
“Makan pelan-pelan,” San Hyuk membersihkan serpihan makanan yang menempel di sudut pipi Aleya. Tangannya yang menyentuh gumpalan tipis sejajar itu tiba-tiba saja mengingatkannya pada kecangungan panjang yang membuat tidurnya tidak tenang. Tapi San Hyuk tidak buru-buru untuk menarik tangannya dan berpura-pura apa yang terjadi di antara keduanya adalah hal yang wajar. Ia tidak ingin membuat usaha untuk menyempitkan jarak justru membuat jarak itu semakin lebar.
“Tidak enak...” keluh Aleya.
“Kalau ingin makan enak, segera sembuh agar kita bisa pulang,” rengekan Aleya membuat ujung bibir San Hyuk terangkat, senyumnya otomatis terkembang melihat tingkah lucu Aleya.
“Apa aku tidak bisa pulang sekarang?” rengek Aleya.
“Kau dengar sendiri kata-kata dokter, kau harus ada di sini setidaknya 1x24 jam! Aku tahu kondisi ini sangat membingungkanmu, tapi apa yang akan kita lakukan kalau kejadian semalam terulang?”
“Oppa!” wajah Aleya kembali bersemu mendengar ucapan San Hyuk yang seolah mengabaikan rasa malu yang dirasakan Aleya.
“Kenapa? Kau membencinnya?” goda San Hyuk, “atur nafasmu!” ia mengingatkan ketika melihat telinga Aleya yang semakin memerah, “kau seperti remaja yang baru saja merasakan ciuman pertama.”
“Aku memang baru pertama merasakannya...”
“APA!” San Hyuk sampai berdiri dari kursinya, “sebentar...”
San Hyuk memijat kepalanya pelan. Pikiran cerdasnya mulai menghubungkan banyak potongan puzzel cerita masa lalu Aleya. Hipotesis-hipotesis yang selama ini ia yakini mengarah ke arah yang salah. Pantas saja Aleya selalu menghindari pertanyaan bagaimana ia bisa hamil Han Byeol di usia yang begitu muda tanpa pendamping yang bisa menguatkan pilihannya.
Aleya mendapatkan Hab Byeol bukan karena hubungan seseorang yang saling menyukai satu sama lain. Itu berarti...
Hati San Hyuk tersayat sembilu membayangkan masa lalu yang selama ini mungkin melukai hati Aleya dan lukanya masih menganga di sana. Ini juga yang mungkin membuat Aleya sangat berhati-hati dalam menjaga hubungan dengan berbagai partner kerja. Protokoler yang diterapkannya juga begitu ketat saat acara minum-minum.
Itulah alasanya!
Aleya masih belum sepenuhnya bangkit dari masa lalunya.
“Brengsek!” desis San Hyuk, “apa kau...” San Hyuk menatap Aleya dengan penuh simpati sekaligus ngeri. Ia tidak bisa membayangkan sedalam apa duka yang harus ia damaikan hingga hidupnya seperti sekarang.
“Kau...kau tidak mencintainya?”
“Aku tidak pernah mencintai laki-laki lain kecuali Oppa...”
Hening
San Hyuk tidak bisa mempercayai apa yang baru saja di dengarnya.
Selaput bening mulai menutupi netra San Hyuk. Perasaan lega, bahagia, dan syukur itu menjadi satu hingga kata tak lagi bisa menggambarkan apa yang tengah ia rasakan. San Hyuk tak kuasa membendung air matanya.
“Maafkan aku karena baru memiliki keberanian untuk mengungkapkannya sekarang, tapi aku benar-benar tidak bisa melalui ini sendirian. Maafkan aku...” Aleya ikut menangis, ia benar-benar merasa bersalah karena memanfaatkan San Hyuk untuk kesekian kalinya. Tapi Aleya sudah meyakinkan dirinya bahwa setelah ini ia tidak akan menghindar. Kendatipun San Hyuk akan membuangnya di masa depan, ia tidak peduli. Ia ingin memberikan seluruh jiwa raga dan cintanya hanya untuk San Hyuk.
