CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 27; Tidak Tahu



Mata San Hyuk tidak terlepas dari Aleya bahkan saat Thomas dan Krisma keluar dari ruangan setelah ia secara tidak langsung mengusir keduanya. Sudah tidak ada yang perlu ditakutinya. Rasa hormat yang ingin ia pertahankan ia abaikan begitu saja.


Aleya menjadi prioritas utamanya. Ia tidak bisa berhenti untuk mengkhawatirkan wajah Aleya yang semakin memucat saat bersama mereka. Semakin lama mereka berbicara, semakin redup rona wajah Aleya. San Hyuk bahkan tidak berani melepaskan pengangan tangannya , takut-takut jika ia melakukannya, Aleya akan luruh begitu saja tanpa ada yang menyadarinya.


“Apa kau ingin berbaring?” San Hyuk ingin sesegera mungkin menghubungi dokter untuk memastikan keadaan Aleya. Ia tidak ingin terjadi apa pun pada wanita itu.


Bukannya menjawab pertanyaan San Hyuk, Aleya justru menenggelamkan diri ke dalam dada bidang San Hyuk. Tanpa menghiraukan kepanikan San Hyuk, Aleya semakin mengeratkan pelukannya pada laki-laki itu. Ia memenuhi rongga paru-parunya dengan udara yang diselimuti aroma tubuh San Hyuk yang sudah tidak asing lagi baginya. Seolah-olah hanya ruang itu yang bisa membuatnya bebas untuk bernafas.


“Kenapa kau jadi seperti ini sih? Kau tahu ini curang kan?” San Hyuk bukannya membenci sikap Aleya yang tiba-tiba menjadi manja dan tidak lagi menjaga jarak dengannya. Tapi timingnyalah yang tidak berpihak padanya. Ia harus menahan diri untuk tidak menyerang Aleya saat kondisinya tidak baik seperti ini.


“Aku ingin kabur dari sini...” bisik Aleya lirih.


“Itu hal yang mudah bukan?”


Aleya menggelengkan kepalanya. Ia tidak bisa melakukannya dengan mudah. Ada rasa tanggungjawab yang harus ia penuhi sebagai seorang anak. Tidak peduli seberapa buruk orang tua Aleya memperlakukannya, tapi berkat merekalah Aleya bisa bertahan. Bahkan pertemuannya dengan lelaki sebaik San Hyuk pun tidak lepas dari bagian rasa syukur itu.


“Aku kali ini tidak ingin melewatkan apa pun. Ini sangatlah aneh!” tanpa melepaskan pelukan Aleya, San Hyuk membuat dirinya senyaman mungkin bersandar di sisi sofa, “jika orangtuamu membenci Han Byeol, kenapa mereka tidak melepaskan Han Byeol? Bukankah lebih mudah untuk tidak mengakuinya sebagai cucunya daripada harus bersusah payah untuk memasukannya ke dalam nama keluarga kalian?”


“Toh kau juga sudah secara resmi menikah denganku, Han Byeol bisa saja menjadi anakku dan kau yang rela menjadi eommanya. Banyak sekali yang bisa kita lakukan!” San Hyuk tidak habis pikir. Ia tidak  bisa membaca apa maksud dan keinginan dari mertuanya itu.


“Itu karena Han Byeol benar-benar cucu mereka, Han Byeol sangat mirip dengan kakak angkatku,” Aleya mengeratkan pegangannya pada baju San Hyuk dan semakin menenggelamkan wajahnya dalam. Ia tidak ingin San Hyuk melihat wajahnya saat ini.


“Kau...aku paham jika ini menyakitkan, tapi sudah saatnya kau mengatakan semuanya padaku. Aku harus tahu semua masalahnya agar aku bisa menentukan apa yang harus aku lakukan kedepannya!” kalimat San Hyuk bernada perintah. Ia kini berani dan berhak tahu apa yang terjadi mengingat lampu hijau yang sudah diberikan Aleya padanya. Ia tidak ingin menyiakan kesempatan yang sudah diberikan dengan tidak memanfaatkan momen ini untuk membuat Aleya semakin percaya dan bergantung padanya.


“Aku pikir aku sudah melupakan semuanya, tapi begitu mendengar bahwa Kak Jagad akan ke Korea, tiba-tiba saja aku jadi seperti ini...” walau Aleya tidak mengangkat wajahnya, San Hyuk tahu kalau wanita itu mulai menangis, “aku takut, aku takut pada orang itu...”


