
“Kau menghamilinya…” emosi Jagad terlihat meletup-letup dari matanya. Walau ini di luar dugaannya, ia tidak bisa meluapkan amarah sepenuhnya pada Robin. Hal ini terjadi karena ide gilanya.
Sementara Jagad menyudutkan Robin, pikiran laki-laki itu seolah hilang. Wajahnya terlihat pias. Otaknya yang cerdas langsung tahu apa maksud perkataan Jagad. Ia tidak tahu lagi dosa apa yang ia lakukan. Ia ingin Jagad menyadarkannya bahwa semua ini mimpi, bahkan ia tidak peduli jika Jagad melemparkannya dari lantai 23 gedung itu.
Robin melepaskan cengkraman Jagad dengan kasar. Ia buru-buru keluar dari kamar Jagad.
“Kau mau ke mana hah!” teriakan Jagad diabaikan begitu saja. Pikiran Robin hanya tertuju pada satu orang. Ia ingin bertemu dengan wanita itu sekarang juga.
“Jangan gegabah!” Jagad berhasil menangkap bahu Robin tepat sebelum ia keluar dari kamar.
“Lepaskan!” desis Robin.
“Jangan hilang akal hanya karena wanita! Kau mau berkata apa setelah bertemu dengannya? Meminta maaf? Atau apa? Apa kau pikir dia akan memaafkanmu?” Jagad mencoba menenangkan rekannya itu sebelum ia menambah rumit keadaan. Urusan ini sudah jauh meleset dari dugaannya. Jika salah sedikit saja bisa runyam urusannya.
“Aku harus bertemu dengannya dulu...” Robin yang sudah lebih tenang akhirnya mampu menata pikirannya. Walau apa yang dikatakan oleh Jagad benar, ia tetap ingin bertemu dengan wanita itu sekarang juga.
Jagad mengela nafas kasar. Ia hanya memandangi temannya yang kini tiba-tiba hilang arah itu, “bawa Alex pergi bersamamu. Kau lupa ini bukan Indonesia?”
Tanpa diminta dua kali, Alex langsung berdiri dan berjalan memimpin Robin keluar dari hotel. Ia lalu mengantar Robin ke apartemen yang tadi malam ia datangi tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun. Robin larut dalam pikirannya sendiri sampai ia tidak bisa mendengar apa pun. Bahkan Alex harus menepuk bahu Robin begitu ia sampai di depan apartemen.
Robin berjalan cepat menuju unit yang ia ingat. Bahkan ia meninggalkan Alex yang masih mencari tempat parkir. Kesabarannya ada di ujung tanduk. Ia hanya ingin segera berjumpa dengan wanita yang semalam ia pungkiri kehadiarannya.
“Buka! Aleya! Buka pintunya!” Robin menggedor-gedor pintu apartemen Aleya dengan tergesa. Ia ingin segera melihat wanita itu saat ini juga. Rasa tidak sabarnya ia luapkan pada pintu tak bersalah dengan menggedornya berulang.
“Apa yang kau lakukan!” teriak penghuni apartemen di sebelah Aleya saat mendengar kegaduhan yang ditimbulkan oleh Robin.
Robin mengabaikan teriakan itu. Ia tidak mengerti dan tidak peduli dengan orang itu.
“YAAA! Move! She’s go away!” menyadari bahwa orang yang sedang memukul pintu itu bukanlah orang Korea, ia berusaha menjelaskan bahwa Aleya sudah pindah. Sangat merepotkan mendapat gangguan sepagi ini.
“What!” Robin berjalan cepat ke arah orang yang memberinya informasi itu. Tapi orang itu justru buru-buru masuk ke dalam begitu melihat raut wajah orang asing yang kini terlihat murka. Ia tidak mau berurusan dengan orang tersebut.
“Sial!” Robin melemparkan tinjunya asal begitu ia tidak bisa mencapai orang itu tepat waktu. Harus kemana ia mencari keberadaan Aleya?
“Apa kau sudah tau tempat tinggal Aleya yang lain? Ia pindah!” Robin langsung menyai Alex begitu laki-laki itu berhasil menyusulnya.
