CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 48; Hanyut



“Kau benar-benar gila...” Robin mengucapkan kalimatnya dengan susah payah. Ia merasakan tubuhnya semakin memanas dan ada naluri alamiah yang tututan hasratnya seolah tidak bisa terbendung oleh akal sehatnya.


“Bajingan gila...” desis Robin lagi.


“Kau hanya tinggal memejamkan matamu dan ini semua akan selesai...” Jagad membujuk Robin untuk terkahir kalinya. Setelah itu ia hanya menyerahkan sisanya pada naluri dasar yang dimiliki setiap manusia.


Robin terlambat menyadari bahwa obat yang telah ia minum merupakan obat yang membuat naluri alamiah untuk bereproduksi bergerak lebih aktif dari normal. Hanya melihat paha Aleya yang sedikit terbuka saja sudah membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Robin tidak bisa menahannya lebih lama. Ia hanya akan memenuhi keinginan Jagad untuk mengambil gambar secukupnya kemudian meninggalkan Aleya selagi pikirannya masih ada dalam kendalinya.


Robin melangkah maju dan langsung mengambil tempat di atas tubuh Aleya. Ia mulai melucuti pakaia bagian atasnya dan melemparnya ke sembarang arah. Tangan Robin bergetar saat meraih kancing bagian atas seragam Aleya. Ia sekuat tenaga berperang dengan nalurinya dan melepas satu persatu kancing baju gadis itu. Robin berulang kali menelan salivanya saat melihat kulit bahu Aleya yang terbuka. Masih ada dua lapisan yang mengalangi pandangannya langsung ke arah tubuh putih itu.


“Lepaskan tanktopnya...” perintah Jagad tepat dari belakang bahu Robin. Ia mengambil gambar dari balik bahu Robin sehingga yang terlihat hanya wajah dan tubuh Aleya.


Robin hampir gila sesaat setelah ia melakukan perintah Jagad. Ia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Aleya sebelum melepas penutup terakhir kain bagian atas yang dikenakan oleh gadis itu sesuai dengan perintah dari Jagad.


“Nikmati malam kalian...” Jagad tersenyum setelah mengambil gambar yang dia inginkan. Sudah cukup, ia tidak perlu untuk mengambil gambar kegiatan inti. Gambar yang ia ambil sudah cukup untuk membuat asumsi yang akan membuat hati ayahnya tercabik-cabik.


Jagad lalu menutup kameranya dan meninggalkan pergumulan panas itu pada Robin. Entah dia berhasil atau tidak itu biar urusannya.


Robin masih memiliki kesadarannya saat mendengar pintu kamar di tutup dari luar. Ia menjatuhkan diri ke samping agar tubuhnya tidak bersentuhan lagi dengan tubuh polos Aleya. Situasi  ini benar-benar menyiksa. Ia harus segera pergi agar gairah yang membakar tubuhnya tidak membuatnya kehilangan kewarasannya.


Robin baru saja akan menarik diri saat tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan kulit Aleya yang terasa begitu panas. Ia mengamati gadis itu dengan seksama. Pandangan sendu kedua mata itu bertemu. Ada gelenyar aneh yang tiba-tiba menjalar dari dalam perut Robin.


“Pa...nas...” mulut Aleya terbuka membisikan kalimat tanpa nada.


“Brengsek...” Robin menyadari bahwa tidak hanya dirinya yang dikendalikan oleh obat itu tapi juga Aleya. Tidak hanya hanya itu, ia tidak tahu seberapa banyak dosis obat yang diberikan untuk Aleya hingga ia seperti orang yang kehilangan kesadarannya. Gadis itu bahkan tidak bisa menggerakan tubuhnya dengan benar hingga ia hanya bisa berusaha mengapai ruang kosong di hadapannya tanpa arah yang jelas.


“Al?” Sentuhan ringan pada bahu Aleya memberikan dampak yang tidak bisa dielakan oleh Robin. Nafas keduanya tersengal mengirimkam pheromone yang menyesakan dada. Robin perlahan kehilangan kesadarannya. Tangannya mulai bergerilya menyusuri kulit pucat Aleya.


