CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 20; Shin Han Byeol



“Mulai saat ini, kau adalah Shin Han Byeol,” kata San Hyuk sambil mengusap pelan rambut tipis Deepa. Senyum tidak terlepas dari bibirnya, matanya berbinar memandang setiap detail wajah putra angkatnya itu.


San Hyuk bergerak cepat begitu Aleya memberikan lampu hijau pada San Hyuk. Ia segera menghubungi pengacara keluarganya untuk mengurus semua berkas yang dibutuhkan untuk mengurus proses pendaftran pernikahan sekaligus untuk mengurus status Deepa. Bahkan San Hyuk secara pribadi menghubungi Pak Leo untuk membantu Aleya dalam mengurus pernikahan mereka berdua. Walau awalnya Pak Leo menolak namun ia tidak bisa memungkiri fakta bahwa dari awal kehadian Deepa tidak menjadi harapan keluarga Sudjojono. Ia juga bisa melihat bagaimana perjuangan Aleya sendirian di Korea. Selama ini ia hanya bisa bersimpati pada gadis itu dan membantu sebisanya. Tawaran San Hyuk tidak merugikan siapa pun hingga membuat Pak Leo setuju untuk membantu mereka.


Hampir satu bulan lamanya proses pendaftaran pencatatan sipil itu selesai. Aleya dan San Hyuk juga membuat kontrak di antara mereka berdua dengan batasan-batasan yang sifatnya tidak mengekang satu sama lain. Aleya juga menawarkan kepada San Hyuk nama Korea yang pantas untuk Deepa sebagai bentuk rasa terima kasih sekaligus penghargaan untuk laki-laki itu.


“Han Byeol, Hanabake Byeol, Bintang satu-satunya...”


***


Aleya sudah dipindahkan ke ruang perawatan pasien di Rumah Sakit Universitas S. Setelah dibantu perawat untuk mengganti pakaian Aleya dengan busana yang lebih nyaman, ia memesan makan malam melalui aplikasi. Tidak hanya untuk dirinya, ia juga memesan makanan kesukaan Han Byeol dan supir pribadinya.


“Oppa...” suara lirih Aleya membuat San Hyuk memalingkan wajah dari gawainya. Ia bergegas menghampiri tubuh yang kini terbaring ringkih di atas brangkar.


“Sudah bangun?” jemari San Hyuk menyisir pelan anak rambut yang ada di wajah Aleya. Ada kelegaan yang terpancar jelas dari wajahnya.


“Kenapa aku di sini?” setelah beberapa saat Aleya mulai menyadari bahwa ia berada di rumah sakit.


“Kau tidak ingat kau pingsan di dalam lift?” San Hyuk menarik kursi agar bisa duduk menemani Aleya.


“Tidak...”


“Istirahatlah beberapa hari di sini, tekanan darahmu tadi sangat tinggi hingga membuat jantungmu tidak normal. Dokter harus memantau keadaanmu jadi kau akan ada di rumah sakit beberapa hari kedepan,” ada nada perintah di dalam kalimat San Hyuk. Aleya tidak jadi melanjutkan kalimat penolakannya. Sudah barang tentu mustahil untuk melakukannya.


Keduanya kembali terdiam. Walau sama-sama saling menuntut pertanyaan dan penjelasan, mereka hanya saling menatap tanpa berucap. Entah kalimat itu terlalu sulit untuk diucapkan atau justru mereka tidak tahu harus darimana memulai percakapan itu.


“Tidurlah...” San Hyuk berdiri dan merapikan selimut Aleya. Ia ingin wanita itu beristirahat.


“Aku baik-baik saja...” sebelum San Hyuk pergi, Aleya berhasi menangkap jemari laki-laki itu. Ia ingin memberi tahu laki-laki itu bahwa tidak ada yang perlu dicemaskan.


“Aku tahu, kau akan baik-baik saja,” San Hyuk mengenggam tangan Aleya sebentar sebelum kembali memasukannya ke dalam selimut, “aku akan duduk di sofa sambil menunggu Han Byeol datang. Jika butuh apa-apa, panggil aku,” selesai berkata demikian, San Hyuk mengecup puncak kepala Aleya dan membiarkannya beristirahat dengan lebih leluasa.


