CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 40; Anak Haram?



“Maaf, hanya tamu yang bisa masuk ke dalam...” penjaga pintu lounge menghentikan langkah Jagad yang memimpin di depan.


“Dia bersama kami,” jawab Jagad tegas.


“Kami paham, selain Anda berempat, orang-orang Anda bisa menunggu di sebelah sini...” penjaga itu menunjuk ke sisi luar lounge yang dipisahkan oleh kaca. Lokasinya masih memungkinkan untuk memantau keadaan di dalam jika orang-orang yang dibawa Jagad merupakan pengawal pribadinya.


Robin dan juga Alex tidak banyak protes. Setelah bertukar pandang dengan Jagad, mereka langsung menuju tempat yang sudah ditunjukan oleh penjaga. Mereka justru merasa lebih nyaman tidak harus dilibatkan dalam perbincangan keluarga yang rumit itu.


Seperti yang Jagad duga, begitu mereka berempat memasuki lounge VIP hotel, tidak ada siapa pun kecuali staf lounge yang ada di dalam. Laki-laki yang berstatus suami Aleya itu pasti sudah memanfaatkan kekayaannya untuk menggunakan seluruh lounge sebagai area bermainnya. Ia benar-benar tidak main-main untuk menunjukan seberapa besar pengaruh uangnya.


“Jagad, ikut Papa sebentar!” Thomas lebih dulu berdiri. Tanpa menunggu respon Jagad, ia sudah mendahului pergi ke ujung lounge. Sebisa mungkin jauh dari jangkauan pendengaran Krisma dan Luna.


“Kalian jangan bertengkar!” pesan Krisma sesaat sebelum Jagad beranjak dari tempat duduknya.


“Jangan terlalu banyak berharap...” Jagad masih sempat-sempatnya menggoda ibunya.


Hati Krisma sejujurnya merasakan kecemasan yang luar biasa. Ia tidak tahu apakah anak laki-lakinya itu sudah dewasa atau masih menyimpan dendam luka lama. Walau kini Jagad sudah bersama Luna, namun Krisma belum sepenuhnya percaya. Ia bahkan selalu khawatir jika ayah dan anak itu pergi bersama.


Thomas menunggu Jagad yang masih beberapa langkah di belakangnya. Kerisauan yang ia rasakan tidak bisa ia tutupi dengan mudah. Laki-laki tua itu bahkan berulang kali mengusap tangannya yang terus saja basah karena keringat dingin tanda betapa tertekannya dia.


“Kenapa Papa begitu khawatir?” Jagad menyingrai mendapati ayahnya yang kini terlihat begitu cemas.


“Kau masih bertanya kenapa?” Thomas memandang sangsi putranya.


“Aku benar-benar tidak mengerti,” Jagad berlagak tidak tahu apa-apa. Ia sengaja membuat hidup ayahnya itu tidak tenang.


“Mungkin kau dulu bisa sesuka hatimu pada Aleya, tapi saat ini ia sudah tidak lagi sendiri. Lebih baik kalian hidup dengan mengurusi kehidupan kalian masing-masing. Jika sampai kau melakukan tindakan yang melukainya lagi, kita akan dalam masalah besar...” kalimat Thomas berisi saran dan sedikit ancaman. Walai ia belum bertemu langsung dengan San Hyuk, ia sudah sedikit banyak mencari informasi tentang Suwon Grup.


Aleya kini bukan lagi anak remaja yang tidak memiliki perlindungan. Kini ia bisa saja menjadi ancaman jika Thomas ataupun Jagad salah mengambil langkah.


“Apa hal seperti itu masih perlu Papa katakan? Papa pikir aku tidak bisa melihatnya?” Jagad berdecak heran sambil melipat tangannya di depan dada. “Dari dulu sampai sekarang Papa tidak pernah percaya padaku, sebenarnya anak kandung Papa itu siapa sih?”


Thomas menelan ludahnya begitu mendapati pertanyaan Jagad. Entah dengan alasan apa, tatapan mata Jagad membuat Thomas tidak bisa menjawab begitu saja. Ada sebuah pesan yang Jagad sampaikan dari tatapan matanya.


“Kenapa?” Jagad melangkah mendekati ayahnya, “Apa karena Aleya kini terlihat kaya dan memiliki kuasa, Papa lebih memilih anak haram itu daripada anak sah Papa?”


Kalimat Jagad membuat Thomas membeku di tempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Anak haram?


