
Gemletuk suara high heels yang beradu dengan lantai marmer hitam memenuhi lorong panjang bergaya klasik ketika Aleya berjalan melintasinya. Langkah mantapnya terdengar begitu tegas dan kuat. Sosok tinggi semampai dengan kulit kuning langsat itu mengetuk pintu di ujung lorong sebelum membukanya. Ia langsung mendekati meja panjang tempat seseorang menatapnya dengan tajam. Mata elang laki-laki itu tidak lepas menatap wajah ayu Aleya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya San Hyuk begitu Aleya berada di hadapannya.
“Ini di kantor, Ketua Shin...” Aleya mengingatkan San Hyuk yang menggunakan banmal di jam kantor.
“Cih, apa Anda baik-baik saja Aleya-ssi ?” San Hyuk masih sulit untuk menjaga profesionalitas kerjanya dengan Aleya. Walau mereka sudah berteman secara pribadi lebih dari sepuluh tahun, wanita itu selalu menggambar garis yang tegas ketika berada di kantor. Entah itu bagian dari profesionalitas asisten pribadinya atau memang sifatnya yang dingin.
“Saya sedang tidak baik-baik saja,” jawab Aleya jujur. Ia menatap lekat atasannya, berusaha menyampaikan kesungguhannya secara tersirat.
“Kau sakit?” San Hyuk langsung berdiri dan menghampiri Aleya. Tangan laki-laki itu mendarat tepat di dahi Aleya.
“Ketua Shin!” Aleya mundur satu langkah.
“Kenapa sih kau ini?” San Hyuk menghempaskan tubuhnya di atas sofa, “tidak biasanya kau seperti ini. Tingkahmu aneh! Kau bahkan membuat kesalahan di rapat penting seperti itu.” San Hyuk memijat keningnya yang tiba-tiba pusing.
“Maafkan saya, saya akan memperbaiki kesalahan saya secepatnya,” Aleya dengan sigap menggambil air putih lalu memberikannya kepada San Hyuk. Itu salah satu pekerjaannya.
“Bukan itu masalahnya Leya-ya !” kata San Hyuk setelah menenggak satu gelas air putih yang diulurkan Aleya.
“Ketua Shin...” Aleya kembali mengingatkan.
“Duduklah, kita bicara sebentar...” ucap San Hyuk kali ini setengah memohon. Ia menarik ujung lengan Aleya agar duduk di dekatnya.
Aleya tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa menuruti kemauan San Hyuk dan duduk di samping laki-laki itu. Wajah San Hyuk juga menyiratkan kesungguhan bahwa ia juga membutuhkan istirahat dari semua kekakuan hubungan profesional di antara keduanya.
“Apa yang mengganggu pikiranmu? Jangan membuatku takut,” suara San Hyuk melembut begitu Aleya bersedia duduk di sampinya.
“Ini masalah pribadi, tidak seharusnya dibicarakan di kantor.” Aleya menyandarkan bahunya di sofa sambil memejamkan mata. Ia membiarkan tubuhnya rileks sambil mengambil nafas dalam-dalam. Kepalanya masih terasa sakit walau ia sudah meminum obat pereda rasa sakit dari beberapa hari yang lalu.
“Tapi kau membawa masalah pribadimu sampai kantor, sudah sewajarnya kan aku bertanya?” pertanyaan San Hyuk memang benar tapi Aleya tidak berniat menjawabnya. Ia sedang intropeksi diri. Ia benar-benar merasa bersalah telah melakukan kesalahan dengan membawa dan mencopy materi yang salah dalam pemaparan bisnisnya.
“Maafkan aku, aku benar-benar akan memperbaikinya.” Kali ini Aleya menatap San Hyuk sungguh-sungguh.
“Kau benar-benar tidak akan memberitahuku ya?” San Hyuk tidak perlu jawaban. Ia sudah paham bahwa jika Aleya tidak ingin membicarakannya ia akan tetap berada pada pendiriannya.
Aleya lalu pamit undur diri dari ruangan San Hyuk. Ia ingin segera menyelesaikan masalah yang baru saja dibuatnya. Ia tidak ingin meninggalkan pekerjaan yang akan merepotkan rekan kerja lainnya. Tapi baru satu jam Aleya kembali ke mejanya, San Hyuk meneleponnya dari interkom.
