
“Kau benar-benar gila!” Krisma menatap putrinya dengan tak percaya. Ia tak menyangka bahwa negeri gingseng itu telah membuat pikiran anaknya tidak waras.
“Ibu dan Ayah tidak perlu khawatir tentang pernikahan Kak Jagad. Aku tidak akan menjadi penghalang untuk kebahagiaan kalian. Jika kedatangan Ayah dan Ibu hanya memintaku untuk datang ke acara pernikahan itu, selama Kak Jagad berkenan aku tidak akan menolaknya,” Aleya sudah menyiapkan hatinya jauh-jauh hari untuk menghadapi situasi seperti ini. Tapi tetap saja, jantungnya berdebar membayangkan harus bertemu lagi dengan Jagad setelah kejadian 16 tahun silam. Walau kini ia sudah dewasa, namun jiwa yang terperangkap dalam ingatan itu tetaplah Aleya yang masih berusia 18 tahun. Kengerian itu masih teringat jelas di dalam benaknya.
“Oh iya, Ayah dan ibu tak perlu khawatir. Aku tidak akan membawa Han Byeol pulang ke Indonesia, jika kalian mencemaskan kehadirannya,” imbuhnya setelah berhasil membaca kegaluan di wajah sang ibu.
“Ayah masih memiliki pemikiran yang sama. Anakmu harus pulang dan ia adalah bagian dari keluarga Sudjojono. Pak Leo akan mengurus administasinya dan Ayah ingin ia mengganti namanya begitu ia pulang ke Indonesia, dia bukan orang Korea!” tegas sang ayah.
“AYAH!” ibu tidak menyukai ide itu. Dari dulu memang ibu tidak terlalu suka dengan kehadiranku. Aku seolah-olah menjadi penganggu di dalam keluarga tersebut.
Aleya menarik nafas sebanyak-banyaknya untuk menahan gejolak emosinya. Ada perasaan kecewa sekaligus tidak terima yang kini ia sembunyikan. Ayahnya memang otoriter dan Aleya yakin, feeling ayahnya sangat kuat tentang bagaimana status Han Byeol saat ini. Tidak perlu melakukan tes DNA untuk menentukan Han Byeol anak siapa. Kemiripan wajahnya dengan Jagad tidak dapat dipungkiri. Itu adalah bukti nyata bahwa garis keturunan keluarga Sudjojono ada di darah yang kini mengalir di tubuh Han Byeol.
“Ayah tidak perlu memikirkan tentang Han Byeol. Ia tidak ada hubungannya dengan ini semua.” Aleya juga bersikeras untuk tidak membiarkan ayahnya merusak kehidupan mereka. Aleya mungkin bisa kehilangan segalanya, tapi itu lebih baik daripada ia harus kehilangan Han Byeol.
“Tapi...” Ayah masih mendebat Aleya namun diurungkan begitu melihat Aleya berdiri.
“Bukannya aku tidak sopan, tapi aku harus bekerja. Ada meeting penting hari ini.” Aleya memberanikan diri untuk mengusir Thomas dan Krisma dengan sopan, “Ayah dan ibu bisa di sini terlebih dahulu dan jika bosan, minta Pak Leo untuk mengatantar kemana-mana.”
“Kita belum selesai bicara!” cegah Krisma begitu melihat Aleya mulai meninggalkan mereka berdua. Ia masih ingin menanyakan banyak hal pada Aleya.
“Kita bicara lagi nanti, Ayah dan Ibu pasti lelah begitu sampai di Korea.” Aleya bergegas untuk mengambil tas dan blazernya. Ia menyempatkan diri untuk berpamitan, biar bagaimana pun juga mereka adalah orang yang berperan besar dalam kehidupan masa kecilnya.
***
Aleya membuka matanya saat mendegar suara interkom berbunyi. Susah payah ia bangun dan melangkah pelan menuju pintu rumahnya. Ia sudah memperkirakan siapa yang datang sebelum melihat orangnya secara langsung.
“Kenapa lama sekali!” Krisma langsung masuk begitu pintu terbuka, “di mana Han Byeol?” tanyanya.
“Han Byeol sudah berangkat pagi tadi...” Aleya berhasil menyakinkan Han Byeol untuk meninggalkannya tadi pagi. Putranya itu sempat ingin tinggal di rumah untuk menjaganya dan bahkan melarangnya untuk pegi ke kantor.
