
“Apa yang kau lakukan? Kenapa tergesa-gesa?” Jagad menarik lengan Robin dan menahannya sekuat tenaga, “Aku hanya menyuruhmu duduk di sini. Bukankah ini serasa nostalgia Robin? Bedanya kau dan adikku ini tidak ada di atas ranjang yang sama...”
“Kau!” Robin menghempaskan tangan Jagad dan dengan cepat tangannya sudah berpindah di dada laki-laki itu.
“Wow...wow...sabar, Man!” Jagad mencoba melepaskan tangan Robin yang membuat jasnya kusut.
“Kenapa kalian heboh sendiri, sebenarnya apa yang kalian inginkan?” Aleya berhasil menguasai dirinya. Ia mengenggam erat gelas wine di tangannya agar tangannya berhenti bergetar.
“Apa lagi? Sudah ku katakan aku merindukan masa-masa kita bersama dulu...”
“Maksudmu saat kau merundungku?” Aleya memotong kalimat Jagad, “berhentilah menjadi anak-anak...”
“Apa maksudmu merundungmu? Tindakan rendahan itu tidak selevel denganku!” Jagad terkekeh sendiri saat mendengar ucapan Aleya. Ia bisa merasakan aura keangkuhan yang kini dikeluarkan oleh Aleya. Tapi ia sudah memastikan keangkuahan itu tidak akan bertahan lama. Ia akan segera menghancurkan pertahanan adiknya itu.
“Baguslah kalau begitu! Kalau begitu pertemua malam ini cukup. Selama di Korea aku akan dengan senang hati membantu prosesi pertunangan kalian!” Aleya berdiri dari tempat duduknya. Ia sudah cukup membuat San Hyuk yang terjebak dengan kedua orang tua serta Luna khawatir. Laki-laki itu berulang kali melempar tatapan padanya dan menyayangkan posisinya yang tidak bisa meninggalkan orang tua Aleya begitu saja.
“Apa kini kau merasa akan menang setelah memiliki anak haram itu? Apa kau pikir kau akan menang? Dua lawan satu?” kata Jagad terburu-buru.
Aleya berhenti dan berbalik untuk bisa menatap wajah yang selama ini ia berusaha lupakan itu.
“Aku tidak ada dalam posisi bertarung untuk bisa menang atau kalah,” Aleya menatap kedua mata Jagad yang menatapnya dengan buas, “apa selama ini kau berpikir aku adalah lawanmu?”
“Lalu kau pikir apa?” Jagad mengulum senyum liciknya sementara Aleya menunggu laki-laki itu melanjutkan kalimatnya.
“Kau...ibumu...kalau kau bukan alat yang dibuat untuk menghancurkan keluargaku. Kau pikir kau itu siapa?” Jagad menyilangkan tangannya di depan dada.
“Tau apa kau tentang ibuku!” Aleya tidak melihat titik temu dari percakapan ini. Ia bahkan tidak memiliki memori sedikit pun tentang ibunya. Tapi kenapa Jagad bisa dengan mudahnya menilai ibunya seperti itu? Apa itu berarti Jagad tahu siapa ibunya?
“Jangan berpura-pura bodoh. Sudah saatnya kau bangun dari mimpi indahmu putri kecil...”
“Apa kau berhalusinasi? Mimpi indah gundul-mu!” Aleya benar-benar tidak paham apa yang dibicarakan oleh Jagad. Ia tidak tahu apakah kakaknya itu waras atau tidak untuk mengatakan semua omong kosong itu padanya. Mimpi indah katanya? Satu-satunya ingatan yang ia punya tentang kakanknya itu hanya neraka!
“Kau tau pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?” Jagad menekuiri buku jari tangannya sambil mengabaikan ekspresi Aleya, “itulah dirimu yang sungguhnya, kau adalah buah haram itu dan setelah kau mengalami hal yang sama dengan ibumu, kau juga memilih untuk memelihara buah haram lainnya...”
“Jaga bicaramu!” desisi Aleya.
Tapi bukan Jagad namanya kalau ia takut dengan ancaman Aleya. Ia justru menikmati ketegangan yang sudah lama tidak ia rasakan ini. Perdebatan lahirnya serasa candu yang memompa adrenalinnya.
