
San Hyuk diam saja mengikuti langkah lebar-lebar Aleya. Suara hak sepatu Aleya yang beradu dengan lantai marmer hotel terdengar tegas dan menyeramkan bagi San Hyuk yang terbiasa membaca emosi Aleya dari suara derap langkahnya. Bahkan jika ia ada di kantor ia bisa membaca urgensi berita yang akan disampaikan Aleya dari suara langkah kaki jenjangnya.
San Hyuk bahkan masih terkejut dengan sikap yang ditunjukan Aleya pada Robin. Ia sempat menyangsikan apakah orang yang ada di sampingnya itu benar-benar orang yang sama. San Hyuk sampai berpikir sejauh mana ia mengenal wanita itu karena ia masih belum bisa menebak sisi lain Aleya yang sesungguhnya.
Mereka berhenti tepat di lobi hotel di mana supir pribadi keduanya sudah menunggu sang majikan. Pihak penjaga sudah menginformasikan sebelumnya bahwa pasangan itu sedang menuju lobby bawah sehingga supir mereka langsung standby di lobby tanpa diminta.
Aleya menghempaskan dirinya di kursi penumpang. Begitu San Hyuk masuk ia lalu memerintahkan sopir untuk pergi ke rumah sakit.
“Kau kenapa?” tanya San Hyuk panik. Ia menyapukan pandangannya pada tubuh Aleya dari ujung kepala ke ujung kaki.
“Aku tidak apa-apa...” Aleya membuka genggaman tangannya dan menujukan noda darah yang ada di bagian dalam kuku jarinya, “jangan disentuh!” larangnya saat San Hyuk hendak memeriksa luka itu.
“Ada apa?” tangan San Hyuk berhenti di udara, ia hanya bisa menatap Aleya bingung.
“Aku minta tolong, Oppa. Hubungi salah satu bodyguard yang ada di rumah. Suruh mereka membawa sikat gigi yang dipakai Han Byeol ke rumah sakit...” kata Aleya sambil memperhatikan darah yang ada di jemarinya dengan seksama, “aku hanya ingin memastikan sesuatu untuk mencari tahu sebenarnya apa yang telah terjadi....”
San Hyuk melakukan permintaan tolong yang lebih berupa perintah itu tanpa menunggu disuruh dua kali. Ia tahu apa maksud Aleya. Aleya ingin mencocokan DNA Han Byeol dengan lelaki yang mungkin dengan sengaja di lukai oleh Aleya tadi. Itulah sebabnya Aleya bergegas untuk pergi agar ia lebih cepat tahu apa yang terjadi.
Sebenarnya bukan hal yang sulit bagi San Hyuk untuk menebak jalan pemikrian Aleya. Bersama Aleya dan Han Byeol dalam waktu lama membuatnya juga memahami bahasa Indonesia walau tidak sefasih keduanya. Tanpa sepengetahuan keluarga Aleya, hampir semua perbincangan yang sengaja menggunakan bahasa ibu Aleya itu dapat dipahami dengan mudah olehnya.
Aleya juga sudah mengingatkan San Hyuk untuk pura-pura tidak memahami percakapan mereka. Keduanya sepakat dan sengaja hanya menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan bersama untuk lebih berhati-hati dan melihat situasi yang ada.
“Apa kau curiga bahwa ayah biologisnya Han Byeol bukan kakakmu tapi temannya itu?” San Hyuk menebak pemikiran Aleya.
“Ya, tapi yang membuatku semakin resah adalah fakta bahwa Han Byeol sangat mirip dengan Kakak. Jika dugaanku benar, itu berarti tetap ada darah keturunan yang sama yang dimiliki Han Byeol dan Kakak...maka...” Aleya menatap San Hyuk untuk mendukung pemikiran liarnya.
“Kau dan kakakmu itu benar-benar bersaudara?” tebak San Hyuk lagi.
“Iya...” dugaan itu membuat Aleya sedih. Jika ia dan Jagad memang bersaudara sedarah, kenapa Jagad begitu tega memperlakukannya seperti itu. Sekalipun ia adalah anak haram yang seolah-olah di adopsi oleh keluarga Sudjojono, bukankah tidak seharusnya ia mendapat penderitaan selama ia berada di dalam keluarga itu?
