
“Sial! Lari, ke mana pun kau tahu. Aku akan mengikutimu!” perintah Robin sambil menyuruh Han Byeol untuk memimpin jalan.
Han Byeol terkejut dengan perintah Robin yang tiba-tiba. Ia reflek melihat sekitar dan menyadari bahwa seperti yang dikatakan oleh Robin sebelumnya, ada orang-orang yang mulai berlari ke arahnya.
“Run!” teriak Robin yang ditujukan pada orang yang tadi mengikutinya. Tapi sial, orang itu justru langsung berhadapan dengan pria yang ada di dekatnya. Robin masih bisa melihat orang itu dihajar tanpa perlawanan yang berarti. Orangnya kalah postur dan kemampuan berkelahi. Robin juga tidak bisa menolongnya karena ia jauh dari jangkauan Robin.
“Cepat!” Robin menarik Han Byeol agar tersadar dari keterkejutannya.
Han Byeol tidak pernah berpikir hidupnya akan mengalami fase seperti ini. Dadanya bergemuruh saat ia mulai berlari menyusuri gang yang sudah semakin gelap. Pada dasarnya ia juga tidak tahu ada di mana saat ini mengingat ia hanya datang dan pergi ke wilayah itu untuk sekedar bimbingan belajar. Ia tidak pernah menyempatkan diri untuk jalan-jalan apalagi menghapal gang.
Langkah Han Byeol terhenti saat seseorang menghadang jalannya. Otomatis keduanya memelankan langkah karena melihat laki-laki itu memegang sebilah pisau di tangan kanannya.
“Jangan ikut campur atau kau akan mati,” katanya yang ditujukan ke Robin tentunya.
“Apa artinya?” Robin masih dengan tenang bertanya pada Han Byeol.
Han Byeol menerjemahkannya persis seperti maksudnya.
“Cih, dia kira aku mau mati ditangannya?” Robin membuang sengaja ludahnya kasar, “Jika ada celah, manfaatkan untuk menyelamatkan diri terlebih dahulu. Aku akan menyusulmu,” Robin lalu berpindah ke depan Han Byeol dan mulai mencoba menembus pertahanan orang yang memiliki badan yang lebih besar darinya itu. Ia melayangkan pukulannya dan mencoba membidik pisau yang dipegang sebagai sasaran utama.
Gerakan keduanya sama-sama cepat. Hanya saja laki-laki itu kalah gesit dari Robin. Otot di tubuhnya terlalu besar untuk berkelahi walau memang benar kekuatannya sangat terasa saat bogem kirinya mengenai pipi Robin. Tapi pikiran Robin masih fokus hingga ia bisa membalas serangan orang itu hingga ia lebih unggul.
Saat Robin masih bertukar bogem dengan pria yang menghadangnya, orang-orang yang semula mengejarnya mulai muncul. Han Byeol yang melihat itu ikut waspada dan mulai menguatkan kuda-kudanya. Ia menghajar orang terdekat dengannya dengan jurus tae kwon do yang dipelajarinya.
“Kau bisa berkelahi?” tanya Robin disela-sela pergumulannya, “bagus, ini kesempatanmu untuk mempraktikan teori sialan itu. Bukan medali yang kau pertaruhkan tapi nyawa kita di sini,” Robin masih bisa menceramahi Han Byeol walau ia sedang sibuk dengan laki-laki berbadan beruang di hadapannya.
Robin mencari peluang yang tepat untuk melumpuhkannya. Jika tidak, ia akan kehilangan tenaganya karena stamina lawannya yang kuat. Dalam satu gerakan, Robin menghalau pisau dengan tangan kosong kemudian ia menghunus sikunya tepat di relung hati dan begitu orang itu tertunduk, ia menghajar tengkuknya hingga akhirnya tubuh itu ambruk di tanah.
Robin mengatur nafasnya sebentar kemudian berbalik ke arah Han Byeol. Ia mengambil sebilah kayu panjang dan memotongnya menjadi dua bagian dengan siku bangunan. Dengan senjata seadanya, Robin maju dan langsung memukul tubuh yang menyerang Han Byeol.
