
“Mandi dan beristirahatlah, kau pasti sangat lelah,” San Hyuk langsung menyuruh Aleya membersihkan diri terlebih dahulu. Ia sama sekali belum menyentuh air setelah seharian melakukan persiapan untuk acara makan malam.
“Baiklah...” Aleya tidak banyak mendebat dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Ia menguyur dirinya menggunakan air shower yang sengaja ia atur ke suhu dingin. Ingatan yang dulunya samar itu kini terlihat dengan jelas di dalam otaknya. Walau ia tidak mengingat segalanya, Aleya tiba-tiba ingat bagaimana ekspresi Robin saat itu.
“Sial!” Aleya membasuh kepalanya dengan kasar. Ia ingin isi kepalanya luruh dan membeku. Tidak ada gunanya ingatan tentang kejadian yang tidak ia harapankan itu. Itu semua adalah masa lalu.
“Kau baik-baik saja?” San Hyuk yang mendengar suara Aleya memastikan keadaannya.
“Ya aku baik-baik saja!” cepat-cepat Aleya menggosok setiap inci tubuhnya dengan sabun banyak-banyak dan membilasnya sampai bersih sebelum keluar dari kamar dengan menggunakan gaun mandi.
“Keringkan rambutmu, kau tidak boleh sakit lagi...” San Hyuk menggiring langkah Aleya ke arah meja rias, “kenapa kau dingin sekali? Kau mandi dengan menggunakan air dingin?” San Hyuk yang semula hendak meninggalkan Aleya untuk mandi pun mengurungkan niatnya. Ia menatap lekat-lekat wajah wanita yang ia cintai itu, berharap ada satu titik terang yang menjelaskan sikapnya.
“Aku hanya ingin menenangkan diriku...” Aleya memejamkan matanya. Ia merasa bersalah pada San Hyuk atas sikapnya yang seperti itu.
“Aku akan membantumu mengeringkan rambut,” tanpa menunggu persetujuan Aleya, San Hyuk mengambil hair dryer dan langsung mengarahkannya ke rambut Aleya. Ia mengusap rambut itu bak sesuatu yang rapuh dan mudah hancur hingga ia tidak memiliki pilihan lain selain memperlakukannya dengan lembut.
San Hyuk memahami dirinya adalah orang luar dalam masa lalu Aleya, tapi tidak lagi jika masa lalu itu kini datang dalam kehidupannya yang sekarang. Siapa pun tidak berhak untuk melarang San Hyuk ikut campur. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk melindungi keluarganya.
“Tidurlah...” San Hyuk mengakhiri sesi itu dengan bisikan halus di telinga Aleya. Wanita itu hampir saja tertidur dalam belaian tangan suaminya.
“Oppa?” tanya Aleya setengah sadar. Separuh pikirannya sudah melayang ke negeri awan.
“Aku akan membersihkan diri terlebih dahulu,” dalam satu sentakan nafas, San Hyuk sudah memindahkan tubuh Aleya dari atas kursi ke dalam dekapannya. Dengan hati-hati ia berjalan dan meletakan tubuh Aleya di atas tempat tidur. Sekali lagi ia mengusap wajah wanita itu sebelum meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi.
San Hyuk juga butuh menenangkan diri.
Aleya meraih ponselnya begitu San Hyuk masuk ke dalam kamar mandi. Ia melihat jam yang sudah menunjukan pukul 2 dini hari. Tidak enak untuk menelepon Pak Leo pagi buta seperti ini hingga ia akhirnya hanya meninggalkan pesan untuk menghubunginya nanti.
Sambil menunggu San Hyuk, Aleya sibuk dengan ponsel pintarnya dan masih sempat mengecek email kantor dan email pribadinya. Matanya terbuka lebar begitu ia melihat adanya beberapa email aneh yang masuk. Setidaknya ada lima pesan dan semua subjeknya sama.
[Halo, putri ku!]
Tangan Aleya bergetar. Ia ragu apakah ia harus membukanya saat ini atau menunggu San Hyuk keluar dari kamar mandi. Rasa penasaran Aleya menggantung di udara. Tangannya ragu ingin melihat atau mengabaikannya.
Siapa?