“CEPAT KEMBALI KE RUANGANKU!” kata San Hyuk lalu sambungan itu terputus.
“Ada apa Aleya-ssi? Kenapa Ketua marah-marah seperti itu?” rekan kerja Aleya berjalan mendekatinya. Tidak heran jika ia mendengar percakapan itu karena suara San Hyuk terdengar lantang hingga membuat beberapa orang di ruangan menoleh padanya. Hal yang mengherankan lagi karena San Hyuk membentak Aleya. Peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Aku lagi-lagi membuat kesalahan,” Aleya tersenyum tipis sambil menghela nafas perlahan. Ia sudah mengira cepat atau lambat atasannya itu akan murka dengan tindakan yang dilakukan dibelakangnya. Aleya kembali mempersiapkan dirinya sebelum kembali melangkah ke ruangan San Hyuk.
“Apa maksudmu? Sebenarnya kau ini kenapa sih!” San Hyuk tidak bisa menahan amarahnya. Tanpa menunggu Aleya masuk ke ruangan seutuhnya, laki-laki itu sudah melemparkan berkas di atas mejanya. Bahkan sekretaris Kepala Lee bagian HRD masih ada di dalam ruangan sambil tertunduk dalam.
“Anda boleh pergi...” Aleya tersenyum pada sekretaris itu dan menyuruhnya untuk menghindar dari amarah San Hyuk.
“Siapa kau seenaknya menyuhnya pergi!” San Hyuk terlihat mendidih.
“Aku yang melakukannya, tidak sepantasnya Sekretaris Park menerima imbasnya, ia hanya melakukan tugasnya!” Aleya menatap San Hyuk tajam. Saat atasannya itu terdiam, Aleya kembali memberi kode Sekretaris Park untuk meninggalkan ruangan. Laki-laki itu mengangguk dan meninggalkan mereka berdua tanpa menoleh lagi ke belakang.
“Jelaskan padaku, sebenarnya apa maksud tindakanmu ini!” San Hyuk mendekati Aleya begitu Sekretaris Park meninggalkan ruangan.
“Aku hanya melakukannya sesuai dengan aturan yang ada. Aku kira aku sudah melalui prosedur yang tepat,” Aleya tetap tidak bergeming di tempatnya.
“Aku tahu! Aku tahu tapi...” San Hyuk kehilangan kata-kata. Ia tidak tahu bagaimana mengintrogasi Aleya agar wanita itu menceritakan masalahnya. San Hyuk sendiri bahkan tidak tahu apa yang menyebabkan emosinya mendidih.
“Kalau Anda sudah mengerti saya akan pamit.”
“Bukan seperti itu!” San Hyuk buru-buru menangkap lengan Aleya begitu ia berbalik, “Kau melakukan kesalahan yang biasa dilakukan oleh seorang pemula, lalu sekarang kau ingin mengambil cuti? Cuti tanpa batasan waktu? Pasti ada alasan lainnya kan?” tanya San Hyuk frustasi.
Kemarin Aleya langsung mengajukan cuti panjang ke bagian HRD dan meminta mereka untuk mencarikan pengganti sementara. Selain karena masalah pribadi yang bisa menganggangu pekerjaannya, Aleya menganggap bahwa saat ini devisinya sudah mulai stabil. Posisinya bisa digantikan orang lain untuk sementara waktu. Hal ini diperbolehkan mengingat posisi dan jawbatan Aleya dan kerja kerasnya beberapa tahun ini. Sudah sepantasnya jika ia mengambil haknya untuk beristirahat.
“Aku hanya ingin istirahat, ganti suasana...” kilah Aleya.
“Kau pandai dalam segala hal, tapi kau tidak bisa membohongiku,” San Hyuk menatap Aleya nanar, “Apa yang harus aku lakukan, kalau kau seperti ini bagaimana aku bisa berkerja dengan normal?” tanya San Hyuk setengah pasrah setengah memohon. Keberadaan Aleya di sisinya selama ini adalah salah satu kunci keberhasilannya. Ia sudah terlalu tergantung dengan Aleya hingga kepergian wanita itu membuatnya takut.
“Oppa jangan bersikap seperti itu, jangan meremehkan diri sendiri!” Tanpa sadar Aleya berhenti berbicara formal pada San Hyuk. Apa mereka tahu bahwa atasan mereka adalah orang yang suka merengek seperti itu?