
Sang tokoh utama dalam pemberitaan media bisnis langsung menggelar press conference malam itu juga. Tidak bedanya dengan artis-artis papan atas Korea, San Hyuk dan Aleya sampai menawarkan kepada media untuk mengadakan pertemuan malam itu juga.
Begitu San Hyuk sampai di kantor bagian humas Suwon Grup, ia melihat para pemburu berita masih bertahan di luar ruangan padahal waktu sudah hampir masuk dini hari. Hal ini merupakan pemandangan asing bagi San Hyuk mengingat ia tidak pernah berurusan dengan media seperti halnya kedua kakaknya. Beberapa kuli tinta itu bahkan tidak mengenali wajah San Hyuk saat ia melangkah masuk ke dalam gedung.
“Apakah Anda Tuan Shin San Hyuk?” tanya seorang wartawan yang curiga dengan kedatangan seseorang ke kantor pusat dengan dandanan yang tidak bisa dikatakan bahwa ia hanya seorang karyawan biasa. Walau wajah San Hyuk terlihat asing dimata para wartawan itu, tapi aura yang keluar dari cara San Hyuk bersikap tidak bisa menyembunyikan bahwa ia adalah didikan orang kelas atas.
“Ya, saya tidak menyangka tuan-tuan menunggu di kantor sampai selarut ini,” begitu San Hyuk mengkonfirmasi identitasnya, orang-orang yang hampir lelah menunggu itu kembali bertenaga dan langsung mengerumuni San Hyuk sambil melontarkan berbagai macam pertanyaan.
“Tuan...” pengacara pribadi San Hyuk, Kim Min Seo yang menyadari keributan itu berusaha menghalangi dan melindungi atasnnya bersama beberapa pertugas keamanan yang berjaga.
“Tenanglah tuan-nyonya semuanya. Saya akan menjawab pertanyaan tuan dan nyonya, biarkan staf kami menyiapkan tempat agar kita semua lebih nyaman,” San Hyuk tidak tega harus membiarkan mereka bertahan di kantor ini lebih lama. Akan lebih baik jika ia menyelesaikannya langsung saat ini juga.
“Tuan San Hyuk...” Pengacara Kim memberikan kode agar San Hyuk tidak menanggapi mereka namun ditolaknya dengan halus.
“Tolong minta karyawan humas siapkan ruangan, jangan lupa pesankan mereka minuman. Aku akan masuk terlebih dahulu,” San Hyuk menyusul langkah Aleya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam kantor. Ia sengaja menjaga jarak dari San Hyuk mengingat identitasnya belum terekspose ke media.
“Apa yang akan Tuan katakan pada mereka?” Pengacara Kim mengkonfirmasi apa yang akan dilakukan oleh atasannya itu. Ia sudah hapal sekali bahwa San Hyuk sangat berbeda dengan kedua kakaknya. Walau ia pribadi yang baik namun San Hyuk acapkali melakukan hal-hal yang sifatnya spontan dan tidak dapat diduga. Seperti kedatangannya malam ini dan press conferece dadakan yang tidak ada dijadwal mereka dalam menyelesaikan masalah.
“Tentu saja, aku akan menjawab semua pertanyaan mereka!” jawab San Hyuk mantap. Pengacara Kim semakin pucat sementara Aleya yang duduk di sampingnya hanya bisa memaklumi tanpa bisa menolongnya. Ia sudah hapal dengan cara penyelesaian masalah San Hyuk.
“Anda tahukan, berita sekecil apa pun bisa mempengaruhi image dan saham perusahaan. Anda tidak boleh sembarangan dalam memberikan berita terutama informasi pribadi,” Pengacara Kim tidak sadar bahwa ia sedang menggurui atasnnya.
“Ya aku tahu...” jawab San Hyuk tenang.
“Apa kau pikir aku sedang bercanda?” San Hyuk menatap pengacarnya dengan masgul. Entah pikiran apa yang telah membuat sikapnya berubah dari yang bisanya tenang menjadi salah tingkah.
“Bisakah saya mempercayai Anda?” Pengacara Kim menyadari kesalahannya. Ini pantas disalahkan jika terjadi apa-apa dengan Shin San Hyuk. Atasnya itu memiliki kepribadian yang sempurna hingga ia terlena. Ia tidak melakukan riset mendalam tentang siapa orang yang seharusnya ia jaga itu. Ia justru sibuk menangani kasus lain di perusahaan itu selama lima tahun ia membersamai San Hyuk.
“Kali ini aku minta tolong padamu,” ini kali pertamanya San Hyuk meminta tolong terkait urusan pribadi pada Pengacara Kim. Ia sebelumnya hanya menggunakan jasanya jika ada hubungan dengan pekerjaannya di Suwon Grup.
“Ayo ikut masuk, agar kau tahu secara mendalam masalah pribadi ini,” begitu San Hyuk berdiri, Pengacara Kim kembali diserang kepanikan. Ia tidak menduga bahwa ia akan masuk ke dalam ruang konferensi tanpa tahu cara untuk melindungi San Hyuk.
“Tu..Tuan!” pengacara muda itu tergopoh-gopoh saat mengikuti langkah San Hyuk yang sudah hampir meninggalkannya. Keringat dingin membanjiri kemejanya.
“Tenanglah Pengacara Kim,” Aleya tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak pengacara itu.
“Apa Tuan sering sekali bertindak seperti ini Asisten Aleya?” tanya Pengacara Shin.
“Ya, seperti itulah Tuan Muda, ia selalu memikirkan hal yang kadang tidak bisa kita mengerti,” Aleya menjawabnya dengan jujur. Sampai saat ini pun ia juga tidak bisa memahami jalan pikiran San Hyuk.
“Anda pasti punya cadangan kantong kesabaran jika melayani Tuan Shin bukan. Benar-benar hebat sekali!” dari cara bicara Pengacara Kim sepertinya ia masih mengenal Aleya sebagai asisten San Hyuk dari awal mereka berdua berkerja di Suwon. Tidak ada orang lain yang menggantikan posisi Aleya selama peningkatan status dan karir San Hyuk di perusahaan. Ia adalah salah satu bibit unggul dan karyawan teladan di Suwon.
Langkah mantap San Hyuk langsung disambut cahaya dari flas kamera media begitu ia memasuki ruang press conference yang disediakan secara dadakan oleh pihak kantor. Sambil menebar senyum terbaiknya ia berhenti tepat di belakang podium yang menghadap para pemburu berita itu. Ia menunggu sampai mereka semua cukup tenang dan menurunkan kamera sebelum memulai pertemuan itu. Jujur saja, San Hyuk tidak terbiasa menjadi perhatian media apalagi juru kamera.
“Selamat malam Tuan dan Nyonya,” San Hyuk tidak ingin acara malam ini terasa begitu kaku dan formal mengingat wajah lelah dan putus asa dari lawan bicaranya, “mohon maaf Anda sekalian harus rela menunggu sampai dini hari untuk mendapatkan keterangan dari Suwon Grup. Hari ini saya sendiri yang akan menjawab segala keingintahuan Anda. Perkenalkan, nama saya Shin San Hyuk. Seperti yang sudah Anda semua duga, saya adalah orang yang seharian ini menjadi pusat pencarian utama di laman bisnis. Walau saya tidak menjadi bagian dari dewan direksi Suwon Grup, saya masih bagian dari perusahaan dan secara resmi terdaftar sebagai putra ketiga dari Presiden Shin. Salam kenal...”