CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 37; Kau Menghamilinya



“Dari mana?” Thomas menghadang Jagad di depan pintu kamar. Laki-laki tua itu sudah menunggu anaknya lebih dari lima menit setelah panggilannya tidak di respon sama sekali.


“Jalan-jalan sebentar, tidak mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru kan?” Jagad sudah menyiapkan rencana sebelum ia pergi dari hotel. Ia menyuruh orangnya untuk berjalan-jalan di taman seolah-olah itu dirinya. Mereka juga bertukar baju sebelum Jagad kembali ke kamar. Itulah mengapa Jagad hanya terlihat menggunakan celana pendek dan sandal hotel untuk lebih meyakinkan Thomas.


“Kau tau kan kalau aku percaya padamu?” pertanyaan Thomas sudah barang tentu mengarah ke masalah Aleya.


“Cih!” Jagad mendecak. Ia tidak menyangka ayahnya akan seprotektif itu dengan Aleya, “Papa tahu kan kalau aku benar-benar menyukai Luna. Kalau Papa menyuruhku untuk berhenti menyukai Aleya, bukankah itu yang paling mustahil? Papa menyuruh kakak untuk tidak mencintai adiknya?” nada ucapan Jagad sangat kontradiktif dengan apa yang dikatakannya.


“Kau lebih baik menjaga jarak dari adikmu itu!” kalimat Thomas bernada ancaman yang jelas.


“Begitu cintanya Papa dengannya hingga anak kandungmu ini sampai kehilangan cinta Papanya? Tega sekali!” Jagad mendengus kesal.


“Kau yang membuatku bersikap demikian! Kalau saja kau…” Thomas menghentikan kalimatnya. Ia tidak ingin siapa pun mendengar aib keluarganya. Terlebih lagi ada Luna di sini. Ia tidak ingin calon anak mantunya mengetahui bahwa Jagad pernah melakukan perbuatan keji dengan adiknya sendiri.


“Aku apa? Tidak mencintai Aleya?” Jagad terkekeh, “Bukankah saat Papa mengadopsi anak itu dan mengajaknya ke rumah, Papa menyuruhku untuk mencintainya?” Jagad jelas terang-terangan menyudutkan ayahnya. Ia menggunakan kata-kata ayahnya dulu untuk menyerang balik sikapnya.


“Jaga sikap dan bicaramu! Kau sudah bukan anak remaja lagi!”  Thomas memijat kepalanya yang tiba-tiba nyeri, “tidaklah kau bisa bersikap dewasa sedikit saja?”


“Lalu apakah Papa tidak bisa tidak egois sedikit saja?” Jagad berjalan melewati Thomas, “sebentar lagi orang itu keluar dari penjara, kalau Papa tidak bisa mengirimnya pergi, aku yang akan mengirimnya ke penjara lagi, atau kalau perlu aku bisa mengirimnya ke neraka!” Jagad melayangkan ancamannya.


“Kau!” Thomas membeku di tempatnya. Ia tahu pasti siapa yang dimaksud oleh Jagad.


“Sejak kapan…” Thomas tidak kuasa melanjutkan pertanyaannya. Ia bisa menebak bahwa putranya itu tahu lebih banyak dari hanya sekedari informasi murahan itu.


Jagad kini tidak lagi menyembunyikan kebenciannya. Ia sudah telalu lama hidup dalam tempurung yang dibuat oleh ayahnya. Kini ia tidak ingin lagi seperti itu. Ia harus menuntaskan segalanya jika ingin hidup dengan tenang saat membangun keluarga.


PLAK!


Kali ini tamparan keras yang mendarat di pipi Jagad.


PLAK!


Bagitu Jagad bergeming, ia kembli mendapat tamparan dari ayahnya. Ia tahu persis apa yang membuat ayahnya murka. Itulah yang ia harapkan.


“Jika kau benar-benar tahu! Bisa-bisanya kau melakukan itu pada adikmu sendiri! Benar-benar biadap!” Thomas tidak bisa menahan emosinya. Walau sudah tua, kilat matanya masih saja membuat Jagad ciut nyalinya. Tapi Ia meyakinkan dirinya untuk bertahan dan tidak membiarkan ayahnya itu berkuasa atas dirinya.