Aleya membuang pandangannya keluar jendela. Ia diam-diam menghapus air mata yang perlahan jatuh menelusuri pipi mulusnya. Bayangan ini lebih menyakitkan dari pada ucapan-ucapan yang dilontarkan Jagad tadi.
Kenapa ia harus melalui semua ini?
Aleya larut dalam lamunannya sendiri.
San Hyuk memilih diam dan memperhatikan Aleya. Bukannya ia tidak peduli dengan kesedihan yang dialami oleh istrinya itu. Ia hanya ingin memberi Aleya waktu untuk merenung dan memiliki keleluasaan waktu untuk berpikir. Wanita yang ia cintai itu tidak akan diam saja tanpa melakukan sesuatu. Ia selalu memiliki cara untuk melalui semuanya. Hanya dengan itulah ia bisa bangkit tanpa menyisakan luka yang dapat menjegal masa depannya.
Hal itu dibuktikan dengan sikap Aleya selama bertemu dengan Jagad. Aleya tidak lantas bertekuk lutut dan kalah di hadapan laki-laki itu. Ia bisa menghadapi semuanya dengan lebih tenang. Hanya saja proses untuk menyiapkan hatinyalah yang membuat ia terlalu berat membawa beban pikirannya. Sampai-sampai ia tumbang dan dilarikan ke rumah sakit. Walau sebenarnya San Hyuk memahami karakter dan bagaimana besarnya keinginan Aleya untuk bangkit dan berjuang setiap ada masalah, ia tetap saja khawatir jika hal yang sama terulang.
“Kita sudah sampai, Tuan, Nyonya!” kata supir begitu mereka sampai di lobby rumah sakit.
“Terima kasih...” kata Aleya sebelum ia keluar dari mobil.
San Hyuk dan Aleya melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Pakaian mereka yang terkesan salah kostum itu menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. San Hyuk bahkan sudah menutupi bahu mulus Aleya yang terbuka dengan jasnya, tapi tetap saja, hal itu tidak bisa menutupi pesona dan kecantikan Aleya.
Seorang dokter menghampiri mereka berdua dan langsung membimbingnya masuk ke dalam lab. Kedatangan mereka sudah dinformasikan terlebih dahulu oleh seseorang yang ditugaskan San Hyuk untuk membawa sample DNA Han Byeol ke rumah sakit. Hal itu membuat rumah sakit sudah siap menyambut kedatangan mereka sewaktu-waktu.
“Kami akan menelepon Anda begitu hasilnya keluar, Tuan!”
“Terima kasih, aku mempercayakan ini semua padamu,” San Hyuk kemudian meninggalkan dokter senior itu untuk menjemput Aleya yang berpamitan ke kamar mandi.
Masalah ini ternyata lebih pelik dari yang San Hyuk kira. Awalnya ia hanya menyangka bahwa Jagad terobsesi dengan cintanya yang tak terbalas oleh Aleya sehingga melakukan hal keji itu padanya. Jika itu adalah masalah cinta, waktu bisa menyembuhkan segalanya. Tapi jika benar Aleya dan Jagad bersaudara, itu berati ada sekenario besar yang belum diketahui oleh Aleya.
San Hyuk mencoba mengarang beberapa hipotesis untuk bisa menebak apa yang diinginkan oleh Jagad dan kenapa ia melakukan semua itu pada adiknya sendiri. Tapi pikirannya tetap buntu jika hanya sebatas ini informasi yang ia miliki.
“Oppa...” Aleya memanggil San Hyuk untuk kesekian kalinya. San Hyuk terlalu tenggelam dalam pikirannya hingga ia tidak menyadari Aleya yang sudah berdiri di sampingnya.
“Oh, kau sudah selesai?” San Hyuk meraih jemari tangan Aleya untuk memastikan darah laki-laki itu tidak tercecer di sana. Ia sampai mengusap ujung jemari Aleya yang kini dipotong rapi kukunya karena tindakannya tadi.
“Sepertinya aku harus memulai mencari tahu tentang asal-usulku...” Aleya sudah memutuskan bahwa ia harus mendalami masa lalunya. Ia yang sebelumnya tidak peduli kini tergelitik untuk mencari jalan menuju masa lalunya. Hanya itulah jalan satu-satunya agar ia bisa melalui ini semua.