CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 58; Dia Pamanmu



Robin langsung dilarikan ke unit gawat darurat begitu sampai ke rumah sakit. Han Byeol yang berlari di belakangnya langsung berjalan menuju bagian pendaftaran.


“Apa Hagseng adalah keluarga pasien?” perawat yang menerima pendaftaran Robin bertanya saat melihat Han Byeol termenung ketika hendak mengisi form pendaftaran.


“Bukan, saya baru mengenalnya hari ini...” Han Byeol meletakan kembali form pendaftaran. Ia tidak tahu  menahu informasi tentang Robin kecuali namanya.


“Nama Hagseng siapa? Apa kamu baik-baik saja?” perawat itu melihat ada luka di wajah Han Byeol begitu pula dengan memar-memar di tangan pemuda itu.


“Ya, saya baik-baik saja. Bisakah saya menghubungi keluarga saya? Handphone saya hilang,” pinta Han Byeol.


“Tentu saja!” perawat itu menyilakan Han Byeol untuk menggunakan telepon.


***


Aleya masih terus mematau perkembangan pencarian Han Byeol saat tiba-tiba telepon gengam Aleya berbunyi. Nomor tidak dikenal yang muncul dilayar membuatnya gusar. Apalagi itu bukan berasal dari nomor pribadi.


“Halo?” takut-takut Aleya menyapa.


[Mom!]


“Han Byeol-a!” Aleya memastikan lagi siapa yang meneleponnya, “kau ada di mana?” tanya Aleya tak sabaran.


[Aku di rumah sakit, bisakah Mom ke sini? Aku di Rumah Sakit S University]


“Ada apa denganmu? Kau terluka?” Aleya langsung menyuruh pengawalnya untuk mengarahkan mobilnya ke arah rumah sakit yang dimaksud.


[Tenanglah, Mom. Aku baik-baik saja. Hanya saja orang yang menolongku terluka...]


“Siapa?” potong Aleya.


[Aku tidak mengenalnya, aku baru bertemu dengannya hari ini. Ia bernama Robin dan sepertinya dia orang Indonesia]


Dada Aleya sesak begitu nama Robin keluar dari mulut Han Byeol. Ia tidak bisa membayangkan apa yang telah terjadi. Kenapa bisa Robin bersama dengan Byeol dan tidak mungkin juga bertanya pada anak itu saat ini. Ia menahan dirinya untuk tidak gegabah dan mulai menenangkan diri. Setidaknya ia sudah menemukan keberadaaan Han Byeol.


“Baiklah, bisa kau berikan telponmu ke perawat yang ada di sana? Aku akan berbicara dengannya?” pinta Aleya. Tidak berapa lama kemudian ia mendengar suara seorang wanita dari ujung panggilan.


“Saya sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Bisa tolong bantu putraku dan orang yang bersamanya?” Aleya mendengarkan beberapa informasi dari perawat itu. Ia lalu menutup panggilannya dan memejamkan mata untuk menenangkan dirinya sendiri setelah mengirim pesan singkat pada San Hyuk. Ia memberi tahu kalau dirinya sudah bisa berhubungan dengan Han Byeol agar San Hyuk tidak lagi khawatir.


“Robin bersamanya?” Jagad yang hanya bisa mengamati Aleya langsung bertanya begitu panggilan itu berakhir.


“Ya dan katanya ia terluka cukup parah...”


“Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan memastikan kau membayarnya,” Jagad lagi-lagi menggunakan kata bernada ancaman walau ia tahu bahwa bukan Aleyalah penyebab terlukanya Robin. Hanya saja laki-laki itu membutuhkan orang yang harus bertanggungjawab atas semua yang terjadi pada orangnya.


“Kau harus ada dipihak ku jika apa yang terjadi pada Robin adalah ulah ibumu...” walau enggan bagi Jagad untuk mengakuinya, tapi ada firasat yang mengarah pada poin itu.


Jagad  kembali pada tujuannya semua. Ia harus membawa Aleya kembali ke sisinya. Ia tidak ingin melepaskan Aleya lagi. Setidaknya ia harus memiliki tameng untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi, walau itu harus mengorbankan Aleya sekalipun.


