
Hati-hati Aleya keluar dari ruangan. Ia langsung mengambil lift pegawai dan naik ke lantai 17 tanpa hambatan. Ia sebenarnya belum tahu apa yang akan ia tanyakan pada Robin. Tapi instingnyalah yang mengatatakan bawa Robin sedikit banyak tahu apa yang menyebabkan ia harus mendapatkan perlakuan mengerikan itu dari kakaknya. Setidaknya ia adalah kunci pertama yang mungkin bisa menuntunnya ke fakta yang sebenarnya.
Aleya langsung menelusuri lorong lantai 17 dan berhenti tepat di depan pintu kamar yang di tempati Robin. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu dengan sandi yang sudah diberikan padanya. Sepuluh detik ia menunggu dengan sabar sampai ia mendengar suara pintu kamar itu terbuka dengan sangat pelan.
“Ada...” kalimat Robin terhenti ketika ia menyadari siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Ia tidak mengira bahwa Aleyalah tamunya. Tidak pernah terlintas sedikit pun Aleya akan datang ke sini dengan kakinya sendiri seperti ini. Situasi ini membuat Robin tiba-tiba panik.
Robin cepat-cepat menutup pintu.
Menyadari bahwa kedatangannya tidak diharapkan, Aleya langsung menganjal pintu itu dengan sepatunya. Celah yang ada ia gunakan untuk mendorong pintu itu lebih kuat hingga membuat Robin yang belum siap dengan gerakan Aleya terkejut dan hanya bisa terdorong ke belakang.
Robin masih setengah sadar saat Aleya merengsak masuk ke kamarnya.
“Uh, baunya...” Aleya bisa mencium bau nikotin yang kuat di kamar itu. Walau kamar yang dipesan sudah smoking room tapi sepertinya pembersih udara di sini tidak cukup untuk mengusir bau asap rokok yang disesap oleh Robin di dalam kamar.
“Al…” Robin meraih kaus yang tergeletak di lantai. Ia buru-buru menutupi tubuh bagian atasnya.
“Ada apa denganmu?” pertanyaan ini bukan karena Aleya merasa akrab atau simpati melainkan murni karena penasaran. Ia bisa dengan jelas melihat tubuh bagian atas Robin yang memar membiru di beberapa tempat. Seolah ia baru saja dijadikan bulan-bulanan oleh seseorang.
Robin memilih tidak menjawab dan duduk di atas kursi yang besebrangan dengan Aleya berdiri. Tidak mungkin ia menjawab bahwa luka yang ia terima adalah hasil perbuatan kakaknya sendiri. Jagad menghajarnya setelah ia kembali dari usahanya untuk menemui Aleya yang sia-sia. Begitu sampai di hotel, Jagad langsung memukuli Robin dan melampiaskan kemarahannya atas apa yang terjadi pada Aleya.
Tentu saja, Robin tidak membalas karena itu memang kesalahannya. Ia lah orang yang menghamili adiknya. Sudah barang tentu Jagad marah karena ia telah menghancurkan rencana atasannya itu.
Mungkin ini juga alasan kenapa Aleya dengan berani mencarinya ke sini seorang diri. Kedua kakak beradik itu sama jika sudah menyangkut kegigihan.
“Apa dia menghajarmu?” tebak Aleya begitu Robin diam saja. Ia sudah menduga bahwa satu-satunya orang yang bisa membuatnya seperti itu hanyalah Jagad. Apalagi setelah ia melihat buku jari Robin yang bersih tanpa luka. Itu membuktikan bahwa laki-laki itu hanya menerima pukulan tanpa melakukan perlawanan.
“Kenapa kau datang mencariku?” Robin berhasil mengatur nafasnya dan memperoleh ketenangan. Ia pelan-pelan memberanikan diri menatap Aleya.
Tidak hanya penampilan Aleya yang semakin dewasa, sorot mata wanita itu jauh berubah dari kepolosan menjadi penuh dengan ancaman. Ia bisa merasakan aura yang keluar dari setiap bahasa tubuh wanita itu. Kepercayaan dirinya jelas-jelas terlihat hanya dari sekali lihat.
“Bukannya kau yang ingin mengatakan sesuatu padaku tadi?” Aleya balik bertanya. Ia menarik kursi dan duduk di atasnya sambil menyilangkan tangan di depan dada.
