CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 22; Rasa



“Selama kami di rumah sakit, kau tinggal di rumah kakek. Aku sudah memberi tahu Pak Leo untuk mengabarkan pada keluarga ibunya. Mereka tidak akan datang ke apartemen untuk beberapa waktu,” ucapan San Hyk lebih ke perintah pada putranya. Ia bahkan sudah menghubungi Pak Choi untuk menjemput Han Byeol di kamar perawatan. Supir pribadinya itu bahkan sudah berganti pekerjaan untuk mengantar jemput ke mana pun Han Byeol pergi.


“Tidak bisakah aku tinggal bersama kalian malam ini?” Han Byeol memasang wajah memelas agar ayahnya itu mengizinkannya tinggal.


“Tidak, cukup satu pria di ruangan ini, kasihan Eommamu jika kita berdua di sini. Berisik!” tolak langsung. Ia tidak ingin menambah beban Han Byeol, “lagi pula kau harus istirahat yang banyak dan belajar! Kau bukankah sebentar lagi ujian?”


“Aku ingin bersama...”


“Bukankah kau menyuruh Appa untuk merayu Eommamu? Kalau kau di sini bagaimana Appa bisa meyakinkannya untuk tinggal bersama?”


Han Byeol langsung menyambar ransel dan gawainya kemudian meraih tangan San Hyuk untuk menciumnya. Ia juga berlari pelan ke pinggir brangkar untuk bisa mengecup pipi Aleya, “semoga Appa sukses!” bisik Han Byeol.


“YA!” San Hyuk hanya  menggeleng pelan dengan tingkah polah putranya. Ia kini merasa memiliki sekutu untuk membuat Aleya tidak bisa lari dari jerat cinta mereka berdua.


San Hyuk memberesi kekacauan yang ditinggalkan oleh putranya dan berniat beranjak untuk membersihkan diri saat Aleya tiba-tiba memanggilnya.


“Kau sudah bangun? Apa kami membuatmu terbangun? Atau ada yang sakit?” San Hyuk bergegas menghampiri Aleya. Ia bahkan menanggalkan baju gantinya asal di atas sofa saat melihat bayangan Aleya yang berusaha duduk sambil memanggilnya.


San Hyuk meraih bahu ramping Aleya untuk membantunya duduk. Dia naikan sandaran tempat tidur dan mengganjalnya dengan bantal agar Aleya duduk lebih nyaman.


“Kau dengar semuanya?” selidik San Hyuk setelah ia menangkap riak tipis di mata cokelat Aleya.


“Ini semua salahku... ini salahku karena membuatnya berpikir seperti itu...aku...” Aleya menutup wajah mungilnya dengan kedua telapak tangan. Tidak seperti pribadi Aleya yang begitu sempurna dan tegas di kantor, sosok Aleya di belakang layar penuh luka dan rapuh. Walau San Hyuk tahu bahwa sosok Aleya memang sangat rapuh, tapi jarang sekali ego wanita itu kalah oleh kenyataan pahit itu. Jarang sekali Aleya mengeluhkan hidupnya.


Melihat sosok Aleya yang menunjukan sisi ini membuat San Hyuk sedikit bisa merasa lega. Jika wanita itu semakin kuat, tidak ada celah untuknya mengisi ruang kosong di dalam kehidupannya. Atu justru jika sebaliknya Aleya berpura-pura kuat, maka ia takut wanita itu akan sangat hancur jika sedikit saja badai masa lalunya mengempurnya.


“Jangan bicara seperti itu!” San Hyuk tidak hanya memberikan kata penghibur, ia juga meraih tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya. San Hyuk yang awalnya duduk di atas brangkar kini sudah setengah berbaring memeluk Aleya.


“Itu kata yang paling bodoh yang kau ucapkan! Apa kau mau menyerah? Sebelum kau berperang? Apa ada yang merasukimu? Seperti bukan kau saja!” San Hyuk mencoba untuk memberikan semangat pada Aleya yang kini seolah putus asa. Wanita yang dikenalnya seolah berubah menjadi sosok remaja belasan tahun yang plin plan.


