CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 19; Keputusan



“Datanglah padaku...” potong San Hyuk. Ia menatap Aleya dengan sungguh-sungguh, “tinggalkan semua pikiran tidak bergunamu, turunkan egomu, dan datanglah padaku...”


Aleya menatap San Hyuk dengan tidak percaya. Bagaimana laki-laki itu bisa dengan sebegitu mudahnya mengatakan hal yang begitu penting seperti itu. Walau Aleya bisa melihat tidak adanya keraguan dalam kalimat San Hyuk, namun kegaruan itu justru datang darinya. Bukankah tidak mudah untuk memasukan seseorang dalam daftar keluarga mereka. Kenapa ia bisa dan mau melakukan pekerjaan suka rela untuk menampung Aleya dan Deepa? Apa ia tidak memikirkan resiko yang akan datang dikemudian hari?


“Aku sudah mengatakannya kan? Tinggalkan pikiran tidak bergunamu, turunkan sedikit egomu dan lihatlah aku...” San Hyuk bisa melihat jelas mata Aleya yang bergetar. Ada banyak pertanyaan yang menganggu pikirannya.


“Apa Oppa sudah gila?”


“Kau yang sudah gila jika tidak meraih tanganku kali ini...” San Hyuk mengalihkan pandangannya dari Aleya untuk mengurangi tekanan yang ia berikan pada wanita itu, “jangan coba lihat tawaran ini dari sudut padanganku, tapi lihat realitasnya. Aku sangat menyukai Deepa dan aku tidak ingin hal-hal buruk ia alami di kemudian hari.”


“Tidak berarti aku menyangsikan pola asuh dan kehadiranmu sebagai ibunya, tapi aku bisa mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh ayahnya. Kau hebat Aleya, kau hebat tapi...” San Hyuk sudah memantapkan tekadnya untuk membuat Deepa menjadi putranya. Baginya ini adalah kesempatan yang paling tepat dimana Aleya merasa lemah. Ia harus memanfaatkan kesempatan dengan baik.


“Akan lebih baik jika ia memiliki dua orang yang bisa melindungi dan menjaganya. Aku tidak ingin Deepa tersakiti, ia tidak tahu apa-apa dan masih kecil untuk bisa memahami situasinya. Sebentar lagi dia juga harus sekolah kan? Kau tidak membayangkan apa yang terjadi jika teman-temannya tahu bahwa dia sendiri? Kau tidak ingin kejadian yang sama terulang kan?” San Hyuk sengaja kejadian yang membuat Deepa menangis hanya karena ia tidak memiliki ayah. Hal itu sangat menyakiti San Hyuk.


“Kenapa Oppa melakukan ini? Kenapa Oppa mau berkorban untuk kami?” pertanyaan itu tentu tidak bisa Aleya tahan. Ia bukan wanita normal dengan keadaan yang biasa. Walau perkataan San Hyuk benar, tapi ia tidak bisa memindahan beban itu pada laki-laki yang sudah banyak menolongnya.


“Kau tidak tahu? Atau kau pura-pura tidak tahu?” tanya San Hyuk sarkartis. San Hyuk tidak tanggung-tanggung dalam menunjukan kepeduliannya pada Deepa. Ia juga pernah mengakui perasaannya pada Aleya.


San Hyuk memutuskan tidak akan membohongi atau menolak perasaannya sendiri. Ia juga sudah merefleksikan logika yang dimiliki banyak orang. Ia juga sudah berusaha untuk mencoba melupakan cintanya untuk Aleya. Tapi itu sia-sia. Karena itu sia-sia, ia tidak ingin menyia-yiakan lebih banyak waktu untuk memungkiri perasaan itu dan memilih membawa Aleya ke sampingnya.


San Hyuk sudah berusaha untuk memenuhi logikanya tapi tetap hatinya tidak ingin membohonginya.


Hingga keputusan besar ini ia lakukan sendiri.


“Jika kau tidak ingin menjadi istriku, setidaknya biarkan aku menjadi ayahnya. Kau boleh memilih sendiri kebahagiaanmu. Tapi kau tidak boleh menghalangi kebahagian Deepa. Ia berhak untuk itu. Pikirkanlah baik-baik...” San Hyuk tidak tahu lagi harus bagaimana menyakinkan Aleya. Wanita itu terdiam kembali, pikirannya seolah kosong dan terbang entah ke mana.


