CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 35; Ini Akan Sangat Menyenangkan



“Apa kau tidak merindukanku?”


Aleya mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki dan membalas tatapan mata Jagad dengan lebih berani. Batinnya mungkin bisa saja mencicit ketakutan tapi ia tidak ingin menunjukannya pada Jagad.


Aleya bukanlah gadis belasan tahun yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Ia kini orang dewasa yang memiliki hak atas dirinya sendiri.


“Aku tidak menyangka Kakak akan repot-repot datang kemari untuk menyapaku...” Aleya berdiri setelah memastikan Woo Jin bisa duduk sendiri. Pria itu sempat menahan Aleya namun nyonyanya itu mengabaikannya.


“Karena aku tidak sabar ingin melihat adikku yang kurang ajar...” Jagad maju dan langsung memeluk tubuh Aleya, “tak hanya kau yang tumbuh dewasa, nyalimu juga sepertinya tumbuh besar hingga kau berani mengabaikan kakakmu satu-satunya.”


“Aku tidak mengabaikanmu...” di luar dugaan Jagad, Aleya justru membalaspelukannya. Ia memilih memberi sambutan hangat pada sosok yang sudah lama tidak ditemuinya itu. Selain untuk tidak menyulut amarah pada diri Jagad, Aleya juga ingin membaca niat laki-laki itu. Maka ia berusaha keras untuk menahan ketakutannya dan membiarkan kakaknya itu melakukan apa yang ia inginkan, “aku ingin menyiapkan sambutan yang layak. Bukannya kakak datang bersama calon kakak iparku? Bagaimana bisa aku menyambut kalian dengan hal biasa dan tanpa persiapan?”


“Kau cemburu?” Jagad melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah Aleya.


Jagad tidak bisa memungkiri bahwa Aleya tumbuh dengan sangat baik. Wajahnya hampir bisa dikatakan tidak berubah, hanya garis tegas wajahnya yang kini menunjukan kedewasaan yang semakin jelas. Kulit Aleya juga lebih halus walau sedikit lebih pucat. Ia tidak bisa memungkiri bahwa Aleya tumbuh menjadi wanita dewasa yang sempurna dari segi penampilan.


“Untuk apa aku cemburu, kau kan kakakku...” Aleya tersenyum tulus walau penekanan jelas ia berikan di akhir kalimat, “bagaimana kabarmu?”


Jagad kembali menyingrai melihat adiknya yang begitu berani membalas pelukan dan menatap matanya dengan begitu hangat. Ia membayangkan bahwa Aleya akan ketakutan bahkan sampai melarikan diri. Itulah mengapa Jagad membawa serta orangnya untuk menangkap Aleya apabila ia sampai kabur darinya. Apa yang membuatnya terlihat begitu tenang?


“Tentu saja sangaat buruk...” Jagad menelusuri garis wajah Aleya dengan ujung jemarinya, “adik yang sangat aku cintai tidak merasakan hal yang sama dengan apa yang aku rasakan. Aku sangat menderita karena tidak melihatmu bergitu lama, tapi kau? Kau bersenang-senang dengannya?” tatapan Jagad terlihat meremehkan Woo Jin yang kini hanya bisa menahan rasa sakitnya tanpa sedetik pun berhenti waspada.


“Tentu saja tidak, seleraku sangat tinggi...” Aleya mengedarkan tatapannya, ia baru menyadari ada sosok lain yang ia kenal berdiri di ujung pintu apartemennya. Bebeda dari dua orang lainnya yang tidak ia kenali, laki-laki yang memiliki tubuh lebih tinggi dari Jagad itu sepertinya juga mengenali Aleya namun ia sengaja menjaga jarak dan tidak berani menatap wajah Aleya.


“Oh, aku sepertinya mengenalmu...senang sekali bisa melihat orang-orang yang tumbuh bersamaku...Kak Robin...” Aleya sengaja menyapa sosok lain yang tidak mungkin ia lupakan begitu saja. Robin dan Jagad merupakan teman lama. Tidak seperti Jagad yang memiliki kepribadian yang begitu terbuka, seingat Aleya, Robin adalah sosok dingin yang selalu berdiri tenang di belakang Jagad. Ia bagaikan banyangan sekaligus senjata bagi Jagad. Robin juga memiliki hati dan tangan yang dingin, tidak sengan ia memukul orang lain bahkan jika itu wanita sekali pun.


