
“Belum selesai?” San Hyuk mendatangi meja Aleya. Wanita itu masih sibuk di depan komputernya hingga tidak menyadari kehadirannya. Semua karyawan sudah pulang beberapa jam yang lalu. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam saat San Hyuk akhirnya memutuskan keluar dari ruangannya. Ini sudah ke tiga kalinya ia menghampiri meja Aleya dan mengajaknya pulang.
“Sebentar lagi,” jawab Aleya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Ia masih sibuk menyusun jadwal dan membuat catatan untuk calon penggantinya. Tipe prefeksionis seperti Aleya tidak bisa membiarkan hal sekecil pun terlewat.
“Kita pulang sekarang, aku akan mengantarmu,” San Hyuk mengatakannya sambil menutup layar komputer Aleya. Wanita itu akhirnya mengangkat wajahnya untuk memandang San Hyuk.
“Aku hampir selesai, Oppa…” setengah merengek, Aleya menatap San Hyuk agar mengizinkannya, “15 menit lagi aja.”
“Baiklah...” San Hyuk hanya bisa menghela nafas panjang melihat sikap imut Aleya. Ia tidak kembali ke ruangannya namun memilih untuk menunggu di samping Aleya. Ia menarik kursi dari meja sebelah Aleya dan duduk tepat di sampingnya. Ia menunggu dalam diam. Mengajaknya berbicara hanya akan memperlambat perkerjaan Aleya. San Hyuk memilih mengeluarkan ponselnya untuk melihat berita-berita terakhir.
“Kau pulang saja, aku bisa pulang sendiri,” kata Aleya pelan.
“Aku ingin kita pulang bersama. Jangan membantah dan selesaikan urusanmu.”
Tanpa sadar Aleya mengulum senyum mendengar jawaban San Hyuk. Ia lalu kembali fokus pada pekerjannya. Ia ingin segera menyelesaikan perkerjaannya tanpa mendebat lagi . Atasannya itu juga keras kepala kalau sudah berkeinginan dan berpendapat sehingga mendebatnya hanya akan membuang-buang waktu.
Begitu Aleya kembali fokus pada layar di hadapannya, diam-diam San Hyuk mulai mengamati raut wajah Aleya. Wajah wanita yang mencuri hatinya itu masih sama. Hampir bisa dikatakan San Hyuk jatuh cinta pada Aleya pada pandangan pertama. Kesan yang ditinggalkan olehnya sangat mendalam sehingga tanpa sadar mata San Hyuk selalu mengekori Aleya. Walau mereka berada di jurusan yang berbeda, tapi bayangan Aleya tiap kali melintas selalu tertangkap mata olehnya.
Tidak ada yang berubah dari Aleya. Ia tetap sama. Kepribadiannya yang pekerja keras tidak pernah berubah. Dedikasi dan tanggung jawab yang ada padanya membuatnya tumbuh menjadi wanita yang kharismatik walau terkesan dingin. Entah berapa kali San Hyuk tidak bisa menahan dirinya untuk menjadikan Aleya miliknya. Tapi San Hyuk sadar bahwa ada tembok tebal yang dibangun antara dirinya dan Aleya. Tembok itu sangat sulit untuk digoyahkan apalagi dihancurkan oleh San Hyuk. Satu-satunya hal yang bisa San Hyuk lakukan hanyalah memanfaatkan kelemahan Aleya dan menempatkan Aleya di sisinya selama mungkin. Ia masih berharap lamanya waktu mereka bersama dapat menggerus tembok itu sedikit demi sedikit.
“Oppa...” San Hyuk terlalu larut dalam pikirannya hingga ia tidak sadar bahwa Aleya sudah mematikan komputernya. Ia bahkan sudah mengenakan jaketnya dan berdiri di hadapan San Hyuk yang masih melamun.
“Ah, ya… sudah selesai?” San Hyuk tegagap.
“Sudah, aku akan cuti! Jangan merindukanku ya?” goda Aleya.
“Apa aku cuti juga ya?” San Hyuk berdiri dan menyejajari langkah Aleya keluar dari ruangan menuju lift ke basement tempat mobilnya terparkir.
“Jangan bercanda...”
“Aku juga ingin istirahat! Kenapa kau boleh dan aku tidak?”
“Oppa kan pemilik perusahaan dan aku bukan!” selesai mengatakan demikian, Aleya menyandarkan diri pada dinding lift sesaat setelah bergerak. Tiba-tiba kepalanya kembali pening saat merasakan gerakan dari alat transportasi vertikal tersebut.
