CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 24; Bagaimana Bisa?



“Mom baik-baik saja?” tanya Han Byeol sambil meraih tangan ibunya. Ia merasa ibunya yang sudah memiliki tubuh mungil itu semakin terlihat ringkih karena kantung hitam di bawah matanya.


“Ehm, Mom baik-baik saja. Maafkan Mom...” Aleya sangat bersyukur Han Byeol tumbuh menjadi laki-laki yang sangat lembut dan penuh perhatian.


“Tidak, Mom tidak salah apa pun!” Han Byeol mengecup punggung tangan Aleya. Ia meletakan kepalnya tepat di atas tangan ibunya.


Saat keduanya sedang bertukar kabar, tiba-tiba mereka mendengar suara keras Krisma dari balik dinding kaca yang memisahkan tempat tidur dan sofa ruang perawatan. Ruang perawatan yang ditempati Aleya merupakan ruang VVIP yang memliki fasilitas seperti hotel bintang lima dimana di dalam ruang perawatan memiliki fasilitas lengkap mulai dari kamar mandi, minikitchen set, ruang tamu, dan tempat tidur pasien dan tempat tidur untuk wali pasien.


“Bagaimana kalian bisa menikah tanpa seizin kami!” teriak Krisma hingga terdengar oleh Han Byeol dan Aleya.


“Byeol-a, bisakah kau berangkat sekolah saja?” ucap Aleya setengah memohon.


“Ya, tentu saja!” jawab Han Byeol cepat. Ia sebenarnya ingin sekali ada untuk menguatkan ibunya. Tapi demi melihat kedua tangan Aleya yang bergetar saat menggenggam tangannya, Han Byeol menyadari bahwa ibunya tidak ingin ia ada di sana. Ia harus belajar menekan egonya agar urusan ini menjadi tanggung jawab orang dewasa. Ia juga tidak melupakan pesan San Hyuk tadi malam dan mengabaikan Aleya.


“Terima kasih...” Aleya memeluk Han Byeol.


“Mom fokus pada penyembuhan, aku yakin Appa bisa menjaga Mom, dan aku akan bersekolah seperti biasa. Mom tenang saja, selama Mom di sini, aku diantar jemput oleh Pak Choi, aku juga tinggal di rumah kakek,” Han Byeol memberikan informasi yang mungkin bisa mengurangi beban pikiran Aleya saat ini. Ia tahu bahwa hal itu jauh lebih membantu daripada ikut campur urusan orang dewasa.


“Hemm, terima kasih...” sekali lagi Aleya hanya bisa mengucapkan hal tersebut. Ia benar-benar bersyukur atas pengertian yang diberikan oleh putranya. Aleya juga merasa bersalah karena ia belum bisa menepati janji untuk menjawab semua pertanyaan putranya itu.


“Aku berangkat dulu!” Han Byeol mengecup tangan Aleya sekali lagi sebelum berpamitan dengan San Hyuk.


“Pamitan juga dengan kakek dan nenekmu...” pesan San Hyuk saat Han Byeol mendatangi mereka untuk berpamitan.


Walau Han Byeol sempat keberatan dengan permintaan ayahnya, ia tetap tidak dapat menolak. Dengan berat hati Han Byeol memberi salam tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan pergi dari ruangan.


“Apa kau tidak mengajari anak itu sopan santun?” tanya Krisma begitu Han Byeol meninggalkan ruangan.


“Han Byeol, nama anak kami Shin Han Byeol,” walau San Hyuk mengatakannya sambil tersenyum ramah, terdapat penekanan yang jelas pada kalimatanya. Ia merasa bahwa tidak sempantasnya mereka memanggil Han Byeol seperti itu.


“Oppa...” panggil Aleya pelan.


San Hyuk yang melihat Aleya hendak bangun dan berdiri dari tempat tidurnya langsung berlari menghampiri wanita itu, “kau belum boleh banyak bergerak!” tegasnya.


“Aku juga ingin bicara...” kata Aleya sambil memegang pundak San Hyuk. Sebisa mungkin ia mengatur nafas dan emosinya agar lebih tenang.


