CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 47; Plin Plan



“Kita mau ke mana, Kak?” Aleya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ia sudah mulai risau saat mobil yang dikemudikan oleh Jagad mulai memasuki jalan-jalan yang tidak diketahuinya.


“Kita akan sedikit bersenang-senang...” Jagad mengusap rambut lurus pendek Aleya dengan tangan kirinya, “kau terlalu banyak belajar hingga tidak sempat untuk liburan kan? Sekali-kali kita main bersama...”


Aleya kembali terdiam sambil menatap sekitar. Pemandangan yang biasanya di dominasi oleh gedung pencakar langit mulai berubah menjadi rumah-rumah pedesaan yang masih kaya akan pohon-pohon rindang. Aleya mencoba mengusir pikiran negatifnya sesaat dan mencoba mempercayai ucapan Jagad padanya. Mungkin semenjak ia kuliah dan semakin dewasa ia berubah.


Aleya terbangun begitu mobil yang dikendari keduanya berhenti pada sebuah rumah yang merupakan villa keluarga Sudjojono. Walau memang Aleya tidak hapal jalan ke arah villa tersebut, begitu sampai di halaman depan, ia masih ingat sewaktu kecil pernah diajak ke sana.


Tapi ada yang aneh. Jantung Aleya mulai berdetak melebihi ritme yang sudah ditetapkan saat ia menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menggerakan tubuhnya. Bahkan untuk berbicara pun ia tidak mampu. Mata lemahnya hanya bisa melirik ke arah Jagad dengan susah payah.


“Kau sudah bangun, Sayang? Tunggulah di sini sebentar...” Jagad merapikah surai rambut Aleya yang sedikit berantakan. Senyum lebar laki-laki itu membuat Aleya ketakutan. Ia tidak tahu rencana apa yang sedang disusun oleh Jagad hingga membawanya kemari dan membuatnya dalam kondisi seperti itu.


Setengah berlari Jagad memasuki villa keluaga. Di dalam bangunan itu ternyata sudah ada orang lain yang tengah menunggunya. Ada tiga orang termasuk Robin di ruang tamu. Mereka menunggu kedatangan Jagad dengan cemas.


“Gimana? Apa kau sudah memutuskan?” pertanyaan itu Jagad tujukan pada Robin yang tengah dirundung kegaluan.


“Bagaimana bisa aku memutuskan! Ini bukan keinginanku!” Robin berdiri dari tempatnya duduk dan meraih bahu Jagad, “Please, apa tidak ada cara lain? Kenapa kau harus melakukan ini pada adikmu sendiri?”


“Adik katamu?” sudut bibir Jagad terangkat, “anak haram itu tidak akan pernah menjadi adik ku! Ia harus membayar apa yang dilakukan oleh orang tuanya!”


“Kau seharusnya berterima kasih aku menyuruhmu melakukannya. Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau menyukainya?” Jagad melepaskan cengkraman di bahu Robin, “kita membutuhkan cara untuk mengikatnya selamanya. Aku sudah mengatakan bahwa ia memiliki rencana kabur dari kita. Jika kau tidak ingin ia jatuh ke tangan laki-laki lain, lakukanlah. Lagian kau butuh uang kan? Aku bersedia membantumu berapa pun kau mau jika kau melakukan perintahku...” Jagad membujuk Robin untuk terkahir kalinya. Ia harus meyakinkan Robin agar rencananya berjalan dengan lancar.


“Atau kau mau Dio dan Galang yang melakukannya? Aku yakin mereka berdua tidak akan bersikap lembut pada anak itu...” Jagad terkekeh yang diikuti oleh kedua temannya.


Robin termenung. Ia tahu benar bahwa Dio maupun Galang adalah penjahat kelamin yang sesungguhnya. Mereka dengan mudahnya keluar masuk klub bersama wanita dan menghabiskan malam-malam panas tanpa batasan yang jelas. Ia tidak bisa membayangkan gadis yang selama ini telah mencuri hatinya akan jatuh pada dua orang itu.


“Aku anggap diam mu sebagai jawaban,” Jagad terkekeh melihat mendung yang kini seolah menggantung di langit-langit kepala Robin.


