CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
Bab 1: Masa lalu mencarimu



Aku mungkin pernah terluka oleh tragedi


Tapi bersamamu aku menemukan alasan untuk hidup kembali


Orang lain mungkin menganggapmu beban


Namun bagiku kaulah harapan


Orang mungkin mengiramu tak sepadan


Padahal kau adalah satu-satunya tangan yang kini kugenggam


Orang lain melihatmu sebagai bayangan


Akan tetapi dimataku kau adalah cahaya penerang


Suara nafas terdengar mengalir rendah memenuhi kamar. Seolah sedang berperang dengan tekanan sekitar, ada beban berat yang bergantian keluar masuk dari kerongkongan. Seseorang yang sedang berbaring di atas kasur berukuran queen size itu semakin menarik selimutnya walaupun keringat mengalir deras dari sekujur tubuhnya. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia meraih gawai pintar yang ada di samping tempat tidur. Susah payah ia membuka email dan mengirim pesan pada seseorang sebelum melempar asal gawai itu hingga membuat botol yang berisikan obat pereda rasa nyeri jatuh dari atas nakas samping tempat tidurnya.


“Mom?” tak lama kemudian pemuda jangkung berparas rupawan memasuki kamar. Ia berjalan sambil menghindari pecahan botol kaca yang berserakan. Dengan gerakan pelan, ia mengusap bahu wanita itu.


“Mom sakit?”  tanyanya.


“Ehm...tidak...” wanita itu mencoba bangun dari tempat tidur untuk menyakinkan putranya bahwa ia baik-baik saja.


“Mom sakit!” sambil berkata dengan tegas, pemuda itu meraih bahu ibunya. “Ini pasti gara-gara orang yang mengaku sebagai nenekku itu kan!”


“Tidak Byeol, Mom akan baik-baik saja, cuma sedikit pusing,” kilahnya.


“Apa Mom akan diam saja dan menderita lagi gara-gara mereka?” Han Byeol menatap ibunya dengan tatapan putus asa. Ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang dirasakannya atas apa yang terjadi belakangan ini.


Seminggu yang lalu, pagi-pagi sebelum Han Byeol berangkat ke sekolah. Tiba-tiba saja intercom di apartemenya berbunyi. Byeol yang merasa kunjungan itu tidak biasa bertanya melalui intercom sebelum menyilahkan tamunya masuk. Namun, wanita itu tidak menjawab dan hanya kebingungan.


“Apa benar ini rumah Aleya?” tanyanya dengan menggunakan bahasa Indonesia. Hati Han Byeol bergetar mendengar bahasa yang digunakan orang tua itu. Walau dalam batinnya menantikan pertemuan dengan saudara dari kampung halamannya, namun Han Byeol memilih diam dan tidak menjawabnya. Ada hal yang menganggu pikirannya hingga ia memutuskan untuk memanggil ibunya.


Aleya yang tidak memiliki prasangka buruk apapun langsung menghampiri dan membuka pintu. Betapa terkejutnya Aleya begitu melihat sepasang suami istri yang ada di hadapannya adalah orang tuanya dari Indonesia. Pikirannya langsung tertuju pada Han Byeol. Refleks ia menarik Han Byeol ke belakang tubuhnya tanpa menyadari bahwa perbuatannya itu sia-sia. Tubuh Han Byeol kini jauh lebih besar dan tinggi melampauinya.


“Bukannya menyapa ayah dan ibu, kenapa wajahmu...” ucapan Krisma, ibunda Aleya menggantung di tenggorokannya begitu matanya tertuju pada pemuda yang ada di belakang Aleya. Seluruh tubuh wanita yang sudah tua itu meremang melihat pemandangan di hadapannya. Sedangkan Ayah Aleya sudah mematung semejak ia melangkahkan kaki ke dalam rumah dan melihat sosok pemuda yang ada di ujung koridor rumah putrinya.


Ada banyak pertanyaan berbeda menyelimuti empat kepala yang kini menghirup udara yang sama. Netra penuh dengan kegamangan saling menatap untuk menemukan jawaban. Belasan tahun yang dilalui dengan menahan diri kini menemukan titik terang.


Ada jiwa muda yang kini bertanya-tanya siapa dirinya yang sebenarnya.


Ada naluri seorang ibu yang takut akan masa lalu dan rasa sakit kehilangan yang mungkin akan kembali ia rasakan


Ada sepasang orang tua yang mungkin salah menentukan jawaban atas presepsi dan ketidakadilan.


