CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 62; Kau Boleh Tinggal



“Tidak perlu kau mempercayai Paman. Kau sudah melihatnya sendiri betapa orang itu rela untuk mengorbankan nyawanya bahkan saat ia baru mengetahui keberadaanmu!”


Jagad menatap Aleya tajam. Ia mengirimkan sinyal supaya adiknya itu tidak menghalanginya untuk mengungkapkan kebenaran. Mereka semua harus ada dititik terang untuk bisa menang dalam mengurai benang kusut ini. Ada tangan lain yang kini bergerak di belakang mereka dan menunggu untuk mengambil alih kendali cerita.


“Apa...” kalimat Han Byeol tertahan di tenggorokannya. Ada insting yang langsung meresap masuk ke dalam pikirannya dan langsung mengarah pada sosok yang kini menjadi pemilik ruang inap. Matanya bergetar menatap Robin yang tidur nyenyak di bawah pengaruh obat tanpa tahu ketengangan yang terjadi di kamar inapnya.


Han Byeol seklai lagi memastikan dugaannya dengan mengendarkan pandangannya ke orang tuanya. Tapi mereka kini justru tertunduk dan memilih membungkam mulut. Bahkan Aleya memejamkan mata seolah tidak ingin memungkiri pernyataan Jagad.


Hanya Jagad yang kini menatap Han Byeol dengan tajam. Ia seolah menantang anak itu untuk berani menerima takdir yang ada di hadapannya. Ia tidak ingin anak itu menjadi pengecut yang kelak hanya kan menjadi duri di dalam kehidupan Robin yang sudah sangat menyedihkan itu.


“Mom...” tidak ingin menyakiti hati ibunya, Han Byeol meraih jemari ramping wanita yang telah membesarkannya itu. Ia tidak ingin mengambil kesimpulan dan lebih menunggu konfirmasi langsung dari ibunya.


“Pamanmu benar, jika kau menanyakan ayahmu seperti apa, ia adalah orang baik. Ia bahkan sudah menyelamatkanmu hari ini,” Aleya juga tidak ingin menutupinya lagi. Akan lebih baik jika masalah ini diselesaikan sekarang juga daripada menoreh luka lagi jika kelak kembali mengungkitnya. Biarlah badai yang selalu ditakutkan oleh Aleya berhembus dan berakhir tanpa pengulangan yang menyakitkan.


“Jadi...” bukannya Han Byeol ingin berbelit-belit tapi dia bersikap hati-hati. Matanya bahkan tidak lepas dari San Hyuk. Ia sedari tadi juga memperhatikan ayah yang selama ini membesarkannya.


“Apa malam ini kau ingin tinggal?” San Hyuk menawarkan Han Byeol untuk memahami dan menerima situasi. Walau perasaannya sulit untuk merelakan tapi ia mencoba membebaskan putranya itu untuk menunggu Robin terbagun dan menghabiskan waktu dengannya. Ia kembali mengingatkan dirinya untuk percaya pada Han Byeol daripada membatasinya dari takdir yang memang harus diterimanya.


“Ada yang harus Appa urus malam ini. Jika kau ingin tinggal, Appa akan pulang bersama Mom. Tapi kalau kau ingin pulang, Appa akan pergi terlebih dulu, kau bisa pulang dengan Mom,” San Hyuk berdiri terlebih dulu. Ada urusan mendadak yang harus ia tangani.


“Kau boleh tinggal...” Aleya ikut berdiri dengan San Hyuk. Ia bisa membaca keraguan putranya dan juga gelagat San Hyuk yang tiba-tiba berubah.


“Boleh?” sekali lagi Han Byeol mengkonfirmasi.


“Tentu saja, asal kau tidak pergi ke mana-mana,” Aleya memeluk putranya itu sebelum pamit, “nanti akan kusuruh seseorang untuk mengantarkan baju ganti untukmu.”


“Ya...” Aleya sudah menenteng tasnya, “Kakak, aku minta tolong jaga Han Byeol. Ada beberapa orang yang akan berjaga di pintu depan.” Jagad hanya mengangguk tanpa banyak komentar. Ia juga membaca raut wajah San Hyuk yang terlihat gusar.