Aleya berjalan mendekati pria yang sedari tadi mengalihkan perhatian itu dengan berani. Ia berhenti tepat di depan Robin dan mengulurkan tangannya. Aleya memberi isyarat agar Robin membalas jabat tangannya.


“Lama tidak bertemu...” Robin mundur satu langkah ketika Aleya mendekatkan wajahnya ke telinga Robin. Ia juga melepaskan tangan Aleya dengan sedikit kasar. Perlakuan Aleya sangat mengejutkannya.


“Aku tunggu di mobil!”


“Mau ke mana kau!” teriak Jagad menghentikan langkakh Robin. Tapi belum sampai langkah kelima, Robin kembali mendekat ke arah Jagad dan memasang kuda-kuda.


“Aku tidak apa-apa, urus Woo Jin, ia sepertinya mengalami luka yang cukup serius,” Aleya dengan tenang memberikan perintah padanya.


“Apa yang kau lakukan hingga kau bisa begitu banyak menyewa orang bayaran seperti ini?” Jagad menatap orang-orang yang ada di sekeliling Aleya dengan waspada. Sosok yang kini sedang menyilangkan tangan di dada itu nampak bukan seperti adiknya yang ia kenal.


“Perusahaanku memberikan jaminan keamanan pada pegawainya dan Kakak telah menyentuh salah satu orangku...” Aleya melihat Woo Jin yang sudah di bawa keluar oleh dua orang rekannya, “sepertinya kita bicarakan besok lagi, aku harus merawat orang itu sebelum terjadi masalah yang lebih besar.” Kali ini nada Aleya setengah mengancam.


Jagad tertawa keras mendengar ucapan Aleya. Ia lalu bertukar pandang dengan Robin sebelum akhirnya beranjak dari sana. Ia tidak ingin menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu, “kau benar-benar sudah besar kini hah? Ini akan sangat menyenangkan...” bisik Jagad sebelum akhirnya ia meninggalkan Aleya sendiri.


“Sampai bertemu lagi...” kata Aleya sebelum kakaknya menghilang.


“Selidiki siapa orang-orang itu...” desis Jagad sambil meninggalkan Aleya dengan perasaan gamang. Ia tidak menyangka bahwa adiknya yang begitu penakut itu kini berubah menjadi sosok yang tidak bisa ia tebak. Mungkin waktu 15 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk membuat orang benar-benar berbeda.


Begitu Jagad menghilang dari jangkauan pandangannya, tubuh Aleya langsung luruh ke lantai. Kakinya bergetar hebat menahan semua tekanan batin yang bergumul di dalam dirinya. Ia memejamkan mata untuk mengantur nafas dan menenangkan dirinya. Aleya tidak menyangka bahwa pertemuan itu akan datang secepat ini dengan cara yang tak terduga.


“Nyonya...”


“Aku tidak apa-apa...” Aleya menolak tawaran bantuan dari sang pengawal.


“Mom...” Han Byeol yang menyadari sudah tidak ada suara lain di luar kamarnya juga sudah menghampiri ibunya. Ia mengusap bahu dan ibunya penuh kekhawatiran.


“Mom tidak apa-apa, hanya sedikit terkejut...” Aleya membuka matanya demi meyakinkan putranya itu, “kau pasti ketakutan...”


“Tentu saja, aku takut Mom kenapa-napa...maafkan aku...” Han Byeol merasa bersalah karena belum bisa menjadi sandaran ibunya. Ia juga kecewa karena merasa gagal melindungi ibunya.


“Tidak, kau tau kau sangat berharga untukku...” Aleya bisa membaca apa yang menjadi pikiran anaknya. Ia ingin meyakinkan Han Byeol bahwa hal yang paling penting adalah keselamatannya.


“Sayang...” San Hyuk baru saja datang. Nafasnya tersengal setelah berlari sekuat tenaga untuk mencapai Aleya secepat yang ia bisa, “kau baik-baik saja?”


“Sepertinya Oppa yang jusru terlihat mau mati...” Aleya terkekeh melihat San Hyuk yang kesulitan bernafas, “aku baik-baik saja...duduklah terlebih dahulu.”