“Awalnya aku hanya ingin merusak pohonnya saja, siapa sangka kau justru berbuah dan membuat rantai terlaknat itu tidak terputus...” Jagad menyunggingkan senyumnya. Ia semakin merasakan aliran darahnya yang mengalir ke kepala dengan begitu bersemangat. Ia ingin gila rasanya melihat Aleya yang kehilangan ekspresinya.
“Lebih baik kau ke rumah sakit daripada naik kepelaminan!” Aleya ngeri melihat Jagad yang terus saja meracau.
“Anak Robin?” Aleya menatap Robin yang masih saja menghindari tatapannya. Laki-laki itu terus mengalihkan pandangan dari Aleya seolah Aleya tidak ada di sana.
Tanpa bisa ditebak oleh Robin, Aleya berjalan mendekati Robin dan menarik kerah baju laki-laki hingga tatapan mereka sejajar. Ia mengamati dengan seksama wajah Robin termasuk garis wajahnya, warna matanya bahkan warna rambut laki-laki itu.
Hati Aleya berdesir saat melihat siluet Han Byeol dari kedua mata yang kini bergetar berusaha menghindari tatapannya.
“Al...” suara bariton Robin yang memanggil nama Aleya membuat Aleya ingin segera memungkiri kenyataan yang ada di depan matanya.
“Leya-ya...” San Hyuk yang melihat sikap Aleya akhirnya memberanikan diri untuk undur diri dan menyusul ketiga orang yang sedang bersitegang itu. Ia menangkap tangan Aleya agar melepaskannya dari kerah leher Robin.
“Tenanglah....” San Hyuk mengusap punggung Aleya agar wanita itu tidak kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
“Aku sangat kasihan dengan Robin,” lagi-lagi Jagad siap melempar umpan pada Aleya tanpa memperhatikan wajah Robin yang mulai pucat. Ia tidak tahu lagi apa yang akan dikatakan Jagad pada Aleya.
“Gad, aku mohon. Hentikan!” Robin berdiri di antara Jagad dan Aleya. Ia tidak ingin mendengarnya lagi.
“Lihatlah temanku ini. Setelah melewati malam yang panas itu, ia merasakan kerinduannya padamu yang bahkan mematikan hatinya. Tapi kau? Kau dengan begitu mudahnya melupakan malam pertama kalian dan jusru membuka kakimu untuk merayu laki-laki lain,” Jagad tidak bisa menghentikan kalimatnya. Ia semakin senang dengan keadaan ini.
“Cukup!” Robin berteriak dan membuat semua mata akhirnya tertuju pada mereka, “apa kau tidak lihat situasinya?”
“Situasi apa? Tidak ada siapa-siapa di sini kecuali kita? Apa kau tidak ingin bertemu dengan anakmu?” bukannya mereda Jagad kini kian membuat suasana semakin panas.
“Jagad!” Thomas memanggil Jagad. Ia ikut was-was melihat ketegangan yang ada di sekitar mereka berempat.
“Lihatlah adikku, semua orang seolah membelamu. Tidak ada yang berada di sisiku. Kau pikir kau tidak memiliki apa-apa? Bahkan sahabatku satu ini berniat melindungimu...” desis Jagad sambil menatap Aleya tajam.
“Kau gila...” Aleya kembali membalikan badannya. Ia ingin pergi dari sana sekarang juga.
“Al, tunggu Al...” kali ini bukan Jagad melainkan Robin yang memanggilnya.
PLAK!
Dalam sekali gerakan, Aleya berbalik arah dan melayangkan pukulan di wajah Robin. San Hyuk yang berdiri tepat di samping Aleya sangat terkejut melihat pergerakan istrinya yang di luar dugaan. Ia sampai membayangkan bila yang ditampar itu adalah dirinya sendiri mengingat kerasnya dan dampak yang tertinggal di wajah Robin.
“Tutup mulutmu!” Aleya menampar Robin dengan sekuat tenaga. Bahkan pipi Robin mengeluarkan darah karena terkena kuku Aleya.
“...dan kau, Kak Jagad, aku tidak tahu kemampuan bicaramu melebihi wanita!” tanpa menunggu tanggapan dari siapa pun Aleya melenggang pergi dengan angkuh. Tangannya terkepal menahan semua amarah yang kini memenuhi ulu hatinya. Ia bahkan mengabaikan panggilan ke dua orang tuanya dan ingin segera pergi dari sana.