Ini kali pertamanya Aleya jujur dengan dirinya sendiri. Selama ini ia hanya menyimpan ketakutannya sendirian. Ia tidak memiliki tempat untuk mengungkapkan perasaannya pada siapa pun. Tak pernah ia memiliki teman yang bisa ia bagikan perasaannya.


“Sebentar... biar aku luruskan dulu...” San Hyuk hampir tak bisa berkata-kata saat mendengar fakta yang baru saja didengarnya. Selama ini ia memang tidak begitu ingin membahas masa lalu Aleya. Tapi semua ini beda cerita jika apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Praduga-praduga yang selama ini ada di dalam pikirannya harus ia jelaskan agar tidak ada lagi yang menjagal kebahagiaan keluarga mereka ke depannya.


“Lalu kenapa tidak dari dulu orangtua kalian merawatnya kalau sebegitu inginnya mereka memiliki Han Byeol sekarang?” tanya San Hyuk begitu Aleya hanya menganggukan kepalanya.


“Aku... mereka... tidak tahu...” suara Aleya semakin lirih saat mengatakannya.


“Bagaimana kau tidak tahu? Bukankah...” San Hyuk tidak menanjutkan kalimatnya karena tangis Aleya semakin terdengar. Ada yang salah dari semua kejadian itu. San Hyuk menegakan tubuh Aleya agar bisa melihat wajahnya.


“Apa yang terjadi padamu!” dada San Hyuk diburu oleh rasa amarah yang siap saja meledak.


“Aku...aku tidak tahu...” Aleya tidak berani mengangkat kepalanya untuk menatap San Hyuk. Walau San Hyuk berusaha agar bisa menatap mata Aleya, wanita itu tetap tak bergeming. Ia bahkan sampai menutup matanya rapat-rapat walau air mata tetap lolos dari kedua sudut netranya.


“BAGAIMANA KAU BISA TIDAK TAHU!” San Hyuk tanpa sadar meluapkan emosinya pada Aleya. Ia langsung menelan salivanya begitu menyadari apa yang telah ia lakukan, “maafkan...maafkan aku...” San Hyuk langsung menghujani wajah Aleya dengan kecupan. Ia merasa telah melakukan kesalahan yang fatal.


“Aku tidak tahu bagiamana bisa ada di sana...aku kehilangan seluruh kekuatanku saat mereka melakukan hal itu padaku...aku tidak bisa melakukan apapun. Bahkan aku tidak bisa aku berteriak untuk minta tolong...aku...dan tidak sadarkan diri setelah empat hari lamanya...” dengan susah payah Aleya menjelaskan apa yang ia ingat tentang apa alami. Ia bahkan mungkin tidak mempercayai ingatannya sendiri karena ia tidak tahu apakah yang ia alami hanya halusinasi atau bukan sampai pada akhirnya ia tahu bahwa ia hamil.


Mereka?


Air mata San Hyuk menggenang di pelupuk matanya begitu membayangkan apa yang terjadi pada Aleya.


Sekali lagi ia juga harus menahan emosinya. Rahangnya mengeras menahan luapan amarah agar tidak keluar di sana. Ia bahkan tak lagi sanggup untuk tidak bertanya. Pendengarannya tidak mungkin salah dan jika itu benar, maka Aleya ada dalam pengaruh obat ketika mereka melakukan hal keji itu pada Aleya.


“Aku baru menyadari bahwa Han Byeol adalah anak dari kakak angkatku begitu ia mulai beranjak remaja, ia...” Aleya tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia mendengar jelas apa yang diucapkan Han Byeol, dugaan putranya itu tidak salah. Aleya sering sekali terkejut dengan kehadiran Han Byeol. Bahkan ia tidak bisa menyembunyikan ketakutannya pada anak itu. Itu hal yang membuatnya paling merasa bersalah.


“Itu bukan salahmu atau salah Han Byeol!” potong San Hyuk. Ia mengusap air mata Aleya yang kembali mengalir.


“Kau sudah melalui segalanya dengan sangat baik, kini giliranku untuk melakukan apa yang bisa aku lakukan untukmu...” San Hyuk membiarkan air matanya jatuh mengaliri pipinya.


Ini terlalu kejam untuk dialami sendirian.