
“Oppa jangan bersikap seperti itu, jangan meremehkan diri sendiri!” Tanpa sadar Aleya berhenti berbicara formal pada San Hyuk. Apa mereka tahu bahwa atasan mereka adalah orang yang suka merengek seperti itu?
“Benar, aku adalah Oppamu jauh sebelum aku menjadi atasanmu. Aku kira kau melupakannya.” San Hyuk menatap Aleya tajam. Manik matanya terus tertuju pada wanita yang kini duduk gelisah di hadapannya. Ada getar yang sengaja ditahan dan disembunyikan Aleya namun tak luput dari mata San Hyuk.
“Maaf,” kata Aleya lirih.
Hubungan Aleya dan San Hyuk bisa dibilang rumit. Sebelum San Hyuk menjadi atasan Aleya, mereka sudah terlebih dahulu saling mengenal semenjak berada di bangku kuliah. Tidak hanya sebatas teman, San Hyuk adalah orang yang paling dekat dengan Aleya. Teman-teman kuliahnya mengira mereka adalah sepasang kekasih mengingat keduanya selalu bersama-sama bahkan sampai detik ini. Di acara formal seperti pernikahan atau reuni pun, keduanya selalu bersama. Terlebih lagi, kini mereka bekerja di kantor yang sama walau dengan posisi yang berbeda.
Shin San Hyuk merupakan atasan sekaligus putra dari pendiri perusahaan Suwon Grup. Walau ia mendirikan bidang dan devisinya sendiri, Suwon Construction tetap saja bagian dari Suwon Grup. Usaha yang dirintisnya tidak serta merta menghapus kenyataan bahwa ia terlahir dengan sendok perak di mulutnya .
Aleya sendiri merupakan warga perantauan dari Indonesia. Setelah menyelesaikan SMA, ia pindah ke Korea dan kuliah di univertias ternama dengan beasiswa. Aleya tidak mengetahui bahwa San Hyuk adalah putra dari salah satu konglomerat yang ada di negeri gingseng itu. Laki-laki itu bahkan tidak menggunakan kendaraan pribadi saat pergi ke kampus. Baru setelah Aleya memulai karir sebagai customer service di bagian pemasaran perusahaan pengadaan barang dan jasa Suwon Grup, ia mengetahui tentang status San Hyuk yang sebenarnya.
Suatu ketika ia dipanggil oleh kepala HRD. Panggilan itu menghebohkan devisinya karena sangat jarang karyawan biasa seperti dirinya dipanggil langsung oleh Kepala HRD. Aleya juga tidak tahu menahu apa yang akan terjadi padanya. Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun hingga harus dipanggil langsung oleh pimpinan.
“Anda yang bernama Aleya Su...” Kepala HRD, Lee Seong Nam terlihat kesulitan melafalkan nama Aleya.
“Benar saya Aleya Sudjojono, Kepala Lee bisa memanggil saya Aleya. Ada yang bisa saya bantu atau adakah perihal lain sehingga Anda memanggil saya kemari?” tanya Aleya langsung.
“Kemasi barang-barangmu. Mulai hari ini kau akan bekerja sebagai sekretaris di Suwon Konstruksi,” jawab Kepala Lee.
“Apa saya boleh tahu apa alasannya?” tanya Aleya kebingungan. Walau ia baru satu tahun di Suwon Grup, ia sudah mendengar tentang adanya devisi baru yang dipimpin putra dari Direktur Utama. Devisi baru memang memungkinkan banyaknya peluang promosi jabatan, namun Aleya merasa ada yang aneh mengingat promosinya terkesan begitu drastis dan tak berdasar. Masih banyak orang lain yang seharusnya dipromosikan terlebih dahulu daripada dia yang masih anak baru di perusahaan.
“Kau kenal dengan Shin San Hyuk?” Aleya tidak langsung menjawab pertanyaan Kepala Lee karena mungkin orang yang di maksud olehnya berbeda dengan orang yang di kenal Aleya.
“Ketua Shin sendiri yang memintamu untuk menjadi asisten sekaligus sekretarisnya, dia bilang kau sangat mampu untuk melakukannya terlebih lagi kalian teman kuliah,” jawaban Kepala Lee membuat Aleya tertegun. Tidak salah salah. Orang yang dimaksud oleh Kepala Lee adalah orang yang sama. Ia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
“Aleya?” tanya Kepala Lee lagi.
“Ya?” Kepala Lee terkejut, “Apa!” ia membetulkan posisi duduknya, “kau menolaknya tanpa berpikir panjang? Apa kau tidak tahu bahwa ini kesempatan yang sangat jarang didapatkan oleh karyawan biasa apalagi baru sepertimu?”