“Iya, tapi aku bukan robot,” kata San Hyuk sambil melihat jam tangannya sekilas, “sebelum pulang apa kita mampir makan malam dulu? Aku...” belum sempat San Hyuk menyelesaikan kalimatnya, tubuh Aleya ambruk ke lantai lift tanpa sempat ditahannya.
San Hyuk berusaha menguasai diri begitu menyadari bahwa ini situasi yang serius. Ia meraih ponselnya dan menghubungi 911 untuk mengirimkan ambulan ke kantornya. Setelah menjelaskan situasinya pada petugas medis, San Hyuk menekan tombol lobby sebelum meraih Aleya ke dalam gendonganya. Dadanya bergemuruh menanti pintu lift terbuka.
“Tuan!” petugas keamanan terkejut saat mendapati atasnnya sedang menggendong seseorang begitu keluar dari lift. Kepanikan langsung saja terjadi di lobby saat melihat situasi tersebut. Mereka hendak menggantikan San Hyuk dan meraih tubuh Aleya namun segera ditolaknya.
“Tidak, biar aku yang membawanya. Katakan pada supirku untuk menyusul kami,” tolak San Hyuk saraya merapatkan pegangannya pada Aleya.
“Baik Tuan!” Sadar bahwa orang yang ada dalam gendongan San Hyuk adalah Aleya, petugas keamanan itu semakin memaklumi sikap atasannya. Mereka bergegas untuk mencari supir atasannya untuk menyampaikan pesan.
Tak lama berselang ambulan datang. San Hyuk langsung membawa tubuh Aleya masuk ke dalam mobil dan ikut duduk di samping tempat pembaringan Aleya. Pikirannya buntu begitu petugas medis memberikan pertolongan pertama pada Aleya. Setelah mengecek tekanan darahnya, petugas medis langsung memgalirkan oksigen ke hidung Aleya.
“Dia kenapa?” tanya San Hyuk pada petugas di sampingnya. Ia ingin tahu apa yang membuat Aleya sampai tidak sadarkan diri seperti itu.
“Tekanan darahnya sangat tinggi, hal ini berdampak langsung pada jantungnya,” jelas petugas itu singkat.
San Hyuk termenung di tempat duduknya. Tangannya gemetar meraih jemari Aleya, takut jika sentuhannya dapat menhancurkan tubuh yang tengah rapuh itu. Mata San Hyuk tak lepas dari Aleya dan petugas medis yang terus memantau perkembangan Aleya menuju rumah sakit terdekat. Ia terus berharap tidak ada yang memburuk dari usahanya membaca mimik wajah keduanya.
Aleya langsung dilarikan ke IGD begitu sampai ke rumah sakit. San Hyuk yang melihat Aleya mendapat penanganan dari petugas medis hanya bisa melihat dari jauh. Ia mencoba menenangkan dirinya terlebih dahulu sambil menanti kabar dari dokter yang menangani Aleya. Pikirannya tiba-tiba kacau membayangkan kemungkinan-kemungkinan apa yang sebenarnya terjadi pada Aleya akhir-akhir ini.
“Tuan Shin,” tegur Sopir Kim. San Hyuk sedikit terperanjat saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia lupa bahwa ada orang yang sedang menunggu perintahnya.
“Maafkan aku, aku hampir lupa. Tolong kau jemput Shin Han Byeol. Bawa dia kemari, aku harus menemani Aleya di sini,” perintah San Hyuk. Setelah Sopir Kim pergi, ia segera mengirimkan pesan ke Han Byeol untuk ikut serta dengan Supir Kim.
“Apakah anda penanggungjawab Nyonya Aleya?” suara seorang perawat membuyarkan lamunan San Hyuk yang duduk di ruang tunggu.
“Ah ya benar, bagaimana keadaannya?” San Hyuk langsung berdiri dari duduknya.
“Mari silahkan ikut saya,” San Hyuk mengikuti langkah perawat itu dengan cemas. Perawat itu hanya mengajak San Hyuk untuk ke meja administrasi umum.
“Dokter akan menjelaskannya nanti pada anda, namun pasien harus menjalani rawat inap untuk memantau kondisinya. Boleh saya tahu apa hubungan anda dengan pasien?” tanya perawat itu sambil mengulurkan formulir kepada San Hyuk.
“Saya suaminya…”