“Apa Korea sudah gila? Kenapa sistem pendidikan di sini harus di mulai sepagi itu dan selesai hampir tengah malam!” protes Krisma begitu mengetahui bahwa ia melewatkan kesempatan untuk bertemu dengan Han Byeol.
“Itu sudah umum di sini,” jawab Aleya lirih sambil berjalan mendekati counter dapur untuk mengambil air minum. Walau rasa sakit dikepalanya belum sepenuhnya hilang, tapi tubuhnya terasa jauh lebih bersahabat. Ia hanya masih merasakan migran di beberapa bagian kepalanya.
“Kakakmu akan ke Korea tiga hari lagi, apa kau tidak bisa cuti untuk menemani kakak dan calon iparmu?” pertanyaan Krisma membuat pening di kepala Aleya kembali terasa. Ia berjalan mendekati Krisma untuk memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
“Apa maksud Ibu aku harus menemani mereka? Apa Ibu tidak salah?” Aleya tidak bisa mempercayai ucapan ibunya. Bukankah ia ingin aku jauh-jauh dengan Jagad? Bukankah ia tahu bahwa hubunganku dengannya tidak baik? Bukankah ada Han Byeol yang harus aku sembunyikan?
Begitu banyak pertanyaan yang tidak dapat Aleya mengerti jawabannya.
“Setidaknya kau harus membuat calon kakak iparmu merasa nyaman di keluarga kita. Apa kau ingin menunjukan kepada dunia bahwa kau dan Jagad tidak pernah akur?” lagi-lagi demi Jagad dan calon iparnya. Aleya hanya memutar bola matanya begitu mendegar alasan tersebut.
“Lalu bagaimana jika ia tahu tentang Han Byeol?” ancam Aleya.
“Ayahmu bersikeras untuk membawa Han Byeol pulang! Jadi tidak ada yang perlu disembunyikan setidaknya dari Jagad.” Ada nada tidak setuju dalam ucapan Krisma. Ia terkesan terpaksa menerima Han Byeol sebagai cucunya dan mengakui bahwa anaknya telah berbuat hal yang dapat mencemarkan nama baik keluarga.
“Aku tidak akan membiarkannya dan Han Byeol bukan poperti yang bisa dibuang dan dipungut kembali. Aku sudah bilang kan? Han Byeol dan aku tidak memerlukan itu semua. Kami berdua baik-baik saja!” dahi Aleya mengernyit menahan sakit saat ia tidak sadar menaikan intonasi suaranya.
“Apa kau pikir aku menyetujuinya!” suara Krisma tidak kalah tinggi. Ia juga terhimpit dalam situasi yang pelik. Hatinya tidak ingin menerima Han Byeol tapi suaminya terus mendesaknya untuk mencari cara agar Aleya mau memasukan Han Byeol ke dalam silsilah keluarganya. Jika itu tidak berhasil maka yang terancam adalah nama baik sekaligus pernikahan Jagad dengan wanita pilihannya.
“Apa ibu tidak bisa membicarakan ini dengan Ayah?” suara Aleya kini terdengar setengah memohon. Ia tidak ingin kembali ke keluarga itu, terlebih jika harus membawa Han Byeol.
“Apa kau pikir aku tidak mencoba?” kata ibu terlihat putus asa, “kita bicarakan ini dengan Jagad. Biar bagiamanapun ia harus tahu dan kita cari solusinya bersama.”
Aleya menghela nafas panjang. Ia tidak lagi kuasa mendegar permintaan Krisma dan perdebatan yang tanpa ujung ini. Ia memilih bangkit dari duduknya dan mandi. Ia harus berangkat ke kantor sebelum terlambat lagi. Tidak hanya fisiknya yang mulai terganggu, tapi pekerjaan Aleya mulai kacau. Masalah ini secara langsung berdampak pada performa kerjannya. Ia sering sekali terlambat dan membuat masalah yang biasa dibuat oleh pemula. Terlebih lagi ia kehilangan komposisi dan fokusnya hingga membuat pekerjaannya berantakan. Mungkin benar ia harus mengambil cuti. Tidak demi Jagad tapi untuk menjaga profesional kerjanya. Aleya tidak ingin menjadi contoh yang tidak baik terutama untuk junior-juniornya.