“Maka dari itu saya menolaknya. Kepala Lee juga berfikir bahwa ini tidak benar, kan? Saya ingin hidup dengan tenang di kantor ini.” Aleya sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
“Walaupun ini perintah langsung dari Ketua Shin?” tatapan Kepala Lee perlahan berubah. Awalnya ia curiga pada Aleya karena secara pribadi Ketua Shin langsung yang menginginkan Aleya. Ketua Shin bahkan menolak semua rekomendasi sekretaris yang diberikannya dan langsung menyebut nama Aleya yang bukan siapa-siapa. Kepala Lee hanya bisa mengiyakan dan ia justru terkejut melihat CV Aleya. Wanita itu memang memiliki kemampuan lebih yang sayang jika hanya berada di devisi pemasaran. Wanita itu memiliki penguasaan bahasa yang lebih dari cukup bahkan untuk dijadikan asisten pribadi.
“Ya, saya akan menolaknya! Bisakah Anda menyampaikanya pada Ketua Shin?” pertanyaan Aleya kembali membuat Kepala Lee menaruh penghargaan untuk Aleya. Ia merupakan salah satu potensi perusahaan dengan kecerdasan dan ketegasan yang kini terpancar dari sikapnya.
“Aku aka membicarakannya dengan Ketua Shin sekali lagi.”
“Kalau begitu apa saya kembali ke meja saya? Saya masih memiliki banyak pekerjaan,” Aleya tidak ingin membuang waktunya lama-lama di ruangan itu.
“Apa kau tidak takut dikeluarkan dari perusahaan dengan sikapmu seperti itu? Sebenarnya apa hubunganmu dengan Ketua Shin?” Kepala Lee tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran tentang asal dari sikap percaya diri yang dimiliki Aleya.
“Saya tidak takut sama sekali. Panggilan Anda hari ini sudah menunjukan bahwa saya layak untuk dipertahankan. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang, tidak lebih,” Aleya menatap Kepala Lee dengan lurus, “saya ingin menjaga profesionalitas pekerjaan, seperti yang Anda pastikan sebelumnya, saya mengenal beliau secara pribadi tanpa mengetahui posisinya yang setinggi itu.”
Penjelasan Aleya sangat masuk akal dan dapat diterima baik oleh Kepala Lee. Ia bisa memaklumi sikap Ketua Shin karena mungkin ia sudah tahu kemampuan Aleya sebelumnya. Walau ia lega Aleya menolak scout-nya, tapi di sisi lain ia juga menyayangkan jika Aleya hanya ada di posisinya saat ini.
“Sialan!” begitu keluar dari ruangan Aleya mengumpat pelan. Shin San Hyuk sialan itu telah membohohonginya dan kini memanfaatkan posisinya sebagai atasan. Laki-laki itu baru enam bulan bekerja di kantor pusat tapi sudah mengacaukan ritme kerja Aleya.
Aleya bahkan mengabaikan panggilan San Hyuk setelah mengetahui kenyataan bahwa San Hyuk adalah anak dari pemilik Suwon Grup. Yang Aleya ketahui selama ini, laki-laki itu bekerja sebagai arsitek lepas dibeberapa perusahaan. Beberapa bulan yang lalu, San Hyuk mengatakan akan membuka perusahaannya sendiri. Ia tidak menduga bahwa perusahaan yang San Hyuk maksud adalah Suwon Construction. Aleya merasa dibodohi karena ia bercerita tentang pekerjaannya pada San Hyuk ketika mereka bertemu tanpa tahu agenda besar yang sedang diusung oleh rekannya itu.
Tapi begitulah rantai makanan ini bekerja, penolakan Aleya sudah barang tentu hal yang sia-sia. San Hyuk langsung memerintahkan Kepala Lee untuk memproses kepindahannya. Ia bahkan sudah merekrut pegawai lain yang akan menggantikan posisi Aleya. Hal ini tentu membuat Aleya tidak enak hati dan mau tidak mau mengikuti trik licik San Hyuk. Aleya menerima permintaan San Hyuk dengan catatan San Hyuk harus bersikap secara profesional pada dirinya.
Harapan Aleya tentu saja tidak bisa sepenuhnya terwujud, kebersamaan dan keintiman mereka tidak bisa dipisahkan jika hanya berdua. Walau duet mereka membuat project yang diusungnya melejit drastis. Aleya masih berharap orang-orang tidak melihat karirnya hanya karena koneksi yang ia miliki, tapi memang karena ia mampu berada di posisi tersebut. Ia tidak ingin ada celah yang muncul yang bisa dijadikan orang-orang untuk menggunjingnya. Ia ingin menunjukan bahwa apa yang dimilikinya saat ini memang karena ia pantas mendapatkannya. Oleh karena itu, wanita itu tumbuh menjadi pekerja keras dengan sikap dingin dan tegas. Termasuk pada San Hyuk sendiri.