CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 46; Hadiah



“Apa aku kini harus berterima kasih karena kau melakukannya sendiri?” tidak seperti isinya, nada bicara Aleya lebih ke arah menyindir.


“Bukan begitu maksudku...” Robin semakin panik tapi ia juga tidak tahu bagaimana menjelaskan tindakannya pada Aleya. Biar bagaimanapun juga tidak ada yang bisa dibenarkan dari perbuatan bejatnya.


“Padahal aku berpikir kaulah satu-satunya orang baik yang ada dalam kelompok itu. Ternyata kau juga sama. Sama-sama bajingan!” Aleya tidak bisa memfilter lagi ucapanya. Ia benar-benar merasa kecewa dengan keputusan Robin.


“Aku tahu...”


“Kau tahu tapi...” Aleya sekali lagi menghempaskan tubuhnya di atas kursi, “berhenti dan duduklah di kursi. Kau tidak berharap aku akan memaafkanmu kan?” Aleya menyuruh Robin untuk berhenti berlutut di hadapannya. Pemandangan ini membuat Aleya terlihat sangat menyedihkan.


“Sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi hari itu!” Aleya hanya ingin penjelasan terlepas siapa ayah Han Byeol yang sesungguhnya.


Sikap Robin dalam acara makan malam itu seolah menjadi celah di mana Aleya bisa mencari penjelasan atas kejadian di masa lalu. Robin seolah menjadi satu-satunya kunci dari gelapnya kejelasan atas apa dan mengapa peristiwa itu harus terjadi padanya. Aleya tidak mungkin juga bertanya pada Jagad karena apa pun kalimat yang keluar dari mulutnya tidak dapat dipercaya.


Aleya hanya bisa memanfaatkan rasa bersalah Robin yang terpancar jelas dari kedua netranya. Hal itu terlihat jelas sejak pertemuan pertama keduanya.


***


Aleya masih berada di sekolah saat ponselnya yang di setting mode getar itu berderit perlahan dari dalam laci mejanya. Tubuhnya langsung kaku merespon sinyal bahaya dari panggilan yang tidak pernah diinginkan itu. Ia sudah tahu siapa peneleponnya. Tidak ada orang lain dan satu-satunya orang yang menghubunginya hanyalah kakak angkatnya. Jagad.


“Ha...halo...” Tidak sampai dering ketiga Aleya sudah harus mengangkat panggilan itu. Itulah aturannya. Aleya masih saja tergagap walau panggilan ini sudah tidak lagi asing baginya. Ia sudah berusaha untuk menenangkan diri, tapi tubuhnya terus saja mengirimkan tanda bahaya yang mengarah pada ketakutan. Naluri alamiahnya ingin bertahan dengan mengabaikan panggilan, tapi apa daya. Aleya hanyalah seekor kelinci yang entah kapan dikuliti jika batas kesabaran orang itu habis.


“Cepatlah keluar, Sayang...” panggilan itu membuat bulu kuduk Aleya meremang. Ia merasakan hawa dingin seolah dihantui arwah penasaran.


“Aku...aku..masih ada satu kelas, Kak!” Aleya tidak berbohong. Ia masih ada urusan dengan guru pembimbingnya terkait rencana studinya ke luar negeri.


“Wow, apa aku ingin menjemputmu dulu Tuan Putri?”


“Tidak! Aku akan keluar dalam waktu sepuluh ah tidak lima menit!” Aleya langsung menjawab cepat. Panggilan Tuan Putri adalah panggilan terburuk. Kakaknya itu bisa saja masuk ke dalam sekolah dan membuat kegaduhan yang hanya akan membuat dirinya terbebani. Lebih baik ia segera pergi tanpa menimbulkan keributan.


Buru-buru Aleya memasukan semua alat tulisnya ke dalam tas. Ia juga sengaja meninggalkan buku paketnya di dalam laci agar tidak membebaninya. Hanya tertinggal alat tulis dan buku catatan di dalam tas itu sebelum Aleya meraih jaketnya dan bergegas ke luar kelas. Sikap Alaya itu pun hanya mengundang lirikan tanpa berani menanyakan sebab musabab teman sekelasnya itu pergi dengan tergesa-gesa. Rumor tentang Aleya sudah mengakar di dalam lingkungan sekolah. Bahkan sampai Jagad lulus setahun yang lalu pun, Aleya masih sendiri tanpa seorang pun teman yang berani bergaul dengannya.


