
“Apa maksud pembicaraan Oppa dengan Paman tadi?” tanya Aleya begitu ia masuk ke dalam mobil.
“Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya mengatakan hal yang sesungguhnya. Apa kau tidak ingin Han Byeol punya adik?” hati-hati San Hyuk mengatakannya. Ia masih tidak tahu bagaimana pendapat Aleya tentang ini.
Aleya tertegun sambil menatap San Hyuk. Ia sedikit banyak bisa menangkap inti dari pembicaraan San Hyuk dengan Paman Geon Wo. Suaminya itu bertanya banyak tentang efek samping obat yang aku minum dan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan berpengaruh pada kesehatan Aleya termasuk pada sistem reproduksinya.
Aleya bersyukur Paman Geon Wo menjawab tidak akan ada masalah namun dalam hatinya ia tidak menyangka bahwa San Hyuk mengarah pada keinginannya untuk memiliki anak lain selain Han Byeol. Selama mereka berhubungan suami istri, San Hyuk termasuk sangat berhati-hati tantang hal ini. Ia bahkan menahan dirinya sendiri untuk tidak melakukannya sembarangan apalagi tanpa pengamanan.
Tindakan itu membuat Aleya berpikir bahwa San Hyuk belum berniat memiliki anak darinya. Tapi pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan suaminya tadi mengubah padangangan Aleya.
“Oppa ingin memiliki anak lain selain Han Byeol?” terjawab sudah prasangka Aleya selama ini tidaklah benar.
“Bukan seperti itu, itu tidak berarti kasih sayangku untuk Han Byeol akan berkurang, tapi...” San Byuk berhenti menjelaskan saat Aleya berhamburan memeluknya. San Hyuk sapertinnya salah mengartikan pertanyaan Aleya. Ia mau tidak mau menjadi panik perkataannya akan melukai Aleya.
“Aku kira Oppa tidak menginginkannya...” kata Aleya lirih, “Oppa sangat hati-hati hingga aku berpikiran buruk...”
“Tidak! Tidak seperti itu!” San Hyuk terkejut dengan pemikrian Aleya, “aku sangat hati-hati karena kau masih dalam proses rawat jalan. Banyak yang harus dipertimbangkan. Aku tidak mau terjadi apa-apa padamu hanya karena keegoisanku. Maafkan aku...” San Hyuk menyesal tidak mengungkapkan kekhawatirannya dari awal. Ia tidak tahu Aleya menyimpan kekhawatiran seperti itu.
“Oppa tidak bersalah...” Aleya mengendorkan pelukannya agar bisa menatap mata San Hyuk.
“Aku juga tidak ingin membuatmu semakin sulit karena masalah keluargamu. Setidaknya kita harus memastikan kakakmu sudah berubah sebelum kita memulai lembar hidup kita yang sesungguhnya...” San Hyuk mendaratkan kecupan di dahi, hidung, kemudian di bibir Aleya dengan penuh kasih sayang, “Han Byeol pasti sangat senang kalau kita bisa berhasil memberinya hadiah yang ia inginkan dari lama...”
Perkataan San Hyuk tidak salah. Jusrtu Han Byeol lah yang meminta adik sejak dari lama. Ia mengingikan banyak hal yang belum bisa dituruti oleh Aleya dan San Hyuk kala itu. Kini semuanya berjalan sesuai dengan harapan Han Byeol walau situasinya sedikit tidak kondusif.
Obrolan yang menyentuh perasaan itu harus terhenti ketika mobil yang mereka kendarai sampai di butik tempat San Hyuk memesan sesi pelayanan. Pak Choi yang dengan berat hati harus mengabarkan bahwa mereka sudah sampai pada tujuan.
“Terima kasih...” tak lupa Aleya mengucapkan rasa syukurnya pada Pak Choi sebelum keduanya turun sambil bergandegan tangan. Kini Aleya tidak lagi menolak ataupun malu dengan kebersamaan mereka berdua. Bahkan saat keduanya masuk ke dalam butik, pemilik butik itu terus tersenyum simpul melihat pasangan suami istri yang dulu memesan gaun pernikahannya di sana masih begitu mesra di usia pernikahan yang tidak lagi muda.
