CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 14; The Reality Struck on You



“Oppa… bangun…” Aleya kembali menyentuh bahu San Hyuk, sudah kesekian kalinya ia berusaha membangunkannya. Namun laki-laki itu masih terlelap walau matahari hampir menyentuh ubun-ubun.


“Oppa…” Aleya meraih tangan San Hyuk dan berusaha menariknya duduk. Bukan apa-apa, tapi ini sudah siang dan laki-laki itu harus mengisi perutnya. Ia juga tidak tahu apakah San Hyuk memiliki janji untuk di hadiri.


“O…ppa…” tidak seperti sebelumnya, kali ini suara Aleya tertahan. Tanpa diduga oleh gadis itu, San Hyuk tiba-tiba menariknya hingga membuat tubuh mungil Aleya jatuh di atas San Hyuk. Wajah polos Aleya langsung memanas begitu bersentuhan dengan kulit San Hyuk yang terasa hangat. Laki-laki itu kini memeluknya erat.


“Sebentar…” gumam San Hyuk sambil mengeratkan tangannya di leher Aleya.


“Oppa!” Aleya sengaja memukul bahu San Hyuk agar ia bangun dari tidurnya.


San Hyuk terkejut, matanya yang tadi terasa berat langsung terbuka lebar saat menyadari bahwa ia sedang tidak bermimpi, “Aleya! Kenapa kau ada di si…” kalimat San Hyuk terhenti. Ia baru menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya, “ini dimana?”


“Di rumahku, kamarku tepatnya!” Aleya berusaha mengusir perasaan aneh yang baru saja dirasakanya. Ia mengalihkan pandangannya dari San Hyuk sambil menutupi wajahnya yang kini terasa hangat, “bersihkan dirimu, kamar mandinya di sana, bajumu di sana!”


“Asal Oppa tahu, bukan aku yang melepaskannya, tapi Oppa sendiri. Aku sudah mencucinya!” Aleya memberikan instruksi dan penjelasannya dengan terburu-buru tanpa sempat San Hyuk menyelanya. Ia ingin bergegas keluar dari kamar. Tapi sebelum ia benar-benar keluar dari kamar, Aleya berhenti di daun pintu karena teringat sesuatu, “ada air madu hangat di atas nakas, minumlah sebelum mandi,” kata Aleya tanpa menoleh kebelakang. Tentu saja! Jika ia menoleh ia akan melihat tubuh polos San Hyuk!


Seperti seseorang yang baru menyadari kesalahannya. San Hyuk mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak ingat apa yang terjadi tadi malam hingga membuatnya berakhir di rumah Aleya. Ada perasaan kecewa pada dirinya sendiri karena telah menujukan sisi memalukannya pada Aleya. Belum lagi ia sampai melakukan hal yang merepotkan gadis itu.


San Hyuk segera teringat pesan Aleya. Setelah meminum air madu yang di seduh Aleya, ia berjalan ke arah kamar mandi. Langkahnya terseok-seok sambil menutupi tubuh bagian bawahnya yang hanya menyiskan boxer dengan selimut yang ia gunakan semalaman. Bahkan kini selimut yang tadinya memiliki aroma lavender Aleya berubah menjadi bau minuman keras karena bersentuhan dengan tubuhnya. San Hyuk mengumpat dalam hati menyadari kebodohannya.


Ingatan San Hyuk sepenuhnya hilang. Terkahir ia bersama Yong Nam, tapi kenapa ia sekarang bersama Aleya? Benar-benar tidak masuk akal. Apa ia berjalan sendiri kemari saking putus asanya? Oh, tapi bukannya San Hyuk tidak tahu dimana tempat tinggal Aleya?


Bahkan di bahwah guyuran air shower pun tidak bisa mengembalikan kesadaran San Hyuk. Ia segera menyelesaikan rutinitasnya dan berjalan keluar dari kamar mandi. Kini setelah pikiran San Hyuk sudah kemabli pada tempatnya, ia mulai mengamati detail kamar Aleya. Sangat polos dan minimalis. Tidak banyak barang yang ada di kamarnya. Tone kamar Aleya juga hanya berisi tiga warna, hitam abu-abu dan biru tua.


Perkataan Aleya!


Sadar dengan posisinya saat ini. San Hyuk bergegas berjalan ke arah pintu dan memegang knop pintu dengan gugup. Jika Aleya sudah memiliki anak, tentu anaknya ada di rumah ini. Ya itu pasti!