Kehidupan SMA Aleya sangat sunyi. Tapi gadis itu juga tidak bisa melakukan apa pun. Itulah takdirnya dan dia tidak ingin orang lain yang tidak bersalah terlibat apalagi menderita karenanya. Ia tidak ingin teman-teman yang berbaik hati mengajaknya bicara menjadi korban rundungan kakaknya.


Aleya berlari melewati lorong kelas dan masuk ke ruang bimbingan konseling tanpa permisi. Ia langsung bertemu dengan guru pembimbingnya untuk mengabarkan kondisinya.


“Tapi ini penting Aleya...”


“Aku tahu Ibu. Tapi aku tidak ingin Ibu dalam masalah hanya karena menahanku pergi lebih lama. Kita bicarakan besok Bu. Aku harus pergi sekarang. Kakakku sudah menjemputku...” tanpa menunggu jawaban dari gurunya, Aleya sudah pergi. Teman seprofesi guru itu juga menahannya agar tidak menghalagi Aleya pergi.


“Kenapa tidak ada satu pun orang yang berani dan bisa menolongnya sih?” keluh wanita muda itu. Ia sudah tahu apa yang terjadi pada Aleya. Bahkan dua guru sekolahan itu sudah dimutai gara-gara mencoba melawan Jagad.


Aleya menelan salivanya begitu ia keluar dari gedung sekolah. Bagaimana tidak, jika orang tidak tahu bagaimana sebenarnya cara Jagad memperlakukannya selama ini. Mungkin ini adalah pemandangan yang sangat menajubkan dan membuat siapa saja iri terhadapnya.


Jagad kini tengah melemparkan senyumnya sambil melambaikan tangannya pada Aleya. Laki-laki yang memang berparas tampan itu duduk bersandar di depan mobil Mercedes-Benz C-Class berwarna merah sembil menebar senyum pada beberapa siswi yang lewat di depannya. Bahkan beberapa siswi sengaja untuk melihat Jagad begitu mereka mendengar kabar ada laki-laki tampan dan kaya berada di halaman parkir sekolahnya.


Aleya menyeret kakinya untuk menghampiri Jagad. Beberapa siswi yang melihat Aleya menghampiri laki-laki itu berteriak iri dan cemburu. Terutama anak-anak baru yang tidak mengetahui siapa Aleya dan Jagad sebenarnya. Mereka melempar bisikan untuk mencari tahu siapa dan dari kelas mana Aleya berasal.


“Kau datang satu menit lebih awal dari waktu yang kau janjikan...” Jagad mengusap peluh yang mengalir dari pipi Aleya dengan punggung tangannya. Pemandangan itu membuat beberapa orang berteriak iri.


Aleya memilih tidak menjawab dan mengatur nafasnya yang tersengal akibat lari dari sekolah ke halaman. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Jagad padanya hingga ia tidak ingin mengetes kesabaran laki-laki itu.


“Apa kau tidak bisa bersikap layaknya perempuan pada umumnya? Lihatlah mereka semua iri padamu...” Jagad kembali melempar senyum sambil menarik Aleya ke dalam pelukannya. Ia berbisik di telinga Aleya dan membuat drama di sekolah itu kian membara.


“Tentu saja tidak bisa karena aku bukan perempuan biasa,” jawaban pahit inilah kenyataan yang harus di hadapi oleh Aleya.


“Kau tahu benar di mana posisimu dan kau mencoba kabur dariku?” Jagad menatap tajam ke arah Aleya. Ia kemudian mendaratkan kecupan di pipi Aleya, “jangan melakukan hal yang membuatku kehilangan kewarasanku.”


Aleya bergidik ngeri. Ia tidak bisa melawan saat Jagad menyeret tangannya dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


“Minum ini...” Jagad memberikan minuman kemasan yang masih dingin. Aleya ragu menerimanya. Tidak biasanya ia bersikap baik seperti itu.


“Ayolah kenapa kau menatapku seperti itu?” Jagad tersenyum menatap Aleya, “aku akan memberimu hadiah yang tidak akan pernah kau lupakan...”