“Jika kau lapar, minta tolong penjaga untuk memesankanmu makanan, bawa ini...” Aleya mengulurkan ponsel pribadinya pada Aleya agar ia bisa menghubungi anaknya dengan leluasa, “jangan bertindak gegabah lagi, Mom akan mengurus ponselmu nanti.”


Aleya lalu mengikuti langkah San Hyuk keluar dari kamar inap. Lorong panjang rumah sakit yang kini dilalui keduanya begitu sepi dan hanya terdengar langkah kaki dua orang yang semakin cepat. Tidak butuh waktu lama sebelum pintu lift terbuka dan sepasang suami istri itu langsung menaikinya menuju lobby rumah sakit.


“Kenapa tiba-tiba muncul berita ini sih?” tanya Aleya ditengah perjalanan mereka. Matanya sibuk membaca berita di kolom bisnis dan kurve saham bergantian. Berita yang menjadi headline majalah online itu perlahan-lahan menurunkan harga saham perusahaan mereka.


“Tenanglah, ini berita yang sudah kita duga akan muncul. Aku hanya tidak menyangka baru hari ini pihak media menyelidikinya,” hibur San Hyuk.


“Bagaimana aku bisa tenang, ini tidak lagi masalah kita namun menjadi masalah perusahaan. Aku jika keluargamu akan menyalahkanmu nanti,” Aleya melihat media soisal kantornya yang mulai ribut walau waktu sudah hampir tengah malam. Banyak yang menanyakan kebenaran itu padanya melalui pesan pribadi.


San Hyuk mendapat berita tentang hubungannya dan Aleya muncul di media bersamaan dengan kabar menghilangnya Han Byeol. Pikirannya terpecah dan ia hanya bisa mempercayakan pihak management perusahan dapat menyelesaikan masalah itu dengan cepat. Pikirannya benar-benar tidak bisa mengabaikan Han Byeol dan memilih untuk mencari putranya itu. Ia tidak peduli dengan berita yang sebenarnya sudah basi itu sampai media mengekspos tentang Han Byeol. San Hyuk menekan pengacara serta perusahaannya sendiri agar Han Byeol tidak ikut menjadi sorotan.


“Orang tua ku tidak akan membawa masalah ini sampai pada rumah tangga kita. Aku sudah menjelaskannya dari awal dan tidak ada yang kita tutupi. Saudara-saudaraku juga tidak akan mengusik kita karena aku bukanlah ahli waris dari perusahaan. Aku hanya staf biasa, kau ingat?” penjelasan San Hyuk tidak serta merta membuat pikiran Aleya tenang. Ia malah merasa bersalah mengingat besarnya pengorbanan yang telah San Hyuk berikan padanya, bahkan laki-laki itu menandatangi persetujuan untuk tidak menjadi ahli waris dari Suwon Grup pada dua kakaknya.


“Jangan memasang wajah seperti itu, kau tau kan dari awal aku memang tidak ingin bergabung dengan Suwon?” San Hyuk mengecup dahi Aleya lembut. Ia bisa tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya hanya dari ekspresi wajahnya yang sendu.


“Terima kasih,” Aleya mengindari kata ‘maafkan aku’ dan menggantinya dengan ucapan terima kasih. Ia tahu bahwa sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan San Hyuk selama ini. Laki-laki itu benar-benar menutup kehidupan Aleya dengan sempurna. Membuat wanita yang tidak percaya laki-laki dan cinta itu kembali menyemai harapan dan cinta dalam hatinya.


“Kita pasti bisa melalui ini...” pikiran San Hyuk sudah mengarah pada satu orang yang sedari tadi sudah menganggu pikirannya. Leo. Begitu nama itu keluar dari pengakuan Han Byeol, ia langsung memerintahkan pengacaranya untuk melakukan penyeledikan tentang orang itu. Selama ini laki-laki yang menjadi pengawas Aleya selama di Korea itu luput dari perhatiaannya karena Leo terlihat sangat berdedikasi dalam menjaga Aleya. Ia tidak menaruh curiga apa pun sampai saat ini.