Akhirnya Aleya memutuskan untuk membuka email yang paling awal dikirimkan. Tidak ada isi pesan. Hanya ada kalimat sapaan yang sama seperti subjek judulnya.
Email yang ke dua dan ketiga pun sama.
[Kita akan segera bertemu]
Hati Aleya berdebar.
Bertemu dengan siapa?
Email itu dikirim dari Indonesia. Akan tetapi email itu tidak bisa dibalas oleh Aleya. Hanya pesan satu arah yang tidak mungkin bisa menerima balasan. Ia menghela nafas kasar.
Satu masalah belum kelar, sudah ada misteri lain yang harus ia pecahkan. Kepala Aleya mendadak pening. Ia tidak tahu harus mengurai benang takdir ini dari mana.
“Belum tidur?” suara San Hyuk mengagetkan Aleya.
“Belum...” Aleya turun dari tempat tidur dan menghampiri San Hyuk yang sedang mengeringkan rambutnya. Ia lalu meraih pengering rambut itu dari tangan San Hyuk secara naluriah menggantikan San Hyuk untuk mengeringkan rambutnya.
“Besok selain ada meeting pagi, Oppa juga harus bertemu client yang sudah kita hubungi untuk membahas proyek di Singapura. Setelah itu Oppa juga...”
“Wow...wow....” San Hyuk meraih tangan Aleya hingga membuatnya berhenti bekerja, “kau sekarang isteri atau asisten pribadiku? Kenapa malam-malam membahas pekerjaan yang bahkan kau tinggalkan? Apa kau sudah rindu kembali ke sisiku?” San Hyuk menarik pinggang Aleya hingga duduk dipangkuannya.
“Jika aku bisa memilih lebih baik aku bekerja saja, pikiranku justru kacau jika terlalu banyak di rumah,” Aleya berkata jujur, ia lebih suka menyibukan diri daripada harus berdiam diri. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan keberadaan keluarganya selama di Korea. Walau ia tidak terlalu menyukai keluarga angkatnya, tapi ia harus bersikap baik pada mereka yang telah menyelamatkan hidupnya.
“Kau boleh kembali sesukamu, tapi jika di rumah, kau adalah istriku...” San Hyuk mendaratkan kecupan di leher Aleya.
“Sial! Kita harus tidur malam ini!” San Hyuk mengingatkan dirinya sendiri agar tidak terbuai dengan istrinya. Ia harus menahan keinginannya demi kebaikan keduanya.
“Aku tahu...” Aleya bangkit mendahului San Hyuk dan berjalan ke arah tempat tidur. Ia menarik selimutnya sebatas bahu, “Oppa carikan aku orang terbaik dalam hal penyelidikan. Aku akan mencari identitasku di Indonesia. Aku harus tahu kenapa aku bisa ada di panti asuhan dan kenapa ayah kandungku berpura-pura menjadikanku anak angkatnya. Aku merasa ibuku masih hidup.”
Itulah garis kesimpulan yang bisa ditarik dari semua petunjuk yang Aleya dapatkan. Email yang masuk mengarah pada orang tua selain ayahnya. Itu berarti bahwa ibunya masih hidup dan tinggal di Indonesia. Ia hanya tidak tahu alasan apa yang membuatnya terdampar di panti asuhan dan mengapa ia harus mengalami semua itu.
“Apa kau mendapat pentujuk?” San Hyuk mengekori Aleya dan berbaring di sebelahnya.
“Hmm, bisa dibilang seperti itu,” Aleya merapatkan tubuhnya pada San Hyuk dan mencari kehangatan sebanyak mungkin dari lelaki yang sudah tulus mencintainya itu.
Di dalam dunianya yang begitu dingin, hanya San Hyuk seorang yang selalu menawarkan kehangatan.
Walau laki-laki itu terus mengatakan akan melindunginya, Aleya justru berpikir sebaliknya. Ialah yang harus melindungi laki-laki itu dan Han Byeol.
“Kau jangan mengujiku malam ini, Sayang!” San Hyuk memperingatkan Aleya yang sedikit menyesakan tubuhnya pada San Hyuk, “Tidur!” kali ini ia mengatakannya dengan tegas.