“Ada banyak poperty milik Keluarga Shin. Walau saya bisa mencarinya, akan membutuhkan waktu untuk mengetahui di mana Nona Aleya tinggal,” jawaban Alex semakin membuat emosi Robin membucah. Ia kehilangan komposisinya dan tidak bisa menahan luapan perasaan yang kini ia rasakan.
Perasaan ini begitu asing bagi Robin. Ia mengira sudah membunuh perasaannya belasan tahun lalu.
Tapi semua itu berubah begitu ia bertemu dengan Aleya. Ada perasaan getir yang tiba-tiba menyelimuti hati yang sudah lama mati. Ada perasaan bersalah yang menohok tenggorokannya hingga ia tidak bisa bernafas. Robin merasa gusar dengan dirinya sendiri seberapa pun kali ia mencoba untuk menghalau semua perasaan itu.
***
Aleya keluar dari ruang dokter begitu sesi kotrolnya selesai. Tidak ada tanda masalah apapun dari hasil tesnya. Walau ia masih harus mengkonsumsi obat dari dokter, kondisinya sudah jauh dikatakan lebih baik.
“Tuan menunggu Nyonya di kantor, mari saya antarkan...” tidak seperti pasien pada umumnya. Aleya tidak harus menunggu di ruang tunggu untuk mengambil obanya.
“Apa ini sebuah nepotisme?” Aleya terkekeh begitu melihat wajah panik dokter muda itu. Ia hanya menggodanya namun dokter interen yang masih muda itu terlalu tegang untuk menghadapi candaan dari keluarga yang menjadi bagian dari Suwon Grup.
“Aku bercanda...jangan setegang itu. Berapa umurmu?” tanya Aleya untuk mengisi keheningan canggung yang ada di antara keduanya.
“Saya masih 26 tahun Nyonya. Nama saya Han Go Rim...” ia mengenalkan dirinya sendiri tanpa diminta.
“Go Rim-ssi...” gumam Aleya pelan, “Semoga masa interenmu berjalan lancar...”
“Terima kasih, Nyonya...”
Lift berhenti di lantai teratas gedung rumah sakit. Go Rim langsung membawa Aleya ke dalam ruang kantor kepala rumah sakit. Setelah memastikan bahwa San Hyuk ada di dalam, Go Rim menyilahkan Aleya masuk ke dalam.
“Obat Nyonya akan saya antarkan kalau sudah selesai...” kata Go Rim sebelum meninggalkan Aleya.
“Selamat siang Direktur Shin Geon Wo,” sapa Aleya kepada seseorang yang duduk di seberang San Hyuk.
“Siang, aku sudah menyuruhmu untuk memanggilku paman kan?” Shin Geon Wo merasa sedikit kecewa karena istri dari San Hyuk itu masih terlihat sungkan padannya. Ia merupakan adik dari ayah Shin San Hyuk dan menjabat sebagai petinggi di Rumah Sakit S University.
“Paman Geon Wo jangan marah, tidak baik untuk kesehatan paman...” Aleya duduk menjajari San Hyuk yang langsung menangkap bahunya begitu ia duduk.
“Kau jangan coba-coba mengajari Paman jika kau sendiri bahkan tidak bisa menjaga diri!” Geon Wo sempat terkejut saat mendengar keponakannya itu dilarikan ke rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Ia sendiri yang menengok dan mastikan dokter yang merawat Aleya adalah dokter terbaik miliknya. Dari sanalah kegaduhan terjadi di rumah sakit. Status Aleya yang selama ini hanya di ketahui oleh keluarga inti menjadi konsumsi publik rumah sakit.
“Aku benar-benar kualahan untuk membuatnya istirahat, Paman,” keluh San Hyuk bernada permohonan bantuan.
“Mana mungkin kau bisa menang darinya, bukankan karena sifatnya itu yang membuatmu jatuh cinta padanya?” Geon Wo terkekeh saat kembali mengingat San Hyuk muda yang tiba-tiba menggebu-gebu menjalani takdirnya sebagai bagian dari keluarga penerus Suwon Grup. Padahal awalnya laki-laki itu sangat tidak peduli dan keras kepala terkait dengan urusannya dengan grup.
Laki-laki itu mudah sekali berubah perangainya. Jika harta dan kekuasaan tidak bisa menaklukannya, maka kuncinya hanya satu. Wanita.