
“Itulah yang membuatku diam-diam mengambil rencana studi ke luar negeri. Mungkin itulah mengapa ia sampai marah denganku dan melakukan semua itu padaku...”
Aleya tidak bisa menutupi ketakutannya. Terlebih lagi Aleya takut kakaknya itu akan menyentuh Han Byeol ataupun San Hyuk.
Kekhawatiran itu yang membuat Aleya harus jujur pada San Hyuk. Ia lah satu-satunya orang yang bisa melindungi Han Byeol selain dirinya.
“Itu kombinasi yang paling absrud yang pernah ku dengar,” San Hyuk kembali menarik Aleya agar mereka tidak berdiam diri terlalu lama, udara malam semakin dingin dan berdiam diri bukanlah hal yang dapat membantu.
“Sebesar apapun cinta yang dimiliki manusia, tidak seharusnya ia melewati batas-batas dalam mengekspresikannya,” kalimat San Hyuk sarat akan makna yang ia terapkan pada dirinya sendiri selama bersama dengan Aleya. Ia tidak ingin ada beban apalagi paksaan pada wanita itu untuk menerima cintanya dulu.
“Itu tidak bisa membenarkan apa yang salah juga...” San Hyuk lagi-lagi hanya bisa meredam kemarahannya dan menahan diri untuk tidak terbakar dendam. Ia belum pernah bertemu dengan Jagad. Ia juga tidak tahu apakah laki-laki yang sekarang adalah kakak iparnya itu sudah berubah atau belum.
“Jika dia akan menikahi wanita lain, apakah itu sudah sedikit meringankan ketakutan dalam hatimu? Bukankah itu pertanda bahwa ia sudah berpaling dengan wanita itu?” pertanyaan San Hyuk tidak bisa dijawab begitu saja oleh Aleya. Ia juga sudah memiliki pemikiran itu namun ternyata hal itu tidak dapat menjamin apa pun. Ia tidak tahu kabar tentang Jagad dan tidak tahu seperti apa sifat laki-laki itu sekarang.
“Aku hanya bisa berharap hal yang sama...” jawab Aleya tidak yakin.
“Baiklah...” San Hyuk sudah cukup bisa membayangkan bagaimana sosok Jagad ini. Ia tidak perlu menoreh lebih lama luka hanya untuk sekedar bertanya.
“Berhati-hatilah...” melihat wajah San Hyuk yang terkesan santai justru semakin membuat Aleya khawatir. Ia tidak ingin San Hyuk meremehkan Jagad.
“Tentu saja...” sebelum keduanya masuk ke dalam rumah San Hyuk penasaran akan sesuatu, “menurutmu, apakah orang itu lebih kaya dariku?”
“Pertanyaan macam apa itu?” Aleya tidak paham ke mana arah pembicaraan San Hyuk yang terkesan ngawur.
“Jawab saja...”
“Mungkin, Oppa?” Aleya tidak yakin, ia sengaja tidak mencari tahu perkembangan bisnis keluarganya. Walaupun sama-sama kaya, tapi jika dibandingkan dengan San Hyuk, mungkin keluarganya bukan apa-apa.
“Kalau begitu kau tidak perlu merasa cemas...” San Hyuk tidak bermaksud memamerkan kekayaannya. Ia bahkan akan meminta tolong ayahnya jika ia kurang kaya untuk menghadapi laki-laki itu. Ini bukan masalah banyaknya uang yang dimiliki namun seberapa luasan wilayah yang bisa digunakan untuk melindungi.
“Sombong!” Aleya berjalan mendahului San Hyuk untuk masuk ke kamarnya. Ia harus minum obat dan istirahat lebih banyak agar cepat pulih.
“Eh, Oppa mau ke mana?” Aleya bingung saat San Hyuk mengekorinya masuk ke dalam kamarnya. Ia baru saja hendak menutup pintu saat San Hyuk berdiri tepat di belakangnya.
“Tidur, tentu saja, kenapa?”
“Iya, kamarmu juga kamarku kan? Kau lupa? Kita suami istri, akan sangat aneh jika kita memiliki kamar masing-masing!” San Hyuk terkekeh geli melihat ekspresi Aleya.