Tapi keberanian San Hyuk dan rasa penasarannya hanya di pisahkan oleh benang tipis yang sarat dengan ketakutan atas banyak hal. Ia tidak tahu apakah ia siap menghadapi kenyataan apa pun yang ada di balik pintu itu.


Ketukan pintu membuat jantung San Hyuk berdebar kencang. Setelah memberi jeda yang wajar, San Hyuk membuka pintu demi melihat dan menghadapi kenyataan.


Kenyataan yang memukul realitas hidupnya.


Jejak itu jelas nyata di hadapannya. Banyak sekali peralatan dan mainan bayi yang tercecer di ruang utama sekaligus dapur yang saling berhubungan. San Hyuk menelan salivanya yang terasa begitu pahit hingga membuat hatinya sakit. Tapi apa yang membuatnya sakit?


“Aku sudah mengatakannya kan? Kenapa masih terkejut seperti itu?” Aleya bisa tahu apa yang dipikirkan San Hyuk setelah membaca gerak pupil matanya. Laki-laki itu bahkan tidak sadar mengeratkan kepalan tangannya untuk menahan luapan emosi yang tidak semestinya.


“A...nakmu? Ah...Suamimu?” ada yang lebih penting dari di mana keberadaan anak Aleya, tapi suaminya. Apa yang akan ia katakan jika harus bertemu dengan laki-laki yang memiliki hak seutuhnya atas wanita yang dicintainya?


“Kita makan dulu. Setelah itu aku akan menceritakan semuanya,” Aleya meraih lengan San Hyuk dan membimbingnya ke meja makan. Langkah laki-laki itu terasa berat dan perasaan cemas meliputi dirinya begitu ia duduk di meja makan.


“Ada nasi goreng, ini masakan Indonesia. Oppa harus mencobanya mumpung di sini. Aku akan menyeduh teh untukmu,” San Hyuk hanya terdiam menatap sepiring nasi goreng yang ada di hadapannya. Ia tidak tahu apakah kerongkongannya mampu menelan makanan dengan perasaan yang tidak menentu tujuannya. Bukan karena tidak tertarik atau tidak lapar, tapi pikiran dan perasaan San Hyuk lah yang kini mengambil sebagian besar kesadarannya. Otaknya terlalu penat untuk mencerna informasi yang baru saja didapat.


“Tidak tertarik mencicipinya?” tegur Aleya sambil duduk di seberang San Hyuk. Ia mengulurkan secangkir teh untuk San Hyuk dan dirinya sendiri.


“Tidak...bukan...tapi...” San Hyuk kebingungan harus memulai percakapan ini dari mana. Kepalanya yang masih terasa berat karena miras semalam terasa pening karena kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.


“Tidak ada,” kata Aleya tegas, “aku memang punya anak, tapi tidak ada orang semacam itu. Aku tidak pernah menikah dan aku tidak memiliki kekasih apalagi suami. Aku membesarkan anak itu sendiri,” jelas Aleya saat melihat kegundahan yang tersurat jelas di wajah San Hyuk.


“Kenapa...” San Hyuk mengigit bibirnya kuat hingga darah segar terasa dilidahnya. Ia mencoba menahan diri dan merasa pertanyaannya itu lancang karena ini menyangkut nyawa seseorang. Aleya masih begitu muda. Kenapa ia tidak melepas janinnya dan memilih untuk melalui semua kesulitan ini seorang diri? Membesakan anak bagi orang yang benar-benar sudah dewasa pun terasa sangat sulit. Atas dasar apa yang membuat Aleya memutuskan pilihan sebesar itu seorang diri?


“Karena saat itulah kesempatan yang Tuhan berikan padaku untuk memiliki seorang keluarga,” jawab Aleya mantap seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran San Hyuk.  “Bagaimana bisa aku melewatkan kesempatan berharga seperti itu?”


Senyum yang terukir indah di wajah Aleya membuat San Hyuk menyadari sesuatu. Hatinya yang tadinya terasa begitu sakit perlahan memudar demi merasakan kehangatan yang perlahan merengkuhnya dalam kehangatan. Air mata laki-laki itu tanpa sadar lolos begitus aja dari matanya bersamaan dengan kebekuan hati dan pikirannya.