
Aku mencoba berdamai dengan diri dan hatiku
Alih-alih aku berpikir egois dan fokus pada luka di hati
Aku menetapkan tujuan dan berdamai dengan debaran
Aku pikir semuanya akan sirna seiring dengan waktu yang lama
Akan tetapi setiap relung hati yang kukira mati jusru terisi oleh kehangatan yang hakiki
Ada sebuah cinta lain yang membuat setiap masa terasa berharga
Andaikala hidupku adalah sebuah perjalanan
Aku memilih untuk berjalan bersaman karena
Aku bukan orang yang menikmati rasa kesepian
San Hyuk berdiri di depan gerbang besi berukiran naga kembar setinggi dua meter. Ia tidak menyangka akan kembali ke rumah keluarganya setelah hampir 5 tahun ia tinggal terpisah. Hal itu bukan tanpa alasan. Ia meninggalkan rumah utama setelah berdebat dengan kedua kakaknya. Selama itu pula San Hyuk hanya berhubungan dengan orang tuanya di luar lingkungan rumah. Sifat keras kepala San Hyuk lah yang membuat dirinya tega melakukan ini pada orang tuanya.
Pintu gebrang itu perlahan terbuka. Security yang menyadari bahwa orang yang berdiri di depan pintu adalah tuan muda mereka buru-buru berlari keluar bahkan sebelum pintu itu sepenuhnya terbuka.
“Tuan Muda!” ada rasa syukur yang tersurat jelas dari suara mereka, “kenapa Tuan Muda diam saja! Maafkan kami karena terlambat menyadarinya!”
“Tidak masalah Pak Choi, aku hanya mampir,” kata San Hyuk sambil mengusap punggung orang tua itu. Ia termasuk penjaga senior yang sudah mendedikasikan hampir separuh hidupnya di keluarga Shin.
“Saya akan menghubungi Asisten Kepala Kwon untuk menjemput Anda!” jarak pintu gerbang dengan pintu utama hampir 500 meter.
“Tidak perlu, mari kita jalan bersama sambil bertukar kabar,” San Hyuk melarang laki-laki tua itu untuk menghubungi rumah utama. Sebelum adanya penolakan lebih lanjut, San Hyuk segera berjalan mendahuli Pak Choi.
Lima tahun bukan waktu yang lama tapi juga bukan waktu yang singkat. Meski perubahan terjadi di bagian luar rumahnya, ia masih mengingat beberapa detail yang sampai saat ini masih ada jejaknya. Suasana nostalgia itu tidak bisa ia pungkiri. Ada rindu yang tidak bisa ia bendung selama perjalanan menuju rumah utama.
Rumah dengan gaya campuran eropa-korea itu masih terlihat gagah dan mewah berapa kalipun ia melihatnya. Suasana rumah cukup sepi karena San Hyuk sudah memastikan bahwa yang ada di dalam rumah hanya ada ayah dan ibunya. Saudara-saudara San Hyuk sudah lebih dulu pergi bekerja dan iparnya sedang ada acara di luar.
“Putraku!” teriak Nyonya Shin Ae Rum tanpa bisa menahan air matanya. Wanita yang masih terlihat anggun diusianya yang sudah memasuki akhir 50 itu buru-buru berlari keluar ketika mendapat kabar bahwa putra ketiganya pulang ke rumah.
“Eomoni...” San Hyuk memeluk wanita yang kini terlihat rapuh itu dengan hati-hati. Ia mengusap-usap lengan yang kini melingkari lehernya, “bagaimana kabar Eomoni?”
“Kau sedang bercanda? Tentu saja tidak baik-baik saja! Ibu mana yang baik-baik saja setelah anak laki-lakinya kabur dari rumah!” Ae Rum memukul bahu anak laki-lakinya dengan perasaan yang tidak dapat lagi ia ungkapkan. Rasa bahagia melebihi rasa marah dan kecewanya atas apa yang telah dilakukan San Hyuk padanya.
