
Suara manusia menyerupai dengungan lebah menyelimuti seluruh sudut ruangan. San Hyuk dengan tenang menatap semua awak media yang mulai bertanya-tanya tentang banyak hal. Ia sudah siap dengan semua pertanyaan.
“Silahkan, Anda dipernankan untuk bertanya. Apa pun itu saya akan mencoba menjawabnya sebaik mungkin...”
“Kenapa Anda tidak terlibat bisnis Suwon Grup secara terbuka seperti saudara Anda yang lain?
“Kenapa Anda baru keluar di media sekarang?”
“Apakah ada alasan khusus kenapa Anda tidak diperkenalkan seperti saudara Anda yang lain?”
“Apakah rumor tentang Anda benar?”
“Apakah skandal yang menimpa Anda itu benar?”
Bahkan sebelum selesai melakukan prolog, pertanyaan itu secara bersamaan terlontar dari awak media. San Hyuk mencoba mendengarkannya dengan seksama agar semuanya terdengar sebelum menjawab.
“Tenang Tuan-Nyonya, saya akan membantu merangkum semua pertanyaan sebelum Tuan Shin menjawab...” tidak seperti pengacara Shin yang masih masgyul mendapati situasi yang mendadak ini, Aleya segera mengambil mic dan mulai memandu acara di luar agenda itu.
“Asisten Aleya, anda bisa menggunakan ini...” salah seorang media yang dikenal Aleya memberikan tabletnya. Ia sudah mengenal Aleya berkat beberapa press release yang dikeluarkannya dari devisi yang dikelola oleh San Hyuk. Selain Aleya adalah asisten pribadi, ia juga merupakan bagian humas di devisinya yang menangani pemberitaan dan juga relasi perusahaan.
“Terima kasih...” Aleya menerima tablet itu dengan senang hati. Ia tidak membawa peralatan digital apa pun saat datang kemari juga tidak menyangka akan ada acara seperti ini sebelumnya. Ia berpindah posisi di samping kanan San Hyuk sambil menyebutkan kembali pertanyaan yang sempat dilontarkan.
“Baiklah, saya akan memulai menjawab pertanyaan. Cukup dengarkan cerita saya sebelum kembali bertanya, tidak usah terburu-buru. Waktu kita tidak terbatas dan saya akan melayani semuanya semaksmialnya,” San Hyuk membasahi kerongkongannya sebelum meceritakan cerita panjang ini.
“Saya dari awal memang tidak berniat bergabung dengan Suwon Grup. Tentu saja, karena pada waktu itu hal yang menjadi cita-cita saya tidak ada di dalam bidang usaha Suwon,”
“Saya baru masuk ke Suwon Grup belum terlalu lama dan membangun sebuah devisi kecil di bidang konstruksi. Perubahan pemikiran saya bukan tanpa alasan. Saya mengajukan syarat pada Suwon sebagai kesediaan saya bergabung dengan Suwon. Apa syarat itu?”
“Syarat itu adalah hal yang menjadi kerikil yang mengajal di pikiran Anda semua hari ini. Saya bersedia masuk ke Suwon dengan syarat tidak ada yang boleh ikut campur dalam urusan pernikahan saya. Saya meminta kebebasan untuk memilih siapa pun yang akan menjadi pendamping hidup saya dan mendirikan devisi saya sendiri,”
“Kenapa Anda merahasiakan pernikahan Anda?” ada seseorang yang tiba-tiba menyahut. Aleya berusaha menahannya namun San Hyuk memberikan kode pada Aleya untuk membiarkannya. Sepertinya pertanyaan tentang kehidupan pribadi San Hyuk lebih menarik daripada saham Suwon Grup.
“Pertanyaan Anda perlu saya revisi. Tolong garis bawahi semua ini. Saya atau pun keluarga saya tidak pernah merahasiakannya. Tapi kami hanya tidak membicarakannya, toh itu adalah masalah pribadi, selain itu tidak ada yang bertanya pada saya selama ini. Padahal saya selalu mengenakan cincin pernikahan saya...” San Hyuk mengangkat jari manisnya dan melepas cincin itu, tujuannya adalah untuk memperlihatkan tanda perbedaan warna kulit yang menunjukan pemakaian cincin yang sudah lama, “lihatlah bekasnya...”