“Bukankah aku terlalu baik untuk memberimu kesempatan? Apa kau akan melewatkannya?” Aleya menatap Robin lekat-lekat. Ia tidak ingin melepaskan sedetik pun kesempatan untuk mencari informasi sebanyak yang ia bisa.
“Kau benar-benar berubah...”
“Aku tidak datang ke sini untuk mendengarmu memujiku...” potong Aleya.
Robin menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang terasa begitu kering, “apa dia sehat dan bahagia?”
“Dia siapa?”
“Anak...mu...” Robin tidak berani untuk menyebut anak itu sebagai anaknya jika pun benar seperti apa yang dikatakan Jagad.
“Syukurlah dia...”
“Dia kenapa? Kenapa kau sangat peduli padanya?” Aleya mengeratkan kepalan tangannya untuk membuat dirinya tidak larut dalam emosi sesaat. Ia harus tenang untuk menghadapi Robin.
“Maafkan aku...” kalimat itu bagaikan belati yang ditusukan ke arah relung hati Aleya. Ia tidak menyangka akan mendapatkan permintaan maaf dari teman kakaknya itu.
“Kenapa? Bersikaplah seperti laki-laki dan ceritakan apa yang kau tau!” tuntut Aleya.
“Apa benar kau hamil gara-gara kejadian itu?” tanya Robin lirih. Tiba-tiba saja ia tidak berani menatap Aleya.
“Apa kau pikir aku bisa mudahnya membuka kakiku untuk orang lain! Tatap aku! Kau pikir aku wanita apa hah?” Aleya mencengkeram dagu Robin dengan tangannya. Ia ingin melihat mata laki-laki itu saat menceritakan segalanya.
“Maafkan aku...”
“Kenapa kau terus meminta maaf? Segitu yakinnya kah kau bahwa anak itu berasal darimu?” Aleya berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati jendela untuk menghirup udara segar. Ruangan itu lama-lama membuatnya sesak.
“Karena aku semakin membuatmu menderita, seharusnya...”
“Seharusnya kau dan teman-temanmu tidak melakukan itu dari awal kalau kau tau aku akan menderita!” bentak Aleya.
“Sungguh...aku tidak memiliki pilihan waktu itu...” tanpa Aleya duga, Robin menjatuhkan lututnya tepat di depan kaki Aleya. Ia berlutut di depan wanit itu dengan penyesalan utuh di dalam hatinya, “aku tahu sikapku ini tidak bisa mengubah apa pun, hanya saja...” Robin tidak melanjutkan kalimatnya.
“Apa maksudmu kau tidak memilik pilihan?” fokus Aleya ada pada kalimat Robin. Walau ia terkejut dengan sikap Robin tapi ia sudah meyakinkan diri untuk tidak mudah goyah.
“Jagad yang menyuruhku melakukan itu semua padamu. Aku...aku memang gila pada waktu itu...tapi...aku membutuhkan uang...”
Aleya menahan diri sambil menelan pil pahit kehidupannya.
“Aku sebenarnya tidak mau, tapi kita sama-sama dalam pengaruh obat itu, aku bahkan hampir tidak ingat...”
Aleya mendapat satu jawaban kenapa ia juga tidak mengingat kejadian itu seluruhnya. Obat!
“Tidak ingat katamu...kau...kau mengambil kesucian seorang gadis dan kau tidak mengingatnya?” Aleya sengaja berbohong. Ia hanya ingin memancing ikan yang lebih besar.
“Aku tahu...aku juga terpaksa dan tersiksa!” Robin juga ikut sesak jika membayangkan kejadian itu lagi, “jika tidak aku sendiri yang melakukannya, Jagad akan membiarkan teman-temannya melakukannya padamu! Kau tau aku menyukaimu! Bagaimana mungkin aku membiarkanmu dicabik-cabik olah orang-orang bidap itu!” Robin meremas rambutnya dengan kasar.
Aleya semakin mengeratkan kepalan tangannya. Ingatannya mulai tergambar jelas. Itulah mengapa ia melihat banyak orang yang ada dalam ruangan itu. Ia mengira bahwa mereka semua berpesta untuk menikmati badannya. Jika benar yang dikatakan Robin, maka hanya seorang yang melakukannya. Itu adalah Robin.
“Apa aku kini harus berterima kasih karena kau melakukannya sendiri?”