“Byeol-a...” mendengar panggilan lirih Aleya, Han Byeol baru menyadari bahwa ibunya menjadi sosok yang begitu berbeda dari yang selama ini ia kenal. Baru kali pertama ini ia melihat ibunya begitu rapuh dan terlihat ringkih. Ia cepat paham dan menyadari bahwa pertemuan ini bukanlah hal yang ibunya harapkan.


“Mom, apa sebaiknya aku pergi?” walaupun Han Byeol bisa dan mengerti bahasa Indonesia, ia sengaja bertanya pada ibunya dengan menggunakan bahasa Korea. Ia ingin menciptakan ruang pribadi di tengah banyak telinga yang mungkin saja bisa mendengar.


“Maaf, bisakah kau melakukannya?” Aleya bersyukur anaknya begitu cerdas dan memahami situasi sulit ini. Setelah memberikan persetujuan, Han Byeol masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas.


“Mau ke mana? Kita belum selesai berbicara!” Krisma yang melihat Han Byeol beranjak pergi berusaha menahan langkahnya. Ia harus melihat pemuda itu lebih lama lagi untuk memastikan pengelihatanya tidak salah.


“Papa! Tahan dia! Jangan biarkan dia pergi! Aku sedang tidak berhalusinasi bukan? Bagaimana mungkin ia bisa meliliki wajah seperti Jagad!” Krisma tidak bisa menahan emosinya. Ia menarik lengan Han Byeol agar pemuda itu tetap berada di sana.


“Ibu, Han Byeol harus sekolah...” Aleya berusaha melepaskan tangan Krisma dari Han Byeol.


“Diam kau! Berani-beraninya kau melakukan ini pada kami! Setelah apa yang kami berikan padamu! Tega-teganya kau dan Jagad....”


“IBU!” Aleya berteriak untuk menghentikan ucapan Krisma. Ia belum siap memberitahu segalanya pada Han Byeol, terlebih lagi dengan cara sepeti itu, “aku mohon...” pinta Aleya sambil berlutut di depan kaki ibunya.


“Mom!” Han Byeol tidak rela hati melihat ibunya, ia buru-buru menghampiri Aleya dan menariknya berdiri. Tidak seperti sebelumnya, kini Han Byeol-lah yang berdiri di hadapan Aleya. Tubuh ibunya kini terlindungi dari jangkaun tangan Krisma.


Melihat punggung Han Byeol membuat Aleya sadar bahwa kini putranya  bukanlah lagi anak kecil yang akan diam saja melihat sesuatu yang salah di matanya. Han Byeol sudah beranjak dewasa. Ada kelegaan yang membuat hati Aleya kembali tenang. Ia mengusap lengan pemuda itu untuk menenangkannya.


“Bisakah kau berangkat sekarang? Mom janji akan baik-baik saja dan kau boleh bertanya apa pun jika Mom sudah menyelesaikan semuanya.” Aleya kini memohon kepada Han Byeol. Melindungi Han Byeol adalah prioritas utamanya. Ia tidak ingin putranya terluka oleh semua kenyataan pahit yang selama ini disembunyikannya.


“Cucuku kau mau ke mana? Aku nenekmu... aku...” Krisma tidak bisa berhenti berbicara. Pikirannya yang carut marut membuatnya berkesimpulan bahwa Han Byeol adalah cucunya. Wajah identik Han Byeol yang begitu mirip dengan Jagad, anak kandungnya, seperti justifikasi nyata atas aib yang dulu pernah dicorengkan Aleya di wajahnya.


“Ku mohon Ibu, biarkan dia sekolah,” pinta Aleya.


“Mama, biarkan dia pergi. Dia masih anak-anak dan dia butuh pergi ke sekolahnya...” Thomas meraih lengan istirnya dan dengan berat hati mengode pemuda di hadapannya untuk segera pergi. Di atas rasa penasaranya, ia tahu benar apa yang dikawatirkan Aleya. Bahwa pemuda itu tidak pantas untuk mendengar apa yang akan diperbincangkan oleh orang tua. Ia juga memahami, bahwa di atas semua cerita buruk di masa lalu, ia tidak memiliki dosa apa pun untuk ditanggung. Ia berhak bahagia, dan biarlah orang tua-orang tua ini yang menanggung luka dan sakitnya.