
“Aku bersedia untuk kembali, bahkan jika Abeoji ingin aku ambil alih bagian di Suwon Grup tapi dengan syarat...” San Hyuk sengaja memberikan jeda untuk melihat reaksi kedua orang tuanya. Setelah dirasa ayahnya memberikan kesempatan San Hyuk untuk bernegosiasi, ia kembali melanjutkan kalimatnya, “aku bersedia, asal Abeoji tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku entah kapan, dengan siapa, darimana, bahkan latar belakang wanita yang ingin aku jadikan pendamping hidupku!”
“Tentu saja hal itu mudah sekali, bukan begitu Appa?” Ibu San Hyuk langsung saja mengiyakan permintaan San Hyuk. Ia terlalu gembira mendengar anak bungsunya akan kembali ke rumahnya.
“Hahahaha! Kalau seperti itu, sepertinya kau bukan berada dalam posisi untuk beraudiensi di sini Nak. Kau ada di pihak yang kalah saat menujukan kelemahanmu seperti itu.” Jo In tidak serta merta melihat masalah ini dengan spele. Ia bisa melihat kegelisahan San Hyuk dan itu menjadi bomerang yang dapat ia gunakan untuk memenangkan lebih banyak keuntungan.
“Apa maksud Appa?” Ae Rum tidak mengerti perkataan suaminya itu.
“Kau tidak lihat anakmu? Ia ingin menikah dalam waktu dekat, dengan wanita yang mungkin bukan berasal dari negara kita dan inti permasalahannya, wanitu itu memiliki situasi khusus yang bisa membuat kita menolak permintaannya!” San Hyuk tidak bisa mengelak dari tebakan ayahnya. Ia sedikit meremehkan kemampuan ayahnya dalam memahami situasi ini. Layaknya bisnis, setiap ucapan dan sikap adalah kunci dari semua negosiasi. San Hyuk melewatkan hal itu.
“Apa benar kata ayahmu?” tanya Ae Rum tidak percaya. Putranya itu masih sangat muda, ia juga sebelumnya tidak tertarik dengan pernikahan. Daripada penasaran kenapa putranya itu bisa berubah, Ae Rum semakin penasaran seperti apa wanita yang membuat anaknya berubah seperti itu.
“Itu benar...” San Hyuk memperjelas tebakan ayahnya. Ia tidak suka berbelit-belit dan situasi ini semakin memudahkan dirinya untuk menjelaskan maksud dan tujuannya.
“Kau masih perlu banyak belajar untuk bernegosiasi, Nak! Kau saat ini tidak ada dalam posisi yang kuat,” Jo In menyesap teh yang baru saja diseduh oleh asisten rumah tangga. Ia mengamati perubahan wajah putranya.
“Abeoji benar, oleh karena itu, permintaanku tadi aku sertai dengan proposal bisnis yang mungkin bisa membuat Suwon semakin kuat,” San Hyuk mengeluarkan business plan yang sudah disusunya selama setahun ini.
“Aku sudah mecoba beberapa peruntungan untuk bekerja di sektor konstruksi di beberapa perusahaan besar. Ada kesempatan yang bisa Suwon manfaatkan untuk bisa melebarkan sayapnya di bidang itu,” kata San Hyuk di akhir penjelasannya, “aku masih membutuhkan waktu kurang lebih satu tahun agar keinginan Abeoji untuk bisa berbisnis poperti berjalan lancar...” San Hyuk masih mencari orang-orang yang akan menjadi pilar utama dalam usaha bisnis barunya.
“Selama itu pula aku tidak bisa membuat pikiranku terbagi dengan permintaanku tadi. Wanita itu membutukah pelindunganku secara hukum. Hanya dengan cara itulah aku bisa fokus pada proyek ini.” San Hyuk mengakhiri proposal pernikahan dan bisnisnya.
“Ayah akan mempelajarinya dan terkait dengan permohonan pernikahanmu, setidaknya biarkan kami bertemu dengan wanita itu.” Jo In bisa melihat tekad San Hyuk dari sikap dan jalan pikir yang ia tuangkan presentasi dan nada bicaranya. Tanpa melihat pun Jo In sudah tahu bahwa rencana yang akan diusung oleh San Hyuk akan berjalan dengan lancar. Tapi Jo In tidak ingin membeli kucing dalam karung. Ia harus tahu dulu seperti apa calon menantunya.
“Kami menikah dengan syarat. Aku belum bisa mengikat hatinya, setidaknya aku akan mencoba mengikatnya secara hukum,” San Hyuk memilih jujur.