San Hyuk kembali mengenakan cincin itu dengan hati-hati, “Saya kira saya bebas dengan kehidupan pribadi saya. Terkait dengan harga saham perusahaan, saya tidak terlalu banyak menjawab atau pun ikut campur. Biarkan urusan tim perencanaan yang menanganinya karena saya tidak memiliki hak terhadap hal tersebut. Pengaruh saya tidak sebesar itu pada perusahaan, saya hanya karyawan biasa yang menduduki jabatan sebagai ketua devisi. Apabila merugikan perusahaan mereka bisa dengan leluasa memecat saya,” San Hyuk mengatakan hal yang sebenarnya. Walaupun CEO di bidang usaha konstruksi tapi ia hanya karyawan biasa seperti CEO lainnya.
“Ketua Shin, apakah orang yang Anda nikahi adalah seorang public figur atau malah orang biasa?”
“Bukan, ia bukan public figur maupun orang biasa. Ia adalah orang luar biasa yang tidak ada seorang wanita pun yang dapat menggantikannya. Jika bukan dia, mungkin saya tidak bisa seperti saat ini.” San Hyuk tersenyum malu mengakuinya di depan umum seperti itu. Ia bahkan tidak berani melirik ke arah Aleya.
“Tapi Anda selalu sendiri dalam jamuan atau pun pertemuan resmi. Bukankah itu artinya Anda merahasiakan istri Anda?” ada yang tidak terima dengan pernyataan San Hyuk.
San Hyuk hanya mengangkat sudut bibirnya. Ia selalu membawa Aleya ke mana pun ia pergi. Pertanyaan jebakan itu bahkan tidak bisa menikung argumennya.
“Itu tidak benar. Sekarang saja Anda semua bahkan melihat istri saya,” sementara semua mata media melemparkan pandangan ke sekeliling ruangan, Aleya melotot ke arah San Hyuk. Tidak menyangka suaminya itu senekat itu. Ia bahkan tidak memiliki perisapan apa pun untuk menjawab pertanyaan media.
“Tuan...” Pengacara Kim hendak menghentikan kegilaan San Hyuk hingga ia menyadari tatapan Aleya yang melototi San Hyuk dengan berani.
“Apa Tuan, Asisten...” Pengacara Kim yang kini tidak bisa berkata-kata menyadari kebodohannya.
“Sebenarnya apa maksud Anda, Tuan Shin?” media yang tidak menangkap kode yang diberikan San Hyuk protes, mereka bukanlah orang yang patut untuk dipermainkan.
“Saya tidak memiliki maksud apa pun. Saya hanya bicara sejujurnya. Tolong saya minta Anda semua berjanji pada saya tidak akan membocorkan data pribadi istri saya sebagai konsumsi publik. Saya tidak segan-segan menuntut secara hukum apabila nama istri saya ada di media cetak atau online besok pagi. Terima kasih!” San Hyuk mengabaikan pertanyaan yang kembali di lontarkan oleh awak media.
“Kau urus sisanya!” sambil mengatakan perintah itu pada Pengacara Kim, ia menggenggam tangan Aleya dan menariknya pergi dari sana. Gestur simpel yang diberikan oleh San Hyuk membungkam semua orang. Mereka hampir tidak mempercayai penglihatannya saat San Hyuk merangkul dan mengawal Aleya hingga ia tidak sampai terkena jepretan kamera.
Pengacara Kim tidak akan mengulangi kesalahannya dengan mengabaikan pekerjaannya lagi. Ia langsung berdiri dan menggiring media untuk kembali duduk dan memastikan mereka tidak lagi mengambil gambar San Hyuk dan Aleya. Ia mencoba menuntaskan semua pertanyaan dengan semampunya mengingat kepalanya sendiri pening memproses semua informasi yang baru saja diterimanya.