Aleya tidak bisa berkata-kata dan hanya diam saja saat San Hyuk memasuki kamar terlebih dahulu dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur king size. Aleya tadi hanya membatin bahwa tempat tidur itu terlalu besar jika ia tempati sendiri. Kini tempat tidur itu terasa begitu sempit jika harus ditempati mereka berdua.
“Kenapa? Ini bukan kali pertamanya kan kau tidur denganku?” goda San Hyuk.
“Pelankan suaramu!” Aleya buru-buru menutup pintu agar suara San Hyuk tidak terdengar oleh orang lain. Wajahnya sudah bersemu merah mengingat memori saat mereka melakukan kunjungan dinas bersama orang tua mereka. Tidak mungkin bagi keduanya untuk menyewa kamar sendiri-sendiri.
Kali ini San Hyuk menang. Senyum lebarnya tidak purna saat mengamati pergerakan canggung Aleya. Wanita itu baru saja mengganti bajunya dengan gaun tidur yang dibelikannya. Setelahnya ia duduk di depan meja rias sambil mengoleskan krim wajah sebelum meminum obat yang sudah San Hyuk siapkan.
Laki-laki itu menahan dirinya untuk tidak memaksakan kehendaknya dan memilih menikmati setiap detik kebersamaannya dengan Aleya. Matanya tidak ia alihkan sedikit pun dari gerak gerik Aleya di dalam kamar yang kini akan di tempati mereka berdua. Impiannya pelahan-lahan mulai berjalan mendekatinya.
“Apa Oppa akan melihatku seperti itu terus?” Aleya tidak bisa untuk tidak bertanya. Punggungnya serasa berlubang karena ada seseorang yang tidak henti melihatnya. Bahkan saat ia duduk di depan meja rias, ia bisa melihat San Hyuk yang menatapnya bagai sebuah mangsa.
“Seperti apa?” tangan kanan San Hyuk menarik tangan Aleya yang berdiri canggung di tepi ranjang. Sedangkan tangan kirinya langsung menyambut tubuh mungil Aleya agar tidak ada lagi jarak antar keduanya.
“Seperti ingin menyerangku dan menelanku bulat-bulat...” pipi Aleya memanas saat mengatakannya. Ia kini sudah berada dalam pelukan laki-laki itu. Pipinya sempurna menempel pada dada bidang yang kini menggemakan debaran jantung yang berirama tegang.
“Kau tahu itu...” San Hyuk mengeratkan pelukannya dan menciumi puncak kepala Aleya yang kini ada dalam jangkauan tangannya, “aku tentu saja ingin melakukannya, tapi tidak malam ini. Kau harus beristirahat agar kembali sehat.” San Hyuk tahu diri dan paham benar bahwa kondisi kesehatan Aleya yang paling utama.
“Kalau Oppa ingin aku beristirahat kenapa tidak membiarkanku tidur sendiri?” Aleya mencoba melepas pelukan San Hyuk dengan mendorong dada laki-laki itu.
“Kau harus terbiasa, kita harus membiasakan diri untuk melakukan semuanya bersama, bahkan tidur sekalipun...” San Hyuk kembali menarik Aleya ke dalam pelukannya. Berbeda dengan ucapan tenangnya, semakin lama San Hyuk sadar, pertahannya semakin rapuh. Ia ingin segera mengakhiri penderitaannya dengan mendorong rasa kantuk untuk menguasi dirinya.
“Baiklah...” Aleya menuruti perintah San Hyuk dan kembali membenamkan wajahnya di antara dua tangan yang kini memeluknya erat. Aleya membuat dirinya rileks dengan mengisi sepenuhnya rongga di paru-parunya dengan aroma yang selalu melekat di tubuh San Hyuk. Ia terlena dengan aroma itu dan tanpa sadar hidung dan bibirnya menyentuh permukaan kulit San Hyuk yang tak dihalangi oleh baju tidurnya.
Sentuhan langsung itu membuat San Hyuk membuka matanya lebar-lebar. Ada aliran yang membuat tubuhnya mengelijang. Ia mendorong tubuh Aleya agar tidak terlalu dekat dengannya. Tapi bukannya menjauh, Aleya yang kini setengah sadar karena pengaruh obat justru semakin merapatkan tubuhnya.
“Oh Boy! Sialan!”
Harapan San Hyuk untuk tidur dengan tenang malam ini sepertinya sia-sia