“Lang, beri dia sesuatu agar pikirannya lebih tenang...” Jagad memerintahkan temannya untuk melakukan sesuatu pada Robin yang kini berdiri kaku.


“Minum ini, kau akan merasa lebih tenang...” Galang memberikan satu kapsul obat pada Robin.


“Ini apa?” tanya Robin ragu.


Setelah Jagad melihatnya, ia keluar dari ruang tamu untuk menjemput adiknya. Tanpa hambatan apa pun ia berhasil membawa Aleya masuk ke dalam villa dan langsung membawanya ke dalam kamar. Sebelum Jagad keluar, ia juga memberikan obat yang sama pada Aleya, “minumlah, ini akan membuatmu meraskan ketenangan dan kenikmatan yang luar biasa...”


Jagad lalu meninggalkan Aleya untuk menjemput pemeran utama pria. Dengan sedikit dorongan Robin masuk ke dalam kamar bersama Dio dan Galang.


Robin menatap tubuh Aleya yang terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang berukuran queen size itu. Ia merasa telah dibohongi oleh Galang karena bukannya ketenangan yang ia rasakan, justru kini jantungnya berdebar tidak karuan. Telinga dan pipinya mulai memanas dan perutnya terasa mulas menahan dorongan yang tidak semestinya.


“Gad, kau nggak bilang kalau adikmu secantik itu. Kalau Robin nggak mau, aku mau lah. Postur tubuh kita nggak jauh beda juga!” Dio seperti srigala yang sedang melihat domba begitu ia melihat Aleya untuk pertama kalinya. Ia menyayangkan bukan dirinya yang ada di posisi untuk menikmati perawan itu.


“Diam kau, kau pikir aku mau menyerahkannya pada bajingan sepertimu?” Jagad tekekeh mendengar ungkapan Dio.


“Kau...yang benar saja! Kalau kau mau menyiksanya, bukankah lebih baik jika aku yang melakukannya? Kau benar-benar plin plan!” Dio tidak bisa memahami pikiran Jagad. Jika ia benar-benar membenci Aleya, ia seharusnya menghancurkannya sekalian. Bukannya malah menyuruh amatiran seperti Robin untuk melakukan hal ini. Ia seolah-olah menjebak ke dua orang itu agar jika rencananya selesai, ia bisa menyerahkan Aleya dalam perlindungan Robin.


“Diam dan keluar...” perintah Jagad pada Dio dan Galang.


“Ayolah, beri kami kesenangan dengan melihat seluruh adegannya dengan langsung!” rengek Galang. Ia tidak menyangka Jagad mengusirnya. Apa ia tidak ingin mereka meliahat tubuh polos adiknya? Benar-benar protektif.


“Aku tidak akan memerintahmu dua kali!” ancam Jagad.


Dio dan Galang akhirnya menyerah dan berjalan keluar dari kamar. Mereka hanya bisa menuruti perintah itu dan meninggalkan ketiganya.


“Lakukan dengan benar! Ini kesempatanmu...” Jagad bisa melihat efek obat itu mulai mempengaruhi akal sehat Robin. Wajah laki-laki itu sudah memerah dan tatapannya hanya berfokus pada Aleya.


“Aku hanya akan menyorot bagian belakang tubuhmu, jadi buat semuanya terlihat bahwa aku yang melakukannya...” Jagad sudah merencanakan semuanya dari awal. Ia bahkan sudah meminjamkan baju yang sering dipakainya untuk Robin kenakan hari ini. Ia hanya perlu beberapa adegan hingga memiliki bukti bahwa ia telah melakukan hubungan intim itu dengan adiknya sendiri.


Tak lupa Jagad menyerahkan satu kotak alat kontrasepsi pada Robin, “isinya hanya tiga. Kau tidak boleh melakukannya lebih dari itu!”


“Kau benar-benar gila...” Robin mengucapkan kalimatnya dengan susah payah. Ia merasakan tubuhnya semakin memanas dan ada naluri alamiah yang tututan hasratnya seolah tidak bisa terbendung oleh akal sehatnya.


“Bajingan gila...” desis Robin lagi.


“Kau hanya tinggal memejamkan matamu dan ini semua akan selesai...”