Robin menyerah pada perasaan dan nalurinya. Perasaan yang selama ini ia simpang untuk Aleya membuncah bagikan banjir bandang yang menerjang apa pun termasuk akal sehatnya.


Robin hanyut


Ia bergumul dalam luapan keruh tanpa tahu arah yang lurus.


Terus menerjang tanpa memikirkan konsekuensi yang menyakitkan.


***


“Bangun!” Jagad membangunkan teman-temannya yang masih tertidur pulas di ruang tamu. Kepalanya masih pusing karena minuman beralkohol yang ia tengak bersama dengan teman-temannya.


Melihat tidak ada pergerakan yang ia inginkan, Jagad berjalan limbung ke dalam kamar. Ia membuka kamar yang semalam ditempati Robin dan Aleya tanpa mengetuknya. Ia melihat Robin yang masih tertidur dan langsung menariknya.


“Bangun! Pindah dari sini!”


Tiba-tiba perut Robin terasa melilit dan mual. Ia berlari keluar dari kamar dan pergi ke kamar mandi yang ada di luar kamar utama. Semua isi perutnya ia keluarkan di dalam toilet. Ingatan samar itu membuatnya merasakan pergulatan batin yang seakan merengkuh kewarasannya.


“Pakai bajumu...” Jagad melempar pakaian Robin di samping pintu, “orang gila...” desisnya.


Robin merangkak untuk meraih bajunya dengan kepayahan. Begitu ia berhasil mengambil bajunya ia menutup pintu kamar mandi dengan sisa tenaga yang ia miliki.


“Brengsek!” Robin memukul kepalanya sendiri, menyalahkan logikanya yang entah ia gadaikan kemana. Rasa kecewa dan jijik yang ia rasakan pada dirinya sendiri membuat Robin kembali mual. Ia terus saja memutahkan isi perutnya hingga cairan kuning dan pahit yang tersisa. Air mata laki-laki itu lirih mengalir bersama isak tangisnya.


Robin meringkuk disudut kamar mandi sambil menangis menyesali kebodohannya. Entah apa yang membutakannya hingga ia tidak bisa melindungi gadis yang dicintainya selama ini. Ia selalu berusaha melindungi Aleya dari siapa saja yang berusaha menyakitinya tapi kini dia sendiri yang justru mencabik-cabik kesucian dan kepercayaan gadis itu.


Robin ingin mati detik itu juga.


Tapi jika ia mati, bagaimana Aleya akan hidup dan menanggung semuanya sendiri?


Saat Robin sibuk menyalahkan dirinya sendiri di kamar mandi, terjadi keributan di luar. Beberapa orang masuk ke dalam villa dan membuat orang-orang Jagad yang belum sadar mulai membuka mata.


“Kurang ajar!”


“Papa!”


Teriakan itu bergantian berasal dari Thomas dan Krisma yang baru saja sampai di dalam villa dan mendapati perbuatan bejat anaknya. Tanpa babibu, Thomas menghajar Jagad sementara orang yang dihajar hanya tersenyum tiap kali menerima pukulan sang ayah.


“Cukup Papa! Dia anak kita satu-satunya!” teriak Krisma sambil memeluk suaminya.


“Aku tidak pernah membesarkan seorang bajingan yang tega meniduri adiknya sendiri!” Thomas yang murka tidak bisa menahan emosinya dan melampiaskan pada beda apa pun yang ada dijangkauan tangannya.


“Kenapa?” Jagad mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, “aku mencintainya...” dustanya.


“Dia adikmu!” teriak Thomas semakin murka.


“Nikahkan saja kami, bukankah semua orang tau bahwa ia bukan saudaraku! Dia hanya anak angkat! Sudah untung aku mencintainya!” Jagad seolah sengaja mematik api di hati Thomas. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Thomas.


“Diam!” kembali Thomas melayangkan pukulan di wajah putranya.


Perkelahian itu membuat semuanya sadar, bahkan Robin yang tadi ada di kamar mandi sudah keluar untuk melihat apa yang terjadi.


Tapi dari semua kekacauan itu, Aleya masih tak sadarkan diri.


Ia larut dalam tidur panjang yang lebih indah daripada kenyataan yang harus dihadapinya kelak.