CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 21; Antar laki-laki



“Tatapan mata Eomma…” Han Byeol meremas jemarinya, “ada  ketakutan yang tersirat di matanya dan Eomma tidak hanya sekali terkejut jika aku muncul tiba-tiba di sampingnya. Seolah aku adalah seseorang yang tidak diharapkan ada di dalam hidupnya…”


“Omong kosong macam apa itu. Kau jelas tahu kalau kau sangat berharga bagi kami,” potong San Hyuk.


“Bukan itu maksudku Appa,” Han Byeol begitu kesulitan saat ini menjelaskan maksud hatinya. Ia takut jika rasa penasarannya hanya akan melukai hati ayahnya, “aku mengira, setelah aku tumbuh,aku semakin mirip dengan seseorang. Itulah mengapa aku memiliki firasat bahwa aku bukan anak kandung Appa.”


“Jika kau bukan anak kandung Appa, apa kau akan membenci Appa?” San Hyuk juga tidak ingin menyembunyikan fakta itu jika suatau saat Han Byeol menanyakannya. Tidak ada alasan untuk berbohong, ia tidak pernah berbohong pada Han Byeol apalagi tentang cintanya pada anak itu.


“Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa aku membenci Appa!” tegas Han Byeol.


“Cepat atau lambat kau pasti sadar Byeol-a....” San Hyuk mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya, “Benar, kau bukan anak kandung Appa. Terus kenapa? Appa yang selama ini membesarkanmu, menyayangimu, jika orang yang kau maksud itu muncul dihadapanmu, apa kau akan mengkhianati Appa dan pergi ke orang itu?” pertanyaan San Hyuk langsung dijawab dengan pelukan oleh Han Byeol. Di atas semua rasa penasaran dan kenyataan yang sebenarnya dibalik kelahirannya, ia sudah menanamkan pada dirinya sendiri bahwa San Hyuk adalah ayah terbaik yang ia miliki. Bahkan sifat San Hyuk yang jujur dan apa adanya itu terlihat sangat keren. Sudah sejak lama San Hyuk menjadi pahlawan di mata Han Byeol.


“Appa tahu kau tidak berniat sedikit pun untuk menyakiti Appa, untuk itu lepaskan ini! Appa tidak bisa bernafas! Kau tidak sadar kalau sudah besar hah?” San Hyuk mendorong kepala Han Byeol setengah bercanda. Tidak heran memang, dalam waktu satu tahun terakhir, pertumbuhan Han Byeol sangat luar biasa. Kini tingginya saja sudah hampir 180 cm. Anak kecil yang dulunya hanya setinggi lututnya itu kini tingginya sudah hampir menyamainya. San Hyuk sendiri hampir tidak mempercayainya jika ia sudah bersama anak itu dari ia berumur satu tahun hingga kini usia 15 tahun kalau tidak melihat perubahannya.


“Appa memiliki banyak uang kan? Apa aku melakukan operasi plastik saja ya...” tanya Han Byeol yang langsung dibalas dengan sentilan di telinganya.


“Jangan aneh-aneh! Kau sudah sangat tampan!”


“Aku tahu kalau aku tampan...”


“Kau tidak punya pacar kan?”


“Tidak!”


“Awas saja kalau kau sampai punya pacar tanpa izin dari kami!” San Hyuk sangat ketat dengan urusan ini. Ia bukan berarti melarang Han Byeol untuk pacaran. Hanya saja ia ingin Han Byeol tetap berada di bawah pengawasannya.


Percakapan keduanya terhenti saat pesanan makanan mereka datang. Tanpa menunggu lagi keduanya mulai menikmati makan malam mereka di dalam bangsal perwatan Aleya. Han Byeol sempat menolak dan berkata kalau ia tidak berselera, namun lagi-lagi ia tidak bisa mendebat San Hyuk dan mulai memakan makanannya.


“Apakah Eomma dan Appa tidak saling mencintai?” tanya Han Byeol disela makan malam mereka.


“Kami saling mencintai, tentu saja!” jawab San Hyuk tanpa ragu.


“Tapi kenapa kalian tidak terlihat mesra? Kenapa kita tidak tinggal bersama?” pertanyaan ini bukan sekali dua kali Han Byeol tanyakan. Keluarganya sangat aneh karena ayah dan ibunya memiliki rumah masing-masing padahal mereka berdua adalah pasang suami istri.