“Jangan minta maaf. Aku sungguh berterima kasih dan sangat bersyukur kau mau memberiku kesempatan untuk benar-benar menjadi suamimu.” San Hyuk mengusap air matanya sendiri sebelum menyapu buliran bening air mata yang hendak jatuh dari dagu sang istri. Lalu seolah tanpa ada lagi jeda di antara keduanya, San Hyuk menarik Aleya ke dalam pelukannya. Berkali-kali San Hyuk menghujani ciuman mesra di ujung kepala Aleya.
“Maafkan aku...tolong aku sekali lagi...” tangis Aleya pecah dalam pelukan laki-laki yang selama ini melindunginya.
Aleya sadar bahwa saat ini bukan saatnya ia bersifat lemah dan rapuh, tapi ia tidak ingin berpura-pura di hadanpan San Hyuk. Ia adalah satu-satunya tempat untuk ia mengadu rasa. Hanya dia tempatnya berpulang untuk saat ini. Setidaknya Aleya harus membangun benteng pertahanan terakhirnya jika semua persiapan yang ia bangun runtuh di hadapan keluarga angkatnya.
“Mungkin ini terlihat klise, tapi kau selalu menjadi orang yang berharga bagiku Leya-ya. Jadi jangan sangsikan perasaanku padamu. Mulai saat ini kita lalui ini bersama...” San Hyuk melepaskan pelukannya agar bisa memandang wajah sembab Aleya. Selain wajah cantiknya ia juga ingin melihat wajah sembab wanita itu. Sangat jarang Aleya memperlihatkan sisi lemahnya seperti itu.
“Aigooo, menangis pun masih terlihat sangat cantik..akh...” San Hyuk langsung mendapat hukum cubitan di pinggangnya. Ia masih bisa tertawa melihat wajah cemberut Aleya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan membuat keduanya yang asik bercanda menoleh. San Hyuk melihat Han Byeol masuk ke ruangan dengan wajah datar. Tak lama kemudian, Thomas dan Krisma ikut masuk ke ruangan diikuti Pak Leo.
“Appa...” Han Byeol bergegas mengampiri San Hyuk dan memeluknya, “maafkan aku, aku bertemu dengan mereka di lobby,” bisiknya pelan.
“Tidak masalah, sapalah eommu dan berangkatlah sekolah. Biar Appa yang menyelesaikan urusan di sini,” San Hyuk menepuk-nepuk bahu Han Byeol agar anak itu percaya padanya.
San Hyuk lalu menghampiri dua orang itu memberikan salam terbaiknya pada orang yang sudah ia perkirakan sebagai orang tua angkat Aleya. Ia menyilahkan mereka berdua duduk di sofa tamu untuk menunggu sebelum bertemu dengan Aleya.
“Han Byeol masih belum bertemu ibunya karena semalam ia tidur dalam pengaruh obat,” terang San Hyuk agar tidak menimbulkan kesalahpahaman, “mungkin situasi ini kurang tepat tapi izinkan saya mengenalkan diri. Saya Shin San Hyuk, saya yang selama ini menjadi wali Aleya dan Han Byeol di Korea, Ayah Ibu,” San Hyuk berusaha sesopan mungkin dalam mengenalkan dirinya. Ia belum tahu karakter kedua orang tersebut sehingga ia berusaha untuk berhati-hati.
“Wali?” tanya Krisma bingung.
“Saya suami Aleya sekaligus Ayah dari Han Byeol...” jelas San Hyuk.
“Bagaimana kalian bisa menikah tanpa seizin kami!” Krisma tanpa sadar menaikan volume suaranya. Awalnya ia mengira saat Aleya mengatakan bahwa ia memiliki suami hanyalah kalimat kosong belaka. Ia menganggap bahwa putri angkatnya itu sudah mulai gila dengan mengaku-aku memiliki suami dan memberikan anaknya nama berbau-bau Korea.
“Aleya sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya saat saya menikahinya, dan itu sah secara hukum...” San Hyuk masih tersenyum menghadapi ibu mertuanya.
San Hyuk sebenarnya belum tahu benar apa yang terjadi dalam keluarga tersebut. Aleya hanya sekilas menyinggung kampung halamannya yang ada di Indonesia. Wanita itu benar-benar tertutup dalam menyampaikan hal pribadinya. San Hyuk hanya perlu hati-hati dan mungkin inilah kesempatan untuk dirinya mengambil alih atas beban masa lalu itu.