
“Ada masalah apa?” tanya Yong Nam saat San Hyuk menghubunginya untuk datang ke bar yang biasa mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama.
“Apakah harus ada masalah untuk bisa bertemu?” San Hyuk menyambut kedatangan temannya sambil menarik kursi di sampingnya.
“Apa kau sudah berhasil mengencani anak asing itu?” tanya Yong Nam penasaran. Pasalnya, San Hyuk menghabiskan banyak waktu dengan Aleya dan rumor kencan itu semakin kecang karena San Hyuk selalu menjadi kuda hitam Aleya disaat acara minum-minum.
“Tidak…” jawab San Hyuk sambil tersenyum. Walau dia tidak sepenuhnya menyanggah perasaannya, tapi San Hyuk juga belum memberikan kepastian akan hubungannya.
“Jangan membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tidak pasti. Bukannya kau punya mimpi?” San Hyuk hanya mengiyakan ucapan Yong Nam dengan anggukan lemah. Apa yang dikatakan temannya itu tidaklah salah. Akhir-akhir ini memang perhatiannya teralihkan oleh Aleya. Gadis itu datang seperti semilir udara pegunungan yang menyejukan. Membuatnya terlena oleh kenikmatan sementara.
“Iya, aku akan menanyakannya. Nanti,” jawaban San Hyuk terkesan ambigu. Ia mengulum senyum sambil menyesap wiski yang sedari tadi dipegangnya.
Ada hal yang tidak dikatakan oleh San Hyuk pada Yong Nam. Sebenarnya ada hal yang menganjal di hatinya. Ganjalan itu tertahan tepat di mulutnya. Tidak kuasa ia berbagi dengan Yong Nam walau sudah mendatangkannya kemari untuk menemaninya. Ia tidak sendirian melalui hari ini.
Hubungannya dengan Aleya memang dimulai dari pertemanan, namun hal itu tidak bisa menutupi kenyataan bahwa ada perasaan yang bermain di antaranya. San Hyuk terus saja menyakinkan hatinya untuk mempercayai perasaannya. Tapi ada sebuah relung besar masih menganga yang harus ia isi sebelum meyakinkan perasaannya agar tidak sia-sia. Tapi bagian itu hanya Aleya yang mampu mengisinya. Sampai saat ini pun ada sisinya yang tidak San Hyuk mengerti. Seolah ada misteri yang sedang di sembunyikan oleh Aleya, gadis itu sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya.
Mau tidak mau San Hyuk akhirnya meyakinkan diri untuk bertanya. Dan dia mendapat jawaban yang tidak terduga dari gadis yang selama ini memenuhi setiap sudut di dalam hatinya.
Sehari sebelumnya, San Hyuk pergi bersama Aleya. Ia mengajak gadis itu berjalan santai di pinggiran Sungai Han. Aleya yang awalnya menolak akhirnya mengiyakan ajakan San Hyuk setelah ia merengek.
“Cantiknya…” gumam Aleya pelan. Matanya terfokus pada lembayung senja yang melukis langit Seoul dengan warna eloknya.
“Benarkan kataku, kalau sunset di sini sangat indah!” San Hyuk sebenarnya tidak hanya ingin menunjukan pemandangan itu pada Aleya. Tapi ia juga untuk mengajak Aleya beristirahat sebentar saja dari rutinitas hariannya yang padat. San Hyuk melihat bahwa Aleya terlalu kejam pada dirinya sendiri hingga tidak bisa menikmati masa mudanya.
“Hmm…” Aleya mengangguk setuju tanpa mengalihkan padangannya dari matahari yang sebentar lagi tenggelam menggantikan siang dengan malam.
“Berkencanlah denganku,” kata San Hyuk tiba-tiba.
Pengakuan San Hyuk yang tiba-tiba membuat Aleya langsung menoleh. Ia ingin memastikan tidak ada yang salah dengan pendengarannya. Pandangan keduanya terkunci, ada jeda yang terasa canggung antar keduanya.
“Why?” pertanyaan Aleya memecahkan keheningan, “Apakah Oppa mencintaiku?”
“Itu jelaskan? Bagaimana aku bisa mengajakmu berkencan jika aku tidak menyukaimu?” San Hyuk justru terkejut dengan pertanyaan Aleya. Apa perhatian dan sikapnya selama ini tidak diterjemahkan sebagai wujud perasaannya pada Aleya?
“Bukankah kita memutuskan untuk berteman?”
“Bukankah kita harus berteman dulu sebelum berkencan?” pertanyaan Aleya dibalas dengan pertanyaan oleh San Hyuk.
“Aku tidak bisa melakukannya,” jawab Aleya lirih. Ada rasa kecewa yang harus ia tahan saat mengeluarkan pernyataan itu.
“Kenapa secepat itu memberikan jawaban?” San Hyuk juga tidak bisa menahan perasaan kecewanya.