“Good!” Robin kembali memuji Han Byeol yang menendang orang yang menyerang Robin dari belakang, “kau bisa merasakan adrenalin yang menyenangkan bukan?” kembali satu orang terkapar terkena pukulan dan tendangan Robin.
“Kita harus mengalihkan perhatian mereka dan keluar dari gang sialan ini. Cari jalan besar dengan banyak orang…” Robin maju terlebih dahulu melayangkan tendangannya sambil mengayunkan kayu yang ada di tangannya.
“Ambil lorong di sebelah kiri, arah jam 6!” kata Han Byeol sambil membantu Robin, “hati-hati, dia membawa senjata!” peringatan Han Byeol sedikit terlambat. Robin terkena mata pisau yang dipegang oleh lawannya di bagian dalam lengan. Ia berhasil mengelak hingga tidak sampai melukai tubuhnya. Darah segar kembali mengalir dari luka kedua yang ia terima.
“Paman!” saat perhatian Han Byeol teralihkan oleh darah yang ia lihat, pukulan keras mengenai wajahnya. Membuat pemuda itu terhuyung ke samping.
Robin langsung menerjang dan memukul kembali lawannya dengan sekuat tenaga, “ayo!” ia menarik lengan Han Byeol dan berlari dengan sisa tenaga yang mereka miliki. Prioritas mereka bukanlah memenangkan perkelahian namun keluar dari situasi rumit ini.
Brak!!
Mata Han Byeol membulat saat ia melihat tubuh Robin terlempar karena tertabrak mobil dari samping. Tubuh laki-laki itu menggelinding sebelum akhirnya berhenti di seberang jalan. Orang-orang yang semula mengejar keduanya mudur demi melihat kejadian itu. Banyak orang yang mulai berkerumun di dekat lokasi.
“Paman…” Han Byeol mendekati Robin yang terlentang di jalanan dengan tubuh gemetar. Kakinya lemas begitu sampai di samping Robin. Ia lantas melihat sekeliling, “tolong panggilkan kami 911!” teriak Han Byeol.
“Jangan menangis! Kau itu laki-laki…” Robin masih sadar, “aku tidak apa-apa anak nakal!” Robin berusaha untuk duduk. Ia bisa merasakan sakit di seluruh badannya tapi ia masih bisa menggerakan semuanya dengan normal. Untung saja jalanan itu tidak terlalu lebar hingga pengemudi mobil hanya melaju pelan.
“Jangan bergerak dulu…” Han Byeol menangkap bahu Robin dan menahan tubuh laki-laki itu agar tidak terlalu banyak bergerak.
“Katakan pada pengendara mobil itu untuk tidak perlu khawatir, aku juga minta maaf karena membuatnya terkejut…” kata Robin saat melihat pengemudi mobil yang ditabraknya panik terlebih melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuh Robin.
“Paman, jangan banyak bicara dulu!” Han Byeol menajamkan telinganya untuk mendengar suara sirine yang terus dinantikannya. Ambulance belum juga datang dan ia mulai tidak sabar ingin membawa Robin ke rumah sakit. Darah yang keluar dari tubuh laki-laki itu semakin banyak.
“Robin, panggil aku Robin…” Robin masih sempat mengenalkan dirinya. Ia merasa risih dipanggil paman oleh anak itu.
“Aku Han Byeol,” Han Byeol heran dengan orang yang baru saja ia kenal itu. Bisa-bisanya masih mengenalkan diri disaat keadaanya seperti itu.
Han Byeol bisa sedikit merasa lega saat mobil ambulan yang ia tunggu-tunggu akhirnya tiba. Petugas medis langsung saja mengangkat tubuh Robin ke atas brangkar dan membawanya masuk ke dalam mobil. Han Byeol turut serta dalam mobil itu sambil mengamati petugas medis yang baru memeriksa kondisi Robin.
“Bisakah membawa kami ke Rumah Sakit S University?” tanya Han Byeol. Hanya rumah sakit itu yang mungkin bisa membantu mereka berdua dengan cepat. Han Byeol masih di bawah umur, ia tidak memiliki akses untuk menjadi penanggungjawab Robin. Tapi jika di Rumah Sakit S, setidaknya ia bisa meminta tolong rumah sakit untuk mengubungi keluarganya.