CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 56; Bertemu



“Kenapa orangmu dan Robin ada di sana?” selidik Aleya.


“Aku juga tidak tahu, apa kau mengatakan sesuatu pada Robin sore tadi?” pertanyaan Jagad tidak bermaksud menyudutkan Aleya. Tapi belum pernah Robin bertindak dengan insiatifnya sendiri selama ini.


“Aku...”


“Telepas dari dia anakku atau bukan, aku berjanji padamu bahwa aku akan melindunginya. Bahkan dengan mempertaruhkan nyawaku jika itu perlu.”


Aleya tertegun sesaat mengingat janji yang diikrarkan oleh Robin siang tadi.


“Apa? Katakan sesuatu, jika itu bisa membantu!” desak Jagad.


“Aku tidak tahu apakah ini ada kaitannya atau tidak tapi Robin berjanji padaku akan melindungi Han Byeol,” ucap Aleya jujur.


“Orang gila!” Jagad mendengus kesal. Ia tahu benar karakter Robin. Walau rekannya itu bukan orang yang abisius, tapi jika sudah memiliki tujuan ia tidak akan mundur sampai tujuan itu tercapai. Hal yang positif memang, tapi sangat berbahaya.


“Aku sudah mengatakan kalau itu tidak perlu. Bagaimana bisa ia menjanjikan sesuatu seperti itu. Ia bahkan tidak mengenal Han Byeol?” kilah Aleya. Sebenarnya ia memiliki kekhawatiran di dalam hatinya. Bagaimana bila itu benar terjadi? Bagaimana jika kedua orang itu dalam bahaya?


“Robin akan melakukan apa pun demi dirimu...” Jagad mengakui fakta itu. Selama ini Aleya masih menempati posisi wahid di dalam hati laki-laki yang kesepian itu. Jagad hanya memanfaatkan sisi lembut Robin untuk mengikatnya.


Aleya memilih diam dan tak banyak berkomentar. Ada rasa tidak pantas yang ia rasakan saat ini. Jika dipikir jauh ke belakang, ia memang bisa melihat perhatian Robin untuknya kala itu. Tapi sekali lagi, semua itu sudah menjadi masa lalu yang tidak mungkin Aleya punguti puingnya. Seberapa besar pun penyesalan dan rasa yang disimpan oleh Robin tidak bisa memungkiri waktu yang telah berlalu.


Perjalanan menuju Seoul terasa lebih lama dari biasanya. Ruang di sekitar dua orang yang  mengkhawatirkan dua hal yang berbeda itu terasa begitu pendek dan sempit. Tekanan yang dirasakan membuat segalanya terasa menyesakan dada. Hanya harap semoga yang mereka khawatirkan tidaklah nyata.


***


Robin tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Begitu sesi foto Jagad selesai, ia menyelinap dan mencari salah satu bawahan Alex yang ada bersama mereka. Dengan bahasa seadanya ia meminta orang itu mengantarkannya ke sekolah Han Byeol. Ia lantas bergabung dengan dua orang yang berjaga dan bersedia menggantikan salah satunya untuk mengawasai pergerakan Han Byeol malam ini.


Tujuannya tidak lain adalah untuk melihat anak itu lebih jelas. Ia ingin tahu rupa Han Byeol dari dekat. Walau tidak berniat menyapa, ia hanya ingin mematri wajah anak itu di dalam benaknya.


Seperti yang diceritakan oleh orang yang bersamanya, Han Byeol memiliki rutinitas yang jelas dan monoton. Ia hanya bersekolah dan selepas pulang sekolah ia akan pergi ke tempat bimbingan belajar atau ke agensi tempatnya berlatih bernanyi dan menari?


Apa Han Byeol memiliki cita-cinta untuk menjadi seorang idola?


“Itu...” dengan bahasa tubuh, orang yang bersama Robin menunjuk ke arah sosok pemuda yang memiliki postur tubuh yang cukup mencolok di usianya yang masih remaja. Mata Robin melebar saat melihat Han Byeol. Sangat mudah mengenalinya karena ia memiliki karakter wajah yang mirip dengan Jagad.