“Kau benar-benar gila!” Jo In tertawa. Ia tidak menyangka bahwa anaknya bisa bertekuk lutut dan mengabaikan harga dirinya hanya untuk seorang wanita. Putranya itu bahkan belum diterima cintanya, lalu bagaimana ia akan membuat wanita itu mau dan menikah kontrak dengannya? Jo In menjadi penasaran akan hubungan keduanya di masa yang akan datang.
“Benar, aku hampir gila karenanya. Tapi mau bagiamana lagi!” keluh San Hyuk tanpa sadar.
“Ibu jadi penasaran seperti apa wanita itu, sepertinya menarik!”
“Dia sekarang bekerja sebagai karyawan baru di perusahaan kita. Ayah atau ibu bisa melihatnya dari jauh,” ada penekanan di akhir kalimatnya. San Hyuk tidak ingin mereka berdua mendatangi Aleya secara terang-terangan.
“Siapa namanya?”
“Aleya Sudjojono,” jawab San Hyuk sambil berusaha keras melafalkan nama Aleya.
“Kalau begitu tolong rahasiakan maksudk kedatanganku pada kakak-kakakku. Apakah aku boleh pergi?” pamit San Hyuk
“Apa tidak sebaiknya kau ikut makan siang dengan kami?” Ae Rum sudah berpindah posisi untuk menahan San Hyuk pergi.
***
San Hyuk berdiri agak jauh dari kompleks taman apartemen. Sambil menunggu kepulangan Aleya, ia mengamati Deepa yang sedang bermain di taman bersama beberapa anak kecil lainnya. Matanya menangkap pergerakan Deepa saat ia baru turun dari bus dan tanpa berniat menganggu, ia memilih untuk mengamati dari jauh.
Sampai saat yang menyakitkan itu tiba.
Tiba-tiba saja Deepa berlari ke arah Mbok Sari sambil menangis. Mbok Sari yang tidak terlalu mengerti bahasa Korea terlihat kebingungan menghadapi orang tua anak lain yang mulai mengerubunginya. San Hyuk yang melihat kejadian itu langsung bergegas menghampiri mereka berdua.
“Apa kalian tidak punya negara untuk ditinggali? Pulang saja!”
“Jangan biarkan anak tanpa ayah itu berkeliaran di sini! Tidak ada yang mengajarinya sopan santun apa!”
“Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan anak kami? Apa kalian bisa tanggungjawab?”
Kata-kata tidak sopan itu semakin terdengar jelas begitu jarak San Hyuk semakin dekat. Ia ingin segera memupus jarak keduanya. Untung saja baik Deepa ataupun Mbok Sari tidak terlalu paham bahasa Korea.
Tangis Deepa langsung berhenti saat San Hyuk meraih tubuh kecilnya. Ia langsung mendekap leher San Hyuk seolah paham bahwa ia berada di tempat yang aman, “Ajuma, jaga ucapan Anda!” tegur San Hyuk. Suaranya bergetar menahan emosi yang sebentar lagi meledak karena perbuatan mereka.
“Deepa memiliki ayah, saya juga mengajarinya tata krama. Jika Anda menuduh Deepa yang membuat anak Anda terluka, apa Anda punya buktinya?” San Hyuk menatap tajam mereka semua.
“Dia bersama anak itu saat terluka!”
“Itu bukan berarti anak saya yang melakukannya!” San Hyuk tanpa sangaja meninggikan suaranya, ia lalu mengusap punggung Deepa yang sempat terkejut untuk menenangkannya.
“Silahkan tuntut kami jika Anda tidak terima. Ada CCTV di sana, tapi bukannya seharusnya lebih memperhatikan anak-anak Anda daripada terus bergosip dan bermain ponsel?”
“Ya! lancang sekali kau!”
“Tentu saja, saya bisa melaporkan bahwa Anda telah menyentuh anak saya tanpa izin,” ancam San Hyuk. Ia sempat melihat kepala Deepa ditunjuk-tunjuk oleh wanita itu. Seolah menjadi target yang lemah, Deepa mendapat perlakuan yang tidak seharusnya ia dapatkan. Orang tua seharusnya bisa mengajari cara untuk memahami situasi bukan malah mencari target untuk bisa disakiti.
San Hyuk kemudian pergi setelah mendapatkan permintaan maaf. Ia mengeratkan pelukannya pada Deepa, “aku akan melakukan berbagai cara agar kau punya ayah, Sayang...” tekad itu yang membuat San Hyuk memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
San Hyuk lalu menetapkan hatinya
Sudah saatnya juga bagi San Hyuk untuk menghadapi masalahnya
Sudah waktunya ia memperjuangkan apa yang ingin di dapatkannya.