“Tenanglah dulu...” entah kenapa Aleya bisa memahami ketakutan yang dirasakan oleh Jagad. Ia merasa kakaknya itu tidak memiliki pilihan lain selain mengucapkan kata-kata kasar untuk menghalau kekhawatirannya sendiri.


“Sebenarnya dirimu yang asli itu yang mana? Jangan membuatku bingung. Kau akan tetap menjadi orang jahat atau orang baik di sini?” Aleya mencoba memecah ketegangan di antara keduanya. Sejak pembicaraannya dengan Jagad tadi, ada sisi lain yang dilihat oleh Aleya dari kakaknya itu.


“Aku sudah melakukan apa pun yang aku bisa untuk membangun benteng pertahanan jika sewaktu-waktu orang itu keluar dari dalam penjara. Tapi sepertinya usahaku tidak ada artinya…” Jagad memandang jauh keluar jendela, “jika bisa aku hanya ingin hidup menjadi orang biasa saja.”


“Kau tidak bisa memungkiri takdirmu…” Aleya lagi-lagi menahan dirinya untuk bertanya lebih jauh tentang sosok yang disebut sebagai ibunya itu. Tidak sekarang, cerita itu akan panjang terlebih lagi jarak ke rumah sakit tinggal lima menit perjalanan.


Begitu mobil memasuki lobby, Aleya dan Jagad segera turun dan langsung berlari menuju unit gawat darurat. Mata Aleya menyapu seluruh ruangan, mencari keberadaan Han Byeol. Setelah melihat sosok yang dikenalinya itu, Aleya menarik nafas sebelum meIangkah dengan tenang ke arah putranya. Ia ingin tetap terlihat tenang dan menjadi orang yang dapat diandalkan oleh anak laki-lakinya.


“Byeol-a?” panggilan Aleya membuat sang putra mengangkat wajahnya yang semula tertunduk menatap lantai.


“Mom!” dalam satu gerakan Han Byeol berdiri dan menyambut kedatangan Aleya. Ia langsung memeluk ibunya itu erat, “maafkan aku…”


“Bagaimana keadaanmu?” Aleya menjauhkan tubuh Han Byeol agar bisa melihat wajah anak itu dengan jelas, “Apakah sakit?” tangan Aleya gemetar mengambang di depan wajah Han Byeol yang terluka, “apa dokter sudah memeriksanya?”


“Hanya memar, dokter sudah memberikan obat…” Han Byeol meraih tangan Aleya dan mencium telapak tangan ibunya itu untuk mengusir kekhawatiran yang tampak jelas berusaha disembunyikannya.


Dalam kehangatan dan rasa haru pertemuan kembali ibu dan anak itu, ada sosok lain yang tengah terpaku menatap keduanya. Jagad bahkan sampai menahan nafasnya demi melihat figur lain yang menyerupainya. Ia bahkan sempat meragukan pengelihatannya saat matanya bertemu dengan sepasang mata hitam tajam yang menatapnya.


Tubuh Jagad merinding dibuatnya. Ia merasa mendapatkan hukuman dari Tuhan atas perbuatannya dulu saat melihat Han Byeol yang mirip dengan dirinya saat muda.


“Ah iya, kenalkan dia pamanmu…” Aleya yang menyadari ke mana arah tatapan mata Han Byeol baru sadar bahwa ini baru kali pertama keduanya berjumpa.


Seperti dugaan Aleya, keduanya sama-sama terpaku. Mereka berdua terlihat begitu mirip hingga tidak heran membuat Aleya berpikir bahwa sosok kakaknya itu ada di dalam diri Han Byeol. Itulah mengapa ingatannya yang tidak lengkap mengarah pada kakaknya. Ia tidak pernah mengira bahwa dialah yang memiliki darah yang sama dengan Jagad dan itu menurun pada Han Byeol.


“Han Byeol…” tangan Han Byeol mengulurkan tangan, menyalami Jagad.


“Jagad,” Jagad menerima uluran tangan Han Byeol dengan gemetar. Sekali lagi ia memastikan penglihatannya saat jarak Han Byeol tinggal satu langkah di depannya. Benar-benar membuat siapa saja yang melihatnya akan berpikir bahwa mereka memilik gen yang sama.


***


Hagseng berarti pelajar. Biasanya panggilan ini umum ditujukan pada anak muda usia sekolah. Baik pelajar atau mahasiswa


buat seger-seger!