“Terima kasih...” San Hyuk hanya tersenyum sekilas menjawab ucapan itu. Ia lalu mengambil tiang ifus agar Aleya tidak terus menerus memegangnya.


“Maafkan Aleya, Ayah Ibu karena tiba-tiba masuk rumah sakit seperti ini. Mungkin aku tidak bisa banyak membantu kedepannya,” walau Aleya belum sepenuhnya tahu apa yang terjadi padanya, tapi ia sudah merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Ia merasakan pusing dan sesak jika harus beraktivitas lebih.


“Sebagai gantinya, saya yang akan membantu,” sahut San Hyuk menyusul duduk di samping Aleya.


“Lebih baik Anda tidak usah ikut urus campur keluarga kami,” kali ini Thomas yang angkat bicara. Pada mulanya ia hanya mengamati San Hyuk dalam diam. Tapi dalam sekejap ia tahu bahwa laki-laki yang mengaku-aku sebagai suami Aleya itu bukanlah orang sembarangan. Sesama pebisnis, Thomas bisa merasakan aura yang kuat dari cara bicara, sikap, dan tatapan San Hyuk. Dengan sikap rasa percaya diri yang ada pada San Hyuk saja sudah membuat Thomas yakin bahwa laki-laki itu memiliki kekuasaan yang besar.


“Jika itu menyangkut Aleya dan Han Byeol, itu berarti juga tentang keluarga saya...”


“Tapi Aleya adalah anakku, kau seharusnya tidak seenaknya saja seperti itu, aku tidak bisa mengakuinya.” Thomas menatap tajam ke arah San Hyuk.


San Hyuk merasakan tangan Aleya yang meremas baju bagian belakangnya. Ia lalu menegakan punggungnya demi meraih tangan Aleya dan menggenggamnya untuk memberikan kepercayaan pada Aleya.


“Benar, ia adalah anak Anda sebelum anda mendepaknya keluar begitu saja,” San Hyuk mengatakan hal yang selama ini menganggu pikirannya.


“Kau...”


“Bukankah Anda sendiri yang mengeluarkan Aleya dari kartu keluarga Anda? Itu berarti ia berhak atas pilihan hidupnya sendiri...” San Hyuk semakin erat menggenggam tangan Aleya, “Anda tidak menginginkan Han Byeol kami dan Anda telah memberikannya pada saya.”


Kalimat terakhir San Hyuk membuat mata Aleya melebar. Ia tidak tahu apa maksud kalimat terakhir San Hyuk. Tapi saat mata Aleya menuntut penjelasan, ia hanya mendapatkan senyuman. Senyum penuh kemenangan yang sudah wanita itu hapal tiap kali mereka melakukan perjanjian kerja sama.


“Apa maksudnya itu?” justru kini Thomas yang kebingungan dengan ucapan San Hyuk. Matanya tajam beralih pada istirnya, “apa kau tahu tentang ini?”


“Ten..tentu saja kita harus mengeluarkan nama Aleya dari kartu keluarga kan? Kita tidak mungkin memasukan nama anak haram itu ke dalam keluarga kita!”


“Ibu!” teriak Aleya dan Thomas bersamaan.


“Jangan melihatku seperti itu!” Krisma menatap suaminya, “Ayah juga tidak menginginkan anak haram itu kan? Leo mengatakan padaku kalau ada orang Korea yang bersedia mengadopsi anak itu. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan itu!”


“Berhenti...” lirih Aleya memohon. Hatinya begitu sakit saat mendengar ibunya memanggil Han Byeol sebagai anak haram.


“Lagi pula bagimana bisa kau menikahi Aleya? Bagaimana anak itu berhasil menggodamu! Kalau kau orang yang berpikiran logis, mana mungkin kau mau menikahi wanita yang memiliki anak tidak jelas!” Krisma merasa tidak terima di pandang sebagai orang yang paling bersalah hingga ia melemparkan kekesalannya pada San Hyuk.