
“Dari mana ia mendapatkan uang sebesar itu! Jangan bercanda kau Leo!”
“Nona Aleya bekerja dan Tuan San Hyuk yang membiayai semua keperluan Han Byeol. Tuan San Hyuk bahkan menghitung semua uang yang Han Byeol gunakan mulai dari dalam kandungan hingga ia menjadi tanggung jawab Tuan San Hyuk,” Leo tidak bisa diam saja dan melaporkan apa yang ia ketahui. Ia tidak ingin kejadian seperti tadi harus dialami oleh Aleya. Ia adalah orang yang selama ini ada di sisi Aleya, tentu saja kedekatan Leo dengan Aleya lebih mendalam dari pada dengan atasannya sendiri.
“Apa maksudmu?” Thomas tidak mengerti apa maksud ucapan Leo.
“Tuan San Hyuk mengganti semua uang yang Anda transfer ke rekening Nona Aleya untuk kepentingan Han Byeol. Tuan San Hyuk ingin semua urusan Han Byeol menjadi tanggungjawabnya,” sambil mengatakan hal tersebut, Pak Leo memberikan akun rekening Aleya yang selama ini ia pegang.
“Sombong sekali anak itu!” mata Thomas dan Krisma melebar demi melihat digit angka yang tertulis di dalam buku tabungan Aleya. Bahkan Aleya sudah lama sekali tidak mengambil uang yang ditransfer kepadanya. Anak itu bahkan seolah-olah mengembalikan uang yang ia terima sebagai uang sakunya selama di Korea. Aleya juga sudah lama tidak memanfaatkan fasilitas yang diberikan Sudjojono tepatnya setelah ia berkerja dan menikah dengan San Hyuk. Ia juga pindah ke apartemen yang kini ia tempati dan apartemen yang dulu disediakan untuk Aleya pun kini telah disewakan kepada orang lain. Hasil persewaan itu juga utuh tanpa tersentuh di rekening khusus Aleya.
“Sebenarnya siapa sih anak itu! Apa dia pikir kita kekurangan uang?” Krisma merasa tersinggung dengan sikap San Hyuk. Walau ia terkejut dengan banyaknya nominal yang kini ada di dalam buku tabungan Aleya, ia tidak terima diremehkan seperti itu.
“Tuan San Hyuk adalah putra dari pemilik Suwon Grup”, Leo melirik ke arah atasannya itu dari kaca tengah mobil, “hotel yang Tuan dan Nyonya tempati adalah bagian dari Suwon Grup.”
“Kalau cuma hotel pun kita juga punya! Kau meremehkan kami?” Krisma mencibir Leo. Kenapa pegawainya sendiri justru sangat menghormati orang asing itu!
“Rumah sakit tempat Nona dirawat juga bagian dari Suwon Grup,” Leo tidak ingin memperpanjang daftar aset milik keluarga San Hyuk. Dua poperti itu sudah cukup membuktikan bahwa San Hyuk memang bagian dari orang-orang yang terlahir dengan uang yang berlebih.
“APA?!” Krisma tidak mempercayai pendengarannya, “sebenarnya apa yang Aleya lakukan hingga orang itu mau menikahinya?”
Sementara Krisma tidak habis pikir dengan pemikiran San Hyuk yang menikahi orang yang tidak berasal dari levelnya, pikiran Thomas justru tertuju pada banyak hal. Melihat interaksi antara San Hyuk dan Aleya membuatnya yakin bahwa hubungan keduanya memang dilandasi dengan cinta yang tulus dan mendalam. Ia juga bisa melihat cara San Hyuk memperlakukan Han Byeol dengan penuh kasih sayang.
Kini sosok Aleya bukanlah remaja yang rapuh apalagi anak-anak papa tanpa harapan hidup. Ia juga tumbuh menjadi wanita karir yang cerdas dan mandiri. Pernikahannya dengan bukan orang sembarangan menunjukan bahwa ia diterima baik oleh keluarga mereka. Tentunya ada nilai jual lebih yang membuat Aleya mampu bersaing dengan orang-orang pada level itu.