“Oppa tidak tahu apa-apa. Aku tidak ada dalam posisi untuk menjalin cinta. Aku…” suara Aleya tercekat. Riak di kedua bola matanya mulai terlihat. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya dari San Hyuk.
“Kau yang tidak memberiku ruang untuk tau dan mengenalmu.” Ucapan San Hyuk semakin membuat Aleya tidak bisa berkata-kata. Tidak ada yang salah dengan perkataan San Hyuk. Ia memang menutup diri dari San Hyuk terutama masalah kehidupan pribadinya.
“Apa kau sengaja memberikan harapan palsu untukku?” San Hyuk sebenarnya tidak ingin memberikan pertanyaan yang dapat melukai hati Aleya. Ia tahu bahwa satu-satunya laki-laki yang dekat dengannya hanya dirinya seorang.
“Tidak seperti itu hanya saja…” Aleya sendiri masih terus mengelak dari perasaan yang mulai mengetuk pintu hatinya. Ia tidak ingin perasaan itu menghabiskan pikiran dan perasaannya. Ada hal yang sebenarnya tidak ia sampaikan pada San Hyuk.
“Coba katakan padaku, apa yang membuatmu menyangsikanku?” San Hyuk berusaha menangkap pandangan Aleya yang terus mengalihkan tatapannya. San Hyuk bisa melihat bahwa ada hal yang disembunyikan Aleya dimana porsinya lebih besar dari perasaanya.
“Bicaralah…aku akan mendengarkannya…apa pun itu,” bujuk San Hyuk.
“Aku tidak memiliki hak untuk memikirkan hal apa pun tentang cinta untuk saat ini…” Aleya berusaha mengendalikan gemuruh perasaannya. Ia memaksa logikanya untuk mengambil alih komando atas hatinya.
“Siapa pun berhak untuk dicintai dan mencintai Leya-ya…” hibur San Hyuk.
“Tapi tidak saat ini, cintaku sudah aku dedikasikan untuk orang lain…” sahut Aleya.
San Hyuk tertegun. Apa itu berarti ia telah memiliki kekasih atau mencintai orang lain?
“Apa maksudnya itu? Kau tidak…sendiri?” dada San Hyuk berdebar saat berusaha memahami maksud ucapan Aleya.
Aleya menatap mata San Hyuk lekat-lakat, ada jeda tanpa nada di antara keduanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa memberi tahu San Hyuk adalah keputusan yang tepat. Mungkin sudah saatnya ia membuka dirinya dan bersiap dengan keputusan apapun yang akan diambil San Hyuk.
“Aku memiliki seorang...anak,” sambil berkata demikian Aleya menelan ludahnya. Ia perhatikan perubahan wajah San Hyuk.
San Hyuk tidak tahu harus berkata apa. Menurutnya itu sangat tidak masuk masuk akal. Bagaimana bisa Aleya memikirkan alasan yang sangat tidak logis?
San Hyuk berdiri dari tempat duduknya, “aku antar kau pulang!” ia tidak ingin lebih tersakiti dengan kebohongan yang tidak perlu. Ia sudah menyimpulkan bagaimana perasaan Aleya padanya. Tidak perlu menambah kebohongan lain.
“Aku akan pulang sendiri. Sepertinya Oppa membutuhkan ruang untuk diri Oppa tanpa adanya aku untuk memahami semua ini.” Aleya ikut berdiri. Sudah waktunya ia pulang.
“Jika kau ingin menolak ku, bilang saja kau tidak tertarik padaku! Jangan berbohong hal yang tidak masuk akal seperti itu!” teriak San Hyuk tiba-tiba. Ada bara kekecewaan yang tergambar jelas di bola matanya. Bukan penolakan yang membuatnya seperti itu, tapi karena kebohongan Aleyalah yang membuatnya murka.
“Aku tidak berbohong,” senyum getir terkembang di bibir mungil Aleya, “Aku adalah seorang ibu.”
Saat itu Aleya berusia 20 tahun
San Hyuk 24 tahun.
Tapi takdir menggariskan cerita berbeda diantara keduanya.
어떤 말로 표현해야
Dengan kalimat apa aku harus menjelaskannya
그대 알 수 있을까요
Agar kau bisa mengetahuinya?
어떤 맘을 담아내야만
perasaan seperti apa yang harus kutunjukan
그대에게 전해질까
Agar sampai padamu?
하루 종일 눈에 아른거려서
Setiap hari, kau selalu ada di depan mataku
똑같은 매일을 보내고 있다고
Setiap hari melalui hari yang sama denganku
나의 맘이 부담이 돼
Aku takut perasaanku menjadi baban
그대가 달아날까 봐
Dan membuatmu kabur dariku
함께 있는 지금만으로도
Kebersamaan kita seperti ini pun
충분하다 생각했지만
Kupikir sudah cukup bagiku
점점 커지는 그댈 향한 마음에
Namun, perlahan-lahan perasaanku padamu semakin tumbuh
이젠 말을 하고 싶죠
Saat ini aku ingin mengatakannya padamu
Kyuhyun-The Moment My Heart Flinch