San Hyuk sibuk mencari nama kontak seseorang di dalam ponselnya. Selain Han Byeol, orang yang tau tentang apa yang terjadi pada Aleya adalah Pak Leo. Orang yang ditempatkan di Korea oleh orang tua angkat Aleya itu pasti tahu apa yang sedang terjadi hingga membuat wanita yang di cintainya seperti itu.


San Hyuk mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa Inggris. Ia belum sepenuhnya bisa menggunakan bahasa Indonesia. Hanya sebatas paham namun tidak mahir dalam tulisan.


[Tuan dan Nyonya Besar ada di Korea. Beberapa hari lagi Tuan Muda dan calon isterinya juga akan ke Korea. Apa Nona Aleya baik-baik saja?]


Pesan itu dibalas lebih cepat dari dugaan San Hyuk. Laki-laki itu pasti juga ikut mengkhawatirkan keadaan Aleya.


[Dia dalam masa pemulihan. Terima kasih]


San Hyuk memutar-mutar ponselnya cemas. Pasalnya ia belum mengenal keluarga angkat Aleya. Ia juga tidak tahu seberapa besar tekanan yang diberikan oleh keluarga itu hingga kedatangannya saja membuat Aleya merasa begitu tertekan. Walau wanita itu terus mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tapi matanya selalu bergetar tiap kali kalimat itu ia sampaikan. Ia tidak bisa membohongi San Hyuk.


“Appa...” panggil Han Byeol begitu melihat San Hyuk duduk di sofa. San Hyuk tidak menyadari kedatangannya karena  ia menggeser pintu ruang perawatan dengan pelan seolah tidak ingin mengagetkan siapa pun yang ada di dalam. Walau nafas pemuda itu terlihat tidak teratur, ia masih bisa menahan diri untuk tidak masuk ke dalam ruangan sambil menimbulkan keributan.


“Eomma gimana?” Han Byeol memilih duduk di samping San Hyuk saat melihat ibunya sudah lebih dulu terlelap.


“Tekanan darahnya tinggi, tapi eomma mu sudah ditangani dengan baik. Jangan khawatir,” San Hyuk mengusap-usap punggung Han Byeol untuk menenangkannya, “sudah makan?”


“Bagus, nanti temani Appa makan,” sahut San Hyuk begitu Han Byeol menggeleng.


“Eomma akan baik-baik saja kan?” hati Han Byeol masih tidak tenang. Ada kekhawatiran yang terus menerus membuat pikirannya kacau. Ia bahkan tidak bisa focus dengan apa yang ia kerjakan saat ini.


“Sebenarnya apa yang terjadi? Ada masalah apa di rumah?” San Hyuk melirik ke arah Aleya, memastikan bahwa ia benar-benar sudah terlelap.


“Orang itu akan datang…” jawab Han Byeol setelah terdiam cukup lama. Ada keraguan yang takut untuk ia ungkapkan. Ia hanya bisa menatap wajah ayahnya lekat-lekat untuk memastikan firasatnya.


“Aku bukan anak kandung Appa kan?” pertanyaan itu begitu lirih keluar dari mulut Han Byeol. Selain keraguan, ia juga takut ayahnya akan marah padanya.


“Apa maksudmu bahwa kau bukan anak ku?” San Hyuk mencoba menahan rasa penasarannya. Ia ingin tahu alasan apa yang membuat Han Byeol akhirnya sadar atas status kelahirannya. Diusapnya pundak Han Byeol agar pemuda itu tidak tertekan untuk mencurahkan pikirannya pada San Hyuk.


“Aku selalu bertanya-tanya mirip siapakah aku. Selama ini aku mengabaikan pertanyaan teman-temanku, tapi  semenjak aku memasuki masa pubertas. Ada hal aneh yang aku sadari…” Han Byeol sengaja memberikan jeda pada kalimatnya untuk menatap mata ayahnya.


“Tatapan mata Eomma…” Han Byeol meremas jemarinya, “ada  ketakutan yang tersirat di matanya dan Eomma tidak hanya sekali terkejut jika aku muncul tiba-tiba di sampingnya. Seolah aku adalah seseorang yang tidak diharapkan ada di dalam hidupnya…”