Hal terpenting yang menjadi pemikiran Thomas adalah fakta di mana Aleya kini tidak lagi sendirian. Ia tidak mungkin lagi mereka tipu ataupun mereka atur seperti dulu. Terlebih lagi ada orang-orang yang berdiri dibelakangnya. Aleya bukan lagi lawan yang lemah dan mudah dikalahkan.
Thomas bahkan sempat tergiur dan serakah untuk mengambil Han Byeol sebelum ia tahu dengan siapa Aleya menikah. Tapi ia melupakan satu hal. Masalah utamanya adalah Jagad, putranya sendiri. Thomas tahu benar watak dan kepribadian putranya hingga ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika tahu tentang Han Byeol.
Jika Thomas memilih untuk menutup mata dan merahasiakan tentang anak Aleya, mungkin apa yang dibayangkan Thomas tidak akan terjadi. Ia bisa menjaga keutuhan keluaganya sekaligus tetap memilki Han Byeol sebagai cucunya dengan mengakui pernikahan mereka. Jika San Hyuk benar sekaya itu, ia juga bisa menambah koneksi dan jaringan bisnis kedepan dengan menantunya.
“Ma, kita tidak boleh memberitahu Jagad tentang anak itu!” Thomas tanpa sadar mencengkram lengan istrinya. Keputusannya sudah bulat.
“Sakit! Ayah kenapa sih! Bukannya kemarin Ayah menginginkan anak itu?” Krisma mengusap lengannya.
“Kita kan tidak tahu dengan siapa Aleya menikah! Coba Mama pikirkan baik-baik manfaatnya. Jika kita mengakui pernikahan itu, anak itu tetap menjadi cucu kita dan kita mendapat mantu kaya raya. Kita hanya perlu mengatakan pada Jagad kalau Aleya menikah setelah ia pindah di Korea,” Thomas mulai mengarang ceritanya agar sesuai logika.
“Apa Jagad bakalan percaya? Anak itu sangat mirip dengannya!”
“Kenapa Ayah seolah-olah jadi menyalahkan Jagad sih!” Krisma memang sangat menyayangi Jagad sampai pada titik di mana ia selalu melindungi anak semata wayangnya itu. Jagad adalah satu-satunya miliknya yang harus ia jaga dan ia perjuangkan.
“Mama juga tahu kan kalau Jagad bersalah?” Krisma tidak bisa berkutik mendapat pertanyaan itu dari Thomas.
Sesaat ruang di dalam mobil itu terasa begitu sempit.
Krisma tidak ingin pernikahan Jagad gagal karena kehadiran Aleya dan anaknya. Sedangkan pikiran Thomas terbagi dua. Ia ingin Jagad hidup dengan normal dengan melupakan masa lalunya dan ia juga tidak ingin cucu biologisnya terluka.
Mereka ingin mengubur dalam-dalam cerita masa lalu yang kelam.
Sudah berbagai cara mereka gunakan untuk memisahkan Aleya dari Jagad. Bahkan Thomas melakukan pemblokiran pada passport Jagad agar ia tidak bisa mencari Aleya ke Korea.
Tapi pertemuan kali ini tidak mungkin bisa dihindari.
Pertemuan Jagad dengan Aleya juga sudah pasti akan membuka luka lama.
Apalagi mereka tahu bahwa Jagad mencintai Aleya.
***
Ada banyak cinta yang tercipta di dunia. Ekspresinya pun masing-masing berbeda.
Ada yang mencurahkan seluruh pikiran, energi dan hati untuk mengungkapkan, ada yang mencoba melangkah beriringan walau kadang tak sejalan, tapi banyak juga yang memilih mencintai dalam diam.
Kita tidak bisa menilai cinta itu baik, apalagi cinta itu toxic.
Masing-masing rasa sudah punya hak dan cara untuk berbunga. Sudah ada takdir pula yang membiarkannya tumbuh atau layu.
Tidak ada yang salah
Hanya saja kadang kita lupa bahwa ada waktu dan takdir yang membimbing ke mana cinta itu mengalir dan kemana bahtera itu berlabuh.
Dan tidak semua orang paham tentang hukum alam yang berkuasa dalam diam