Apakah itu berarti bahwa Jagad sudah mengetahui siapa Aleya sebenarnya?


Thomas hanya bisa menatap Jagad yang kini tersenyum penuh kemenangan. Sikapnya ini yang membuat Thomas yakin bahwa Jagad sudah tahu tentang kenyaataan itu.


“Ayo! Putri kecil kita sudah datang!” tanpa menghiraukan kekacauan pikiran Thomas, Jagad terlebih dahulu meninggalkan orang itu saat melihat Aleya yang masuk ke dalam lounge.


“Dia benar-benar berubah...” gumam Jagad saat melihat sosok Aleya yang semakin jelas. Ia melirik ke arah luar lounge tepat di mana Robin duduk. Seperti tebakannya, laki-laki yang biasanya memiliki hati sekuat baja itu seakan kehilangan jati dirinya. Ia hanya menatap kosong pada sosok yang melenggang sempurna memasuki lounge hotel.


***


“Kau terlihat sangat gugup, Sayang!” San Hyuk terkekeh sambil membalas genggaman tangan Aleya pada lengannya. Ia bisa merasakan tangan Aleya yang terasa begitu dingin walau sudah ia pegang dari tadi.


“Aku baik-baik saja...” jawab Aleya tidak yakin.


“Kau sangat cantik... sungguh... dan tidak ada yang perlu kau risaukan. Hotel ini milik kita dan kau punya aku yang berdiri di sampingmu...” San Hyuk berusaha meredakan kecemasan yang di rasakan istrinya yang kini terlihat lebih cantik dari biasanya itu. Ia sengaja memberikan make up senatural mungkin agar kecantikan alaminya tidak tertutup hasil riasan wajah.


“Kenapa Oppa menggodaku terus sih...”


“Aku hanya berbicara apa adanya...”


Aleya dan San Hyuk masih saling melempar candaan hingga pintu lift terbuka. Mereka kemudian melangkah keluar dan langsung di sambut oleh penjaga.


“Tuan...Nyonya... Tamu Anda sudah datang...” info penjaga itu sambil membimbing mereka berdua ke arah tamu yang dimaksud.


“Terima kasih...” ucap Aleya begitu penjaga itu pamit.


“You’re my wife now and I really love you...” tanpa Aleya duga, San Hyuk membisikan kata ajaib itu di telinganya. Aleya menoleh agar bisa menatap wajah San Hyuk. Wajahnya perlahan bersemu merah mendengar ucapan itu keluar disaat-saat yang tidak bisa ditebak.


“What’re you doin...” Aleya hanya bisa mencengkram lengan San Hyuk sambil membalas senyumnya yang begitu lebar karena telah berhasil membuat Aleya melupakan kegugupannya. Ia kini bisa berjalan dengan lebih santai ke arah keluarga angkatnya itu.


“Lama tidak berjumpa adik kecil!” sapaan Jagad membuatnya mengernyit. Bukankah beberapa hari yang lalu ia menerobos masuk ke apartemennya tanpa izin?


Jagad berjalan mendekati Aleya dan memeluknya dengan erat layakanya kakak adik yang sebenarnya. Aleya sewajar mungkin membalas pelukan Jagad agar tidak membuat situasi malam ini terasa canggung. Terlebih lagi ada dua orang asing di antara keluarga itu.


“Selamat datang, Kakak!” Aleya mengikuti saja alur yang sedang dimainkan oleh Jagad. Ia memberik San Hyuk kesempatan untuk mengamati dan mengenal keluarganya. Mereka semua lalu mulai mengenalkan diri satu persatu sebelum menempati tempat duduk masing-masing.


“Mohon maaf karena saya belum sempat ke Indonesia...” San Hyuk mencoba mencairkan suasana di antara mereka. Jelas sekali bahwa dalam keheningan itu terdapat belati bernada ancaman yang saling terlontar dari tatapan mata mereka, kecuali Luna.


“Tidak apa-apa saya mengerti kesibukan Anda,” Thomas tersenyum canggung menjawab mantu barunya itu.


“Tidak, seharusnya saya memang melakukan hal itu dari lama,” San Hyuk masih bisa merasa sungkan dengan fakta yang selama ini diabaikan. Walau itu yang ia harapankan, ia tidak menyangka hubungannya dengan Aleya akan berjalan lancar.


“Anda benar-benar seperti tokoh drama yang biasa saya lihat!” gumam Luna tanpa sadar yang membuat meja itu tertawa spontan.