“Apa Oppa tidak menghawatirkan masa depan Oppa?” tanya Aleya pelan. Ia masih tidak memercayai apa yang ia dengar.


“Aku belum tentu hidup sampai besok, aku hanya berusaha yang terbaik hari ini hingga aku tidak menyesal menjalani hari-hariku dengan melewatkan kesempatan dalam hidupku,” San Hyuk sekali lagi menatap Aleya dengan lembut, “aku akan berusaha yang terbaik untuk menjadi ayahnya, Leya-ya...”


“Tidak!” potong Aleya, “jika Oppa ingin mengambil Deepa dariku, tanggung jawab padanya sampai akhir!” kata Aleya tanpa sadar. Sepertinya kata-kata ayah biologis itu sangat sesitif, “aku sudah mengatakannyakan? Aku pernah dibuang, aku tidak ingin Deepa merasakan hal itu.”


Mata San Hyuk membulat mendengar kalimat Aleya. Ia tidak menyangka akan mendapat persetujuan Aleya secepat itu. Tanpa persetujuan Aleya, San Hyuk memeluk tubuh wanita itu erat. Ia merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


“Oppa harus berjanji padaku, jika Oppa menemukan orang yang Oppa cintai, jangan ragu-ragu untuk mengatakannya padaku. Oppa berhak mendapatkan orang yang lebih baik dariku...” Aleya tetap tidak bisa mengusir kekhawatirannya. Ia mungkin bisa melewatkan kesempatan yang diberikan San Hyuk. Tapi ia tidak bisa mengabaikan kenyataan yang terjadi pada Deepa.


Masa depan Deepa menjadi prioritas utamanya. Kejadian-kejadian yang menimpa Deepa sangat menganggu hati dan pikirannya. Ia tahu bahwa mereka harus bertahan di negeri orang namun ia tidak tega untuk membiarkan Deepa menanggung beban itu. Membayangkannya saja sudah membuat hatinya begitu pedih bagaimana jika itu benar-benar terjadi pada putranya? Aleya juga tidak mungkin kembali ke Indonesia, masyarakatnya akan lebih kejam dalam menilai moralnya. Tidak masalah untuk Aleya namun hal ini terlalu menyakitkan untuk perkembangan Deepa.


Tawaran San Hyuk tentunya menjadi sebuah angin segar bagi masalah ini. Tapi bagaimana ia bisa dengan mudahnya menikmati semua kebaikan itu? Apa Tuhan tidak akan menghukumnya jika ia terlalu jatuh ke dalam kemudahan-kemudahan duniawi? Apa ini sebagai hadiah dari tekad dan kerja kerasnya?


“Baiklah. Kita bisa menulis kontrak jika kau mau,” bagi San Hyuk itu bukanlah hal yang sulit. Orang yang ia cintai ada di dalam pelukannya dan akan ada dalam tanggung jawabnya kedepannya. Ia hanya perlu membuat hubungan itu bertahan selamanya.


“Oppa...”


“San Hyuk-ssi?” Dokter Lee sebenarnya tidak ingin menganggu mereka berdua. Tapi perawatan untuk Deepa sudah selesai dan hanya tinggal memindahkan anak itu ke ruang perawatan.


“Ya...” berat hati San Hyuk melepaskan pelukannya dan mendahului Aleya untuk mendatangi kepala UGD itu.


“Bagiamana kedaannya, Dok?” tanya San Hyuk gugup begitu Aleya sudah menjajari langkahnya. Tanpa pikir panjang ia meraih tangan Aleya dan mengenggamnya.


“Dia akan baik-baik saja, demam dan kejang umum terjadi pada anak-anak. Hanya saja ia lemah karena mengalami diare dan muntah-mutah juga. Setidaknya ia harus dirawat untuk beberapa hari agar nutrisinya terjaga dan ia segera pulih.” Dokter Lee langsung menjelaskan keadaan Deepa. Tanpa menunggu persetujuan Aleya, rumah sakit juga sudah menyiapkan kamar perawatan untuk Deepa.


“Terima kasih, Dok…” Aleya mengucapkannya berkali-kali. Beban dipundaknya sedikit berkurang karena penjelasan dokter.


“Itu memang sudah tugas saya, saya tinggal terlebih dahulu…” pamit Dokter Lee. Ia tersenyum singkat pada San Hyuk sebelum meninggalkan mereka berdua.


“Syukurlah, ayo…” San Hyuk membimbing langkah Aleya untuk bertemu dengan Deepa. Ia juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putranya.