“Ya...” harapnya.


“Masalah mesra atau tidak, apa kau ingin kami bermesraan di hadapanmu? Kami selalu menggunakan kamar dan tidur bersama jika kami melakukan perjalanan bisnis...” San Hyuk sengaja menurunkan volume suaranya untuk menggoda putranya yang kini semakin dewasa itu.


“APPA!” Han Byeol mendorong wajah San Hyuk yang terlalu dekat dengan telinganya. Wajah anak itu merona saat digoda oleh San Hyuk. Kini ia sudah mulai paham maksud ayahnya.


“Kan kamu yang tanya tadi!” San Hyuk terkekeh geli. Walau ucapannya tidak sepenuhnya benar, tapi ia tidak ingin Han Byeol khawatir dengan hubungan keduanya.


“Aku hanya ingin kalian bahagia...” ada harapan dalam kalimat Han Byeol. Ia sempat berfikir bahwa hubungan aneh ayah dan ibunya disebabkan oleh kehadiran dirinya di tengah-tengah mereka. Ia tidak ingin menjadi batu penghalang yang menghalangi kebahagiaan orang tuanya.


“Salah, Appa ingin kita bertiga bahagia...” ralat San Hyuk.


Perkataan San Hyuk membuat Han Byeol tidak bisa berkata-kata lagi. Ia diam-diam menghapus air mata yang hendak jatuh dari sudut matanya. Ia malu telah memiliki banyak pikiran negatif. Ia juga bersalah karena menyangsikan cinta kedua orang tuanya beberapa akhir ini.


“Jangan menangis, kita semua akan bahagia...” San Hyuk mengatakannya sambil lalu. Ia ingin memberi ruang berpikir pada Han Byeol untuk melihat masalah ini dengan sederhana. Ia ingin meyakinkan anak itu bahwa ini bukanlah hal yang akan membuat perasaan cintanya berkurang pada Han Byeol.


“Appa akan meminta pendapat eommu terlebih dulu. Memang benar kami sudah menikah, tapi Appamu ini menantu yang buruk karena belum menyapa orang tuanya di Indonesia. Oleh karena itu kami masih pada prinsip masing-masing. Wajar saja kalau kamu menganggap kami berdua aneh. Tapi hal seperti itu tidak perlu kau pikirkan. Kebahagianmu adalah hal utama bagi kami, karena itulah kami menikah...” jelas San Hyuk.


“Mungkin jika orang itu benar-benar muncul, akan ada banyak kekacauan. Tapi perlu Appa ingatkan, apa pun keputusan yang kau ambil, jangan pernah sekalipun menyangsikan ucapan eommamu. Kau tidak boleh lupa bahwa yang membelamu hidup dan mati adalah eomma. Kau boleh membuang Appa, tapi kau tidak boleh melakukannya pada Eomma. Kau mengerti?” walau berat San Hyuk mengucapkan pesan itu, tapi ia tidak memiliki pilihan lain. San Hyuk mungkin masih bisa bertahan, tapi jika Han Byeol sampai meninggalkan Aleya, wanita itu bisa mati kapan saja.


“Itu mana mungkin ku lakukan...” Han Byeol kembali memeluk tubuh San Hyuk. Walau sudah besar, memeluk San Hyuk adalah hal yang begitu ia sukai. Karena tubuh San Hyuk yang tinggi, Han Byeol selalu merasa menjadi anak-anak dalam jangkauan tangan San Hyuk.


“Rahasiakan percakapan malam ini, Eomma tidak perlu tahu. Ia hanya perlu tahu kalau kita berdua mencintainya...” pesan San Hyuk pada putranya itu.


“Ini pembicaraan antar laki-laki kan maksud, Appa?” Han Byeol terkekeh, ia merasa senang bahwa kini ayahnya sudah menganggapnya tambah dewasa.


“Bisa dibilang begitu?”


“Saranghae...” bisik Han Byeol.


“Eommamu akan cemburu nanti!” San Hyuk membalas pelukan putranya seperti yang ia lakukan ketika masih kecil dulu, “Na do saranghae.” Aku juga sangat mencintaimu Shin Han Byeol.