CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 6; Bertahan dan Menyerah



“Maaf,” kata Aleya lirih.


“Sudahlah...” lagi-lagi San Hyuk merasa kalah, “apa kau bisa berjanji padaku bahwa kau akan baik-baik saja? Kau tidak akan pergi meninggalkan Korea kan?” pertanyaan San Hyuk membuat Aleya tertegun. Bagaimana bisa laki-laki itu setajam itu intuisinya?


“Tentu saja aku tidak bisa janji!” Aleya melepaskan pengangan tangan San Hyuk di lengannya dan menggengamnya. “Aku mungkin belum bisa mengatakannya, tapi kumohon percayalah padaku, aku hanya tidak ingin membuat pekerjaan di sini kacau gara-gara kebodohanku.”


“Tidak Aleya! Kau tidak bodoh, kau hanya butuh istirahat...” San Hyuk mengsuap punggung tangan Aleya dengan ibu jarinya. Walau dengan perasaan tak rela ia menyetujui izin cuti Aleya. Selalu begitu, jika Aleya sudah berkehandak, San Hyuk tidak mungkin bisa menolak.


“Terima kasih!” kata Aleya sambil berusaha keras menahan rasa sesak di dadanya. Aleya tidak ingin terlihat lemah dan bersandar pada San Hyuk kali ini. Sudah begitu banyak hal yang San Hyuk lakukan untuk dirinya. Kali ini ia memutuskan untuk mencoba mempertahankan kehidupannya sampai titik darah penghabisan.


San Hyuk menatap Aleya lekat-lekat sekali lagi, ia berusaha mencari celah wanita itu namun percuma. Dari dulu selalu seperti itu. Sangat sulit untuk membaca hati dan pikiran Aleya. Ia sangat pandai menyembunyikan keduanya. Tapi sikapnya akhir-akhir ini memang berbeda dari biasanya. Aleya sering kehilangan fokus dan pikirannya entah berada di mana. Sepengetahuan San Hyuk, hal yang paling mengganggu pikiran wanita itu adalah tentang tanah kelahirannya, Indonesia.


San Hyuk tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memeluk Aleya. Ia merengkuh wanita itu ke dalam pelukannya. Ia tidak sedikit pun berniat untuk melepaskannya walau kini Aleya meronta dan berusaha melepaskan pelukan San Hyuk.


“Oppa...” jantung Aleya tidak bisa berhenti berdebar. Matanya sibuk melihat ke arah kaca jendela. Takut jika orang lain melihat sikap San Hyuk. Ia tidak ingin ada rumor tentang dirinya dan San Hyuk di kantor ini.


“Tenanglah, tidak ada yang melihat,” San Hyuk semakin mengeratkan pelukannya, “sebentar saja, setelah ini aku akan melepaskanmu. Aku akan menandatangani surat izinmu jadi...” San Hyuk sengaja menggantung kalimatnya. Ia dengan berat hati melepaskan Aleya daripada harus kehilangan wanita itu untuk selamanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Aleya tapi ia tahu bahwa hal buruk sedang dialami olehnya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanya mengizinkannya dan memberinya kekuatan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Setidaknya itulah harapannya.


Aleya berhenti berusaha melepaskan pelukan San Hyuk begitu mendengar izinnya diterima. Lagi-lagi laki-laki itu memberikan kenyamanan pada Aleya dengan caranya. Tanpa memaksa untuk menuruti keingintahuannya atau menutut untuk selalu dijawab pertanyaannya.


“Terima kasih, aku akan baik-baik saja, Oppa,” kata Aleya seolah menjawab harapan San Hyuk.


“Kau tahu? Aku paling benci sisimu yang satu ini,” kata San Hyuk sambil meletakan dagunya di ujung kepala Aleya. Ia mencoba menghalau rasa yang menuntut lebih pada Aleya. Hal yang selama ini terus ia jaga demi kebersamaan keduanya.


“Oppa, selalu seperti itu. Apa yang dikatakan tidak sesuai dengan tindakan,” Aleya tersenyum tipis mengingat-ingat semua ujaran kebencian San Hyuk. Laki-laki itu selalu mengeluh namun dalam posisi memberikan Aleya tempat untuk menemukan kedamaian. Ia menciptakan suasana dimana bukan rasa kecewa namun justru perhatian sebagai hasil akhirnya. Hati laki-laki itu begitu lembut untuk benar-benar melukai Aleya, “jangan terlalu menahan diri hanya demi aku Oppa,” imbuhnya.