“Jika apa yang dikatakan Han Byeol benar, ayo tinggal bersama!” San Hyuk menangkap kedua pipi Aleya, ia ingin melihat kejujuran di mata wanita itu, “apa setelah sekian tahun kau tidak berpikir sedetik pun bahwa kau mungkin mencintaiku?”


Aleya terkejut dengan pertanyaan San Hyuk. Matanya bergetar seiring dengan buliran bening yang mulai mengaliri sudut matanya. Bagaimana bisa laki-laki itu masih mengatakan cinta walau sudah lebih dari satu dekade lamanya ia mulai merasakan perasaan itu?


Bohong jika Aleya tidak pernah mencintai San Hyuk. Ia sangat mencintai laki-laki itu hingga ia kesulitan untuk mengatakannya. Bahkan jika yang ia rasakan itu adalah cinta, San Hyuk mungkin cinta pertama bagi Aleya. Tapi semakin dia mencintai San Hyuk, ia semakin berkaca pada dirinya sendiri. San Hyuk begitu sempurna tapi lihatlah dirinya. Ia merasa tak pantas untuk bersanding dengan San Hyuk. Cintanya tidak bisa dibandingkan dengan cinta San Hyuk pada dirinya.


Aleya sudah mencoba menanggalkan masa lalunya dan mulai menerima semua kehangatan San Hyuk. Ia mulai memperbaiki diri untuk memberikan yang terbaik. Tapi belum ia tuntas, ia justru kembali di hadapkan dengan satu kenyataan yang selama ini ia lupakan dan abaikan. Aleya masih memiliki masa lalu yang belum sepenuhnya melepas belenggu yang menahannya untuk bebas lepas. Pertumbuhan Han Byeol membuat bayangan laki-laki bejat itu seolah menghantuinya. Ia tidak sangka bahwa putranya menyadari ketakutan yang muncul bak mata air di hatinya.


“Apa kau masih mencintai laki-...” karena Aleya hanya terdiam sambil mencucurkan air mata, San Hyuk memiliki pendapat bahwa mungkin kehadirannya tidak bisa menggantikan cinta wanita itu untuk laki-laki dari masa lalunya. Tapi begitu ia bertanya, ia justru terkejut saat tiba-tiba bibirnya bersentuhan dengan sepasang bibir mungil yang selama ini rasanya hanya dapat ia bayangkan di kepalanya.


Aleya panik saat melihat sirat kecewa dari mata San Hyuk. Tanpa sadar ia membungkam pertanyaan yang hendak terlontar dari mulut San Hyuk sekaligus ingin menyampaikan perasaannya pada laki-laki itu. Tapi kenapa nalurinya membuatnya bertindak gegabah seperti itu? Aleya buru-buru menarik bibirnya begitu ia merasakan nyeri di dadanya.


“Agh...” Aleya merasakan nyeri bersamaan di dada dan kepalanya.


Suara rintihan Aleya menyadarkan San Hyuk. Ia langsung melocat dari atas brangkar sambil memencet tombol panggilan darurat. Tak lama berselang dokter dan dua perawat masuk ke dalam kamar. San Hyuk segera menarik diri dari samping Aleya dan memberikan ruang gerak yang lebih leluasa pada mereka untuk memeriksa Aleya.


San Hyuk memalingkan wajahnya yang kini bersemu merah. Ia tahu benar apa yang membuat detak jantung Aleya tiba-tiba tidak wajar. Bahkan jika ada alat pendeteksi detak jantung yang dipasangkan padanya, ia pun akan menujukan gerakan yang tidak normal.


Sang Hyuk mengutuki dirinya sendiri. Akal sehatnya sejenak dikuasi oleh gairah naluriah yang membuatnya membalas kecupan sepontan Aleya. Hasrat yang sudah lama ia pendam itu seolah di sulut sumbu pematiknya hingga ia lupa kalau mereka ada di rumah sakit.


“Bedebah gila!” San Hyuk mengambil baju gantinya di atas sofa dan masuk ke dalam kamar mandi setelah dokter dan perawat itu keluar dari ruang perawatan.