“Apa Papa tidak memiliki kaca di kamar Papa?” Sindir Jagad. Hatinya setengah senang bisa membuat ayahnya hilang kedali namun ia juga terluka oleh tindakan ayahnya. Biar bagaimanapun juga ia adalah anak laki-laki satunya di keluarga Sudjojono. Lebih dari itu, ia juga memiliki garis keturunan Sudjono di dalam darahnya.


“Bagaimana kau bisa… kau…” Thomas tidak tahu lagi bagiamana ia akan memperlakukan Jagad. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Aleya memiliki seorang anak dari hubungan badan kakak beradik itu.


“Ayah juga tahu kan, benci dan cinta itu hanya dipisahkan oleh segaris benang tipis. Begitu pula dengan kesabaranku! Aku tidak akan membiarka Papa menyakiti Mama lagi!” Jagad menutup pintu kamarnya cukup keras. Ia meninggalkan Thomas yang begitu syok dengan sikap anak laki-lakinya yang begitu kurang ajar.


“Tuan Besar…” Pak Leo yang kebetulan hendak pulang dari hotel melihat perdebatan ayah-anak itu. Ia langsung menghampiri Thomas begitu melihat Jagad masuk ke kamarnya. Ia membimbing atasannya itu menjauh dari sana dan mengantarkannya ke kamar.


***


Tekad Jagad sudah bulat. Ia ingin menghancurkan hidup Aleya secepatnya. Ia ingin dia menderita. Itulah karma untuknya.


Tapi rencana Jagad sepertinya tidak direstui oleh semesta. Kabar yang dibawa oleh orang suruhannya membuatnya harus memikirkan ulang seluruh tindakannya.


“What!” Jagad berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Robin yang tengah termangu di bingkai jendela. Tanpa aba-aba ia langsung meraih kerah leher Robin dan menyudutkannya. Walau Robin lebih tinggi dari Jagad, tapi laki-laki itu tidak kehilangan kekuatannya untuk menekan Robin.


“Apa kau tidak menggunakan pengaman dengan benar! Hah!” wajah Jagad merah padam. Ia seperti orang yang siap untuk menelan Robin mentah-mentah.


Alex datang pagi-pagi ke hotel tempat Jagad dan Robin menginap. Meeting dadakan langsung digelar melihat pentingnya informasi yang dibawa oleh Alex.


Pernikahan antara Aleya dan San Hyuk memang terjadi dan itu sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Pernikahan itu tidak tercium ke media masa karena putra ketiga Keluarga Shin tidak seperti ke dua kakaknya yang memang terjun ke bisnis Suwon Grup dari awal. San Hyuk tidak memiliki tuntutan dan tekanan sebesar kedua kakak laki-lakinya karena ia merupakan anak pertama dari istri kedua. Walau seperti itu, Shin San Hyuk tetaplah salah satu ahli waris yang sah dari Suwon Grup.


Walau kabar itu membuat Jagad sempat tercengan namun bukan itu yang membuat Jagad  dan Robin terkejut. Informasi dalam bukti pencatatan keluarga tercantum sebuah nama yang tercatat sebagai anak Aleya dan San Hyuk. Shin Han Byeol.


Shin Han Byeol yang kini berusia lima belas tahun. Itu berati anak itu lahir sebelum pernikahan mereka dilaksanakan.


Awalnya Jagad mengira bahwa mungkin dia adalah anak dari Shin San Hyuk. Tapi begitu ia melihat potret dari Han Byeol, ia langung berdiri dan menghampiri Robin. Emosinya langsung meledak dan ia tahu pasti siapa yang menyebabkan itu semua.


Robin.


“Kau kenapa sih!” Robin berusaha melepaskan tangan Jagad. Ia hampir tidak bisa bernafas.


“****! Kau menghamilinya…” emosi Jagad terlihat meletup-letup dari matanya. Walau ini di luar dugaannya, ia tidak bisa meluapkan amarah sepenuhnya pada Robin. Hal ini terjadi karena ide gilanya.


Sementara Jagad menyudutkan Robin, pikiran laki-laki itu seolah hilang. Wajahnya terlihat pias. Otaknya yang cerdas langsung tahu apa maksud perkataan Jagad. Ia tidak tahu lagi dosa apa yang ia lakukan. Ia ingin Jagad menyadarkannya bahwa semua ini mimpi,  bahkan ia tidak peduli jika Jagad melemparkannya dari lantai 23 gedung itu.