“Aku tidak kabur. Aku menjalani kewajibanku sebagai warga negara yang baik dan menyelesaikan studiku secepat mungkin...” kilah San Hyuk.
“Terserah, yang penting saat ini, terima kasih telah pulang ke rumah ini. Ibu sangat merindukanmu,” Ae Rum kembali memeluk San Hyuk sebelum membimbingnya masuk ke ruang kerja sang Ayah.
“Maafkan aku Eomoni. Aku juga sangat merindukanmu...” walau sebenarnya San Hyuk dan Ae Rum bertemu di luar lingkungan rumah, tapi melihat San Hyuk kembali ada di rumah terasa berbeda. Ada rasa utuh yang kembali ia rasakan selama berada di rumah itu.
Dua pintu kayu yang memisahkan antara ruang utama dengan ruang kerja dibuka oleh Kepala Asisten Kwon. San Hyuk mengikuti langkah ibunya yang lebih dulu masuk ke dalam ruangan. Ada perasaan sungkan jika mengingat apa yang sudah ia lakukan pada keluarganya.
“Akhirnya, angin apa yang membawamu kembali ke rumah ini?” Shin Jo In, ayah sekaligus presiden direktur Suwon Grup menyapa anaknya dengan senyum datar.
“Appa! Kenapa berbicara seperti itu sih!” protes Ae Rum saat mendengar sambutan suaminya itu. Ia tidak ingin sikap suaminya membuat San Hyuk kecewa dan kembali meninggalkan rumah.
“Kau masih tidak mengenal putramu Sayang? Dia adalah laki-laki yang tumbuh dengan pikiran dingin. Tidak mungkin dia kembali ke rumah ini tanpa misi,” Jo In beralih menatap putranya, “ayahmu ini tidak salah kan?”
Tebakan Shin Jo In tidak keliru. San Hyuk pergi dari rumah keluarga besar setelah perkelahian dengan kedua saudaranya. Alih-alih melerai, Jo In justru memanfaatkan momen itu untuk melihat karakter ahli warisnya. Walau sebenarnya San Hyuk tidak berada di urutan pertama sebagai ahli waris, tapi pertikaian itu membuat sang ayah mulai melihat potensi yang ada di dalam diri putra ketiganya. Keteguhan hati dan kuatnya pendirian anak itu yang menyebabkan ia memilih untuk angkat kaki dari kediaman utama.
San Hyuk hanya ingin mandiri. Ia tidak ingin langsung begitu saja menjadi ahli waris dan masuk ke dalam arus perusahaan ayahnya tanpa memiliki tujuan dan misi yang jelas. Ia ingin mencari potensi dan jati diri hingga membuatnya bersabda tidak akan kembali ke rumah sebelum ia memperoleh apa yang ia inginkan. Ia mengambil porsi yang sangat sedikit dari fasilitas yang masih diberikan kepadanya. Ia hanya menggunakan seperlunya, bahkan mobil yang secara khusus diberikan padanya masih berada digarasi rumah utamanya. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin belajar dari nol.
“Ayah benar Eomoni, maafkan San Hyuk,” San Hyuk merasa sedikit bersalah karena melihat kekecewaan yang ada di bola mata ibunya. San Hyuk memang belum sepenuhnya memenuhi tekadnya saat pergi dari rumah itu. Namun ada hal lain yang belum lama ini menganggunya hingga ia memutuskan untuk kembali dan mempertimbangkan tawaran ayahnya.
“Aku bersedia untuk kembali, bahkan jika Abeoji ingin aku ambil alih bagian di Suwon Grup tapi dengan syarat...” San Hyuk sengaja memberikan jeda untuk melihat reaksi kedua orang tuanya. Setelah dirasa ayahnya memberikan kesempatan San Hyuk untuk bernegosiasi, ia kembali melanjutkan kalimatnya, “aku bersedia, asal Abeoji tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku entah kapan, dengan siapa, darimana, bahkan latar belakang wanita yang ingin aku jadikan pendamping hidupku!”
*eomoni ; ibu, eoma**appa : ayah, abeoji*