“Sebaiknya kau pulang dan istirahat, aku rasa kau sedikit demam,” perintah San Hyuk sambil menyerahkan dokumen itu pada Aleya. Laki-laki itu tidak mengada-ada. Sudah sejak pagi tadi ia melihat rona wajah Aleya yang sedikit memudar, beberapa kali matanya menangkap gerakan tangan wanita itu memijat pelan pelipisnya. Belum lagi, saat ia memeluknya tadi, ia bisa dengan jelas merasakan perbedaan suhu tubuh yang signifikan di antara keduanya.


“Aku akan menyelesaikan pekerjaanku hari ini terlebih dahulu,” tolak Aleya sopan. Walau yang dikatakan San Hyuk benar, tapi ada beberapa pekerjaan yang harus ia delibrasikan kepada rekannya sebelum ia meninggalkan pekerjaan.


“Kau harus  lebih mempercayai rekan kerjamu jika kau benar-benar ingin cuti. Kecuali kau tetap ingin memantau mereka dari rumah sekalipun,” tegur San Hyuk.


“Tidak apa-apa,” jawab Aleya singkat.


“Baiklah, terserah kau saja,” San Hyuk menyuruh Aleya keluar dari ruangannya. Tapi sebelum Aleya benar-benar pergi, ia kembali memanggilnya, “kau pulang denganku. Tidak ada kata tidak!”


“Baik Ketua Shin,” Aleya tersenyum sambil berjalan keluar dari ruangan. Ia bersandar sebentar pada pintu kayu berukuran raksasa itu untuk kembali menemukan fokusnya. Ia terus meyakinkan dirinya untuk bertahan walau rasa sakit kepalanya kembali menyerang.


“Kuatkan dirimu Aleya...” Aleya mencoba memantrai dirinya dengan hal-hal positif. Ia harus bisa bertahan hari ini untuk bisa menghadapi bongkahan batu paling besar yang selama ini menghalangi jalanya. Ia menyakini bahwa jika ia berhasil melalui fase takdirnya kali ini ia akan menjalani hidup dengan lebih banyak kemudahan untuk ke depannya.


Tapi itu tidaklah mudah!


Air mata lolos dari manik mata indahnya membayangkan pertemuannya lagi dengan Jagad. Ada rasa kengerian yang masih saja menghantui setiap langkahnya. Mimpi-mimpi buruk masa lalu terus saja berulang bagiakan tanyangan drama seri panjang yang tiada ujung penghabisan. Aleya tersiksa lahir dan batin. Selain beban masa lalu, fisiknya juga tidak bisa mengistirahatkan diri dari mimpi buruk yang terus menghampiri.


“Ayolah...” Aleya menepuk pipinya sendiri untuk mengusir hasrat ingin bersadar pada sosok yang kini berada di belakang pintu ini. Ia ingin saja berlari dalam pelukan laki-laki itu berulang kali. Tapi Aleya sadar akan hutang budi yang tidak mungkin ia bayar. Mana mungkin ia bisa menambah panjang daftar hutang kebaikan yang jelas mungkin tidak bisa ia lunasi bahkan dengan apapun yang ia miliki? Ia bahkan punya segalanya!


Tanpa Aleya ketahui, San Hyuk berdiri tepat dibalik pintu tempat Aleya bersandar. Laki-laki itu masih bisa mendengarkan isak tertahan yang sekuat tenaga Aleya sembunyikan. San Hyuk menghela nafas panjang sambil menatap layar tablet yang ia gengam. Sesaat setelah Aleya keluar dari ruangan, pihak keamanan memberikan notif pada San Hyuk bahwa ada yang tidak beres dengan Nyonya Aleya begitu keluar dari ruangannya. Dilaporakan bahwa wanita itu sempat terhuyung jatuh sebelum akhirnya kembali berdiri. San Hyuk langsung bergegas keluar namun urung begitu mendengar suara tertahan dari Aleya. Ia lalu menghubungi tim keamanan dan meminta mereka menghubungkan saluran CCTV ke dalam tabletnya.


“Menyerahlah...” doa San Hyuk sambil menatap layar tabletnya putus asa. Hatinya remuk redam, air matanya ikut jatuh tanpa himbauan.