributan yang tidak perlu.
“Han Byeol-a!” San Hyuk langsung menarik tubuh putranya itu ke dalam dekapannya, “untunglah...” katanya sambil mengusap punggung Han Byeol dengan penuh kelegaan.
Aleya dan Jagad hanya bisa saling melempar pandang. Tidak menyangka akan melihat adegan seperti itu. Dalam hati keduanya ada perasaan hangat yang menyusup, membuat suasana menjadi haru, dan tentu saja penuh dengan rasa syukur melihat hubungan akrab ayah anak itu.
“Apa dia biasanya seperti itu?” tanya Jagad pada Aleya. Image yang dilihat hari ini sangat berbeda dengan yang ditunjukan kali pertama mereka bertemu.
“Tidak, ia biasanya sangat tenang dan tidak seberisik itu...” Aleya menghampiri suami dan anaknya setelah menyuruh Jagad untuk duduk terlebih dahulu. Ia ingin menjadi bagian dari momen yang sangat indah itu.
“Terima kasih...” rasa syukur yang di rasakan Aleya ia tuangkan dalam kata-kata. Ia memeluk kedua laki-laki yang memiliki postur tubuh yang jauh lebih tinggi dan besar ketimbang dirinya dari samping.
“Terima kasih untuk apa?” San Hyuk meraih tubuh Aleya dengan tangan kirinya.
“Semuanya...” jawaban yang diberikan oleh Aleya berbuah kecupan pada pipi wanita itu. Tentu saja San Hyuk akan melakukan apa pun untuk kedua orang yang kini ada di dalam dekapan tangannya itu. Mereka berdua adalah dunia bagi San Hyuk.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tangan San Hyuk kini beralih mengusap memar yang semakin terlihat di wajah Han Byeol. Ia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi pada putranya itu.
“Itu...” belum sempat Han Byeol bercerita, brangkar yang membawa Robin keluar dari balik tirai dan hendak dipindahkan ke ruang rawat inap. Pembicaraan itu mau tidak mau terjeda dan berpindah dari lorong IGD ke ruang rawat yang sudah disiapkan.
Robin terbaring dengan mata terpejam. Dokter memberinya sedikit penenang agar pasien itu beristirahat terlebih dahulu. Darah yang dikeluarkan dari luka di tangan Robin cukup banyak, dua luka bekas sayatan pisau itu masing-masing memanjang hampir 20 jahitan. Belum lagi luka memar lain akibat pukulan benda tumpul. Dokter menyarankan agar pasien menginap paling tidak dua malam agar pemulihannya lebih cepat.
“Tuan, apakah perlu kami melaporkan kasus ini kepolisi?” dokter yang merawat Robin bertanya pada San Hyuk sebelum keluar dari ruangan. Dokter tersebut melihat luka yang diderita Robin tidak normal sehingga perlu menanyakan prosedur ini apabila kedepannya hasil pemeriksaan medisnya bermasalah di meja hijau.
“Tidak perlu, kami akan menyelidikinya dengan tim kami. Seluruh orang yang menangani pasien ini tolong diminta untuk menjaga rahasia. Jika ada apa-apa pengacara dari Suwon Grup yang akan menanganinya,” sepertinya kata Suwon Grup membuat dokter dan dua perawat yang membersamainya tertegun.
“A…apa?” tanya Dokter itu bingung.
“Tolong, bersikap kooperatif…” kata San Hyuk sambil memberikan kartu namanya. Ia bisanya tidak pernah memanfaatkan posisi dan jabatannya, namun kali ini ia tidak memiliki pilihan lain agar kasus ini tidak sampai ke polisi.
“Ba..baik Tuan! Maafkan saya karena tidak mengenali Anda…” dokter itu menjawab cepat begitu ia melihat kartu nama San Hyuk. Ia memang sudah tahu beberapa orang dari Suwon Grup tapi lain halnya dengan San Hyuk. Anak ketiga dari pemilik grup itu cenderung bekerja di balik layar dan jarang tersentuh media massa. Bahkan mungkin banyak yang tidak tahu bahwa San Hyuk bekerja dibidang yang sama dengan kedua saudaranya yang sering keluar masuk majalah bisnis. Begitu juga dengan saudara-saudara lainnya.
“Tidak masalah, bukan menjadi kewajibanmu juga untuk menghafalkan wajahku, hanya saja sampaikan ke tim medis yang menangani pasien malam ini agar tidak membawa masalah ini ke kepolisian, Anda mengerti?” tegas San Hyuk.
San Hyuk menghela nafas panjang. Tiba-tiba masalah ini menjadi rumit. Bukan hanya masalah keluarga yang harus dihadapinya tapi harus ada unsur kekerasan yang harus ia selesaikan. Ia bahkan berpikir bahwa kebersamaan Aleya dan Jagad hari ini sebagai pertanda baik akan perkembangan hubungan mereka.
Ternyata tidak.
Justru kebersamaan keduanya membawa musibah lain. Bahkan yang menjadi korban di sini adalah orang yang bersama Jagad, Robin. Lalu siapa yang menjadi musuh mereka sebenarnya? Sebenarnya apa permasalahannya di sini?
“Apa katanya?” tanya Aleya begitu San Hyuk kembali masuk ke dalam ruangan. Ia melihat ke arah brangkar tempat Robin terbaring dengan tatapan iri. Kali ini bukan dirinya yang bisa menyelamatkan Han Byeol tapi justru orang itu. Orang yang paling tidak diharapkan oleh San Hyuk untuk bertemu dengan Han Byeol. Ia merasa posisinya terancam oleh keberadaan Robin dalam kehidupan Han Byeol.
“Oppa?” Aleya menyentuh bahu San Hyuk yang terlihat kehilangan konsentrasinya.
“Ah, oh, tidak apa-apa, dia hanya perlu menginap dan mengikuti saran dokter,” San Hyuk beralih ke arah sofa tepat dimana Han Byeol dan Jagad duduk saling berhadapan. Keduanya masih canggung dan sesekali mencuri pandang untuk sekedar memperhatikan.
“Sekarang ceritakan pada kami sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana kau bisa bersama Robin?” San Hyuk yang duduk di samping Han Byeol kembali bertanya pada putranya itu.
Han Byeol menatap orang-orang yang perhatiannya kini tertuju padanya. Ia sempat ragu-ragu sebelum akhirnya menjawab, “aku juga tidak tahu…”
“Bagaimana bisa kau tidak tahu? Kenapa kau meninggalkan pengawalmu dan pergi dari tempat bimbingan?” San Hyuk menatap curiga pada Han Byeol. Ia terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.
“Aku…” Han Byeol menatap San Hyuk takut-takut, “ada seseorang yang memberikanku pesan, ia bilang aku harus menemuinya, kalau tidak, Appa…”
“Appa kenapa?”
“Kalau tidak dia akan menyakiti Appa…” jawab Han Byeol lirih.
“Kau tahu itu berbahaya, kenapa kau tidak mengatakannya pada pengawal yang ada bersamamu?” San Hyuk berusaha menahan emosinya melihat putranya yang bisa bertindak seperti itu.
“Dia bilang kalau aku sampai memberitahu mereka, ia akan melakukan sesuatu padamu…” jawaban Han Byeol tidak memberikan kepuasan bagai San Hyuk. Ia masih tidak habis pikir anak itu bisa jatuh pada jebakan seperti itu.
“Sebenarnya siapa yang bilang hal seperti itu hingga kau sangat mempercayainya?” gumam San Hyuk sambil menatap tajam Han Byeol.
“Pak Leo…”
Tiba-tiba ruang inap itu hening.