“Selamat datang Tuan dan Nyonya Shin...” Madam Jo menyambut tamu spesialnya itu dengan atusias.
“Tentu saja, mari ikuti saya...” Madam Jo langsung membimbing langkah pasutri itu masuk ke bagian dalam butik tempat tamu-tamu VVIPnya biasa mendapatkan pelayanan. Setelah memastikan keduanya duduk dengan nyaman, Madam Jo memerintahkan pegawainya untuk mengambil gaun yang sudah ia persiapkan untuk Aleya.
“Apa ini tidak terlalu berlebihan?” Aleya memaut dirinya di depan cermin setelah mengenakan high neck halter dress berwarna wine yang dipesankan oleh San Hyuk. Walau lekukan tubuhnya terlihat sempurna dalam balutan gaun itu, ia merasa agak berlebihan jika hanya digunakan untuk makan malam.
“Tidak, kau terlihat sangat menawan, Sayang...” San Hyuk menjajari Aleya dan mengulurkan sepatu bernada sama yang sudah ia persiapkan sebelumnya, “sempurna.”
“Apa sih yang kau rencanakan?” tanya Aleya sambil mengulurkan tangan untuk membantu San Hyuk berdiri.
“Bukan apa-apa, aku hanya ingin mertua dan kakak iparku tahu bahwa kau kuperlakukan dengan baik selama bersamaku...” San Hyuk mengenggam erat tangan Aleya dan mengajaknya beranjak dari sana.
San Hyuk menyiapkan makan malam spesial untuk keluarga Aleya di lounge VIP S Hotel tempat mereka semua menginap malam ini. Ia akan secara resmi mengenalkan dirinya sebagai suami sekaligus bertemu Jagad untuk pertama kalinya.
San Hyuk sengaja menyiapkan penyambutan terbaik dan dengan tampilan terbaik untuk memberikan kesan pada mereka semua. Walau bukan tabiat San Hyuk dalam hal menyombongkan diri, namun kali ini ia memang sengaja memamerkan kekayaan sekaligus kekuatan yang ia miliki. Hal itu tak lain hanyalah untuk memberikan peringatan secara tidak langsung bahwa Aleya berada di bawah perlindungannya.
***
“Sayang, apakah bajuku sudah bagus?” Luna bergantian memaut dirinya di depan cermin dan di hadapan Jagad. Entah mengapa ia merasa bahwa makan malam ini tidak bisa hanya menggunakan sembarangan pakaian. Ia sudah melakukan sedikit pencarian di laman internet bagaimana gambaran dinner di lounge hotel itu. Hasil pencariannya membuat Luna semakin tidak percaya diri dengan penampilannya. Ia bahkan sempat merengek untuk berbelanja terlebih dahulu sebelum menghadiri makan malam itu.
“Kau sudah cantik. Lagi pula tidak akan ada yang memedulikan cara kita berpenampilan selama kau sendiri sudah begitu cantik,” ucapan Jagad tidak mengada-ada. Walau Luna hanya mengenakan midi dress dengan bahu yang sedikit terbuka, ia sudah terlihat sangat menonjol.
Luna memiliki wajah asia yang terkesan imut nan ceria, namun tidak seperti wajahnya tubuh wanita itu justru sedikit berisi di tempat-tempat yang menunjukan kemolekannya. Auranya menjadi cantik dan seksi. Berbeda dengan Aleya. Ia memiliki postur tinggi dan cenderung memancarkan aura anggun yang dingin. Pancaran kecantikan keduanya sangat berbeda.
“Jangan ngegombal!” Luna bergelayut manja di lengan Jagad, wajahnya kembali bersemu mendengar pujian itu.
“Aku tidak bercanda...” Jagad sekali lagi memperhatikan Luna dari ujung kaki hingga kepala. Matanya mengkilat buas seolah ingin menerkam wanita dihadapannya itu, “kau sangat cantik...”
Jagad lalu berdiri dan merapikan jasnya sendiri di depan cermin, “lagi pula, aku yakin orang itu akan menyewa seluruh lounge hingga tidak ada orang lain yang akan memperhatikan kita. Jadi jangan khawatir, tidak akan ada yang berani melirikmu apalagi membanding-bandingkanmu,” ucap Jagad yakin.