Seperti ada magnet yang saling menarik satu sama lain, Robin mengeratkan cengkraman tangannya pada handle pintu mobil untuk menahan keinginananya untuk menghampiri Han Byeol. Apa yang akan dikatakannya kalau itu sampai ia lakukan?


Mobil Robin lalu mengikuti mobil Han Byeol yang memimpin jalan di depan. Mereka menjaga jarak aman agar tidak telalu menarik perhatian.


Robin hanya mengangguk dan kembali menunggu. Ia memutuskan untuk keluar ke mini market dan mencari rokok.


Tapi tidak sampai setengah jam mobil yang mengantar Han Byeol pergi, mata elang Robin menangkap sesuatu yang aneh. Ia melihat Han Byeol keluar dari pintu samping dan berjalan menyusuri lorong yang lebih sempit.


Robin lantas menjejak rokoknya sebelum mengikuti langkah Han Byeol.


“Tuan!” panggilan itu ia abaikan dan memilih untuk terus mengikuti langkah Han Byeol. Ia tidak ingin kehilangan jejak pemuda itu.


Han Byeol berjalan tanpa mengamati sekelilingnya. Ia hanya mengamati dan sibuk dengan ponselnya sambil mengambil jalan gang yang memutar. Ia seolah sedang mengikuti arahan seseorang tanpa memedulikan apa yang terjadi di sekitar.


Robin menelan ludah saat ia merasakan pergerakan yang janggal dari beberapa orang. Ia berpura-pura tidak melihat namun tetap waspada. Ia mempercepat langkahnya untuk bisa menyamai langkah kaki Han Byeol.


Dalam sekali gerakan, Robin menyenggol bahu Han Byeol dan membuat gawainya terlempar dari tangan. Ia lalu buru-buru mengambil ponsel itu dan menyerahkannya kembali pada Han Byeol. Layar ponsel itu retak dan mati saat diserahkan pada Han Byeol.


“Maafkan aku...” Robin sengaja menggunakan bahasa Indonesia.


“Tidak apa-...” Han Byeol tanpa berpikir panjang menjawab Robin.


Robin tersenyum pada Han Byeol. Anak itu bisa berbahasa Indonesia. Fakta ini sedikit membuat Robin sedikit lega. Setidaknya ia tidak kesulitan untuk berkomunikasi dengannya.


Han Byeol merasa kecolongan. Ia lupa pesan Aleya agar berhati-hati menggunakan bahasa Indonesia dalam waktu dekat ini. Ia yang terlambat menyadari kesalahannya akhirnya memberanikan diri untuk mendongak dan menatap mata Robin.


Ada desiran aneh yang dirasakan sepasang ayah anak itu. Walau keduanya tidak mengetahui identitas masing-masing namun mereka merasakan aura femiliar yang saling menarik insting masing-masing.


“Kau mau pergi ke mana?” tanya Robin setengah berbisik, “tetap lihat aku, jangan menoleh...” perintahnya.


Han Byeol menyadari kesalahan yang telah ia perbuat. Ia terpaku menatap laki-laki di depannya. Walau ia tidak tahu apakah orang di depannya itu jahat atau tidak, tapi ia merasakan bahwa laki-laki itu sedang berusaha menolongnya.


“Siapa...” Han Byeol hendak bertanya, tapi kembali di hentikan oleh Robin.


“Apa kau pelari yang cepat? Aku pelari yang baik tapi sayangnya aku tidak tahu kita ada di mana,” Robin mengamati sekitar sambil menghitung berapa orang yang berjalan mendekat.


“Entah siapa yang menggiringmu kemari, tapi ada tiga sampai empat orang yang sedang berjalan ke arah kita...” Robin berkata sambil berpura-pura mengabaikan situasi di sekitarnya.


“Tuan!” suara itu berasal dari rekan Robin yang mengejarnya tadi. Panggilan itu seolah menjadi tombol start yang membuat orang-orang yang dicurigai oleh Robin bergerak cepat sesuai dengan dugaannya. Menyasar dan menjadikan Han Byeol sebagai targetnya.


“Sial! Lari, ke mana pun kau tahu. Aku akan mengikutimu!” perintah Robin sambil menyuruh Han Byeol untuk memimpin jalan.