CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 2; Tanggungjawab



Aleya berdiri resah di depan counter dapur setelah berhasil menenangkan kedua orang tuanya. Sambil memberikan jeda untuk saling menjaga emosi keduanya, tangan Aleya sibuk menyiapkan teh. Kini sepasang suami istri itu  duduk di sofa ruang tengah sambil menatap tajam ke arah Aleya. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi selama 15 tahun ini.


“Rasanya mungkin tidak seperti di Indonesia, tapi silahkan…” Aleya meletakan kedua cangkir teh di depan Krisma dan Thomas sebelum berpamit, “saya akan menelepon kantor terlebih dahulu.” Tanpa menunggu persetujuan dari sepasang suami istri itu, Aleya masuk ke dalam kamar. Ia mengambil gawainya dan menelepon sekretaris kepala untuk mengabarkan keterlambatannya. Ia juga tak lupa mengirimkan pesan kepada atasannya untuk memberikan kabar. Ia sengaja hanya meninggalkan pesan karena ini adalah jam berangkat kerja dimana semua rekan kerjanya pasti sedang dalam perjalanan menuju kantor. Aleya yang sudah bersiap pun melepas kembali blazernya sebelum keluar dari kamar.


“Sebenarnya ada perihal apa yang membuat Ayah dan Ibu ke Korea, terlebih tanpa memberikan kabar terlebih dahulu?” tanya Aleya begitu ia duduk di depan orang tuanya. Tidak seperti sebelumnya, kini Aleya sudah kembali menguasai emosinya. Wajahnya kembali tenang setelah sebelumnya terkejut tidak karuan.


“Apa aku harus meminta izinmu terlebih dahulu untuk bisa datang kemari?” pertanyaan ketus Krisma hanya ditanggapi senyuman oleh Aleya. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan ibunya hingga ia melupakan bagaimana perangai ibunya sebenarnya.


“Tidak, hanya saja, saya harus menyambut anda tanpa persiapan apa pun,” Aleya meyesap teh yang ia buat.


“Sebelum menyampaikan apa maksud kedatangan kami, apakah kami bisa mendapatkan keterangan apa yang sebenarnya Aleya? Siapa pemuda tadi? Apa itu putramu?” ragu-ragu Thomas bertanya. Biar bagaimanapun ia masih ingat kondisi Aleya saat keluar dari kediamannya. Walau benar Aleya hanya anak angkatnya, ia tetaplah menjadi tanggungjawabnya. Tidak seharusnya sepasang orang tua itu membuang Aleya setelah kecelakaan yang terjadi pada anak angkatnya.


Aleya masih sangat muda saat mendapati dirinya tengah mengandung. 18 tahun. Ia tengah duduk di bangku kelas 12 dan mempersiapkan studinya di Korea saat musibah itu terjadi padanya. Aleya mengatakan pada mereka bahwa ia hamil dan kakak angkatnyalah yang menyebabkan hal demikian. Suami istri itu tidak percaya dengan apa yang diceritakan oleh Aleya mengingat tidak hanya satu orang yang bersama Aleya saat kejadian buruk itu terjadi. Mereka menyarankan Aleya untuk menghapus calon bayinya agar masa depannya tidak hancur.


Tentu saja Aleya menolak.


Ia tidak tega dan rela untuk membunuh calon bayi yang ada di dalam perutnya. Bagaimana bisa Aleya membuhuh satu-satunya orang yang akan menjadi keluarganya? Aleya ingin mempertahankan kandungannya dan memutuskan untuk membesarkannya di Korea selagi ia melanjutkan studinya.


Itulah kali terakhir ia bertemu dengan dua orang itu. Walau secara finansial Aleya masih mendapat dukungan dari Thomas dan Krisma, Aleya sama sekali tidak pernah bertemu bahkan diizinkan untuk pulang kembali ke negaranya. Segala urusan keluarga selalu diselesaikan oleh sekretaris yang rutin mengunjunginya.


“Benar,” jawab Aleya dengan tenang.


“Apa kau bilang dia benar-benar cucu kami? Apa kau benar saat mengatakan bahwa ayah dari anak itu adalah Jagad? Kakakmu?” Krisma yang mendengar jawaban Aleya kembali tidak dapat menahan emosinya. Ia beranjak untuk mendekati Aleya namun ditahan oleh Thomas.


“Tidak. Han Byeol adalah putraku. Ia bukan anak dari Kak Jagad,” balas Aleya dengan tenang.


“Kalau dia bukan anak Jagad, kenapa wajahnya seperti itu!” Krisma tidak bisa menguasai dirinya. Instingnya sebagai ibu terus saja memberikan kode bahwa ada yang salah. Bahwa perasaannya tidaklah keliru. Tidak mungkin anak yang lahir dari seorang anak angkat bisa begitu mirip dengan anaknya ketika masih muda.


“Dia bukan anak Kak Jagad. Tidak pernah ia menjadi putra dari keluarga Sudjojono,” tegas Aleya. Ia kemabali meminum tehnya. Walau terlihat tenang, Aleya sebenarnya sangat takut sampai tenggorokannya terasa begitu kering dan ludahnya pahit.


“Aleya, katakanlah sejujurnya saat ini juga, sebelum semuanya terlambat...” ucapan Thomas membuat Aleya bingung.


“Kakakmu hendak menikah, tapi jika benar putramu adalah anak kandung Jagad, kita harus membatalkan pernikahan itu...”


“Ayah jangan bercanda!” Krisma langsung naik darah begitu mendengar penjelasan dari suaminya. Ia tidak mengerti kenapa Thomas berbicara seperti itu, “Tidak ada pembatalan apa pun! Jagad tatap akan menilkah dengan Tamara!”


“Tapi jika dia adalah cucu kita, bagaimana mungkin kita mengabaikannya. Aleya harus menikah dengan Jagad agar status ayah dari anak itu jelas. Apa kau akan membiarkan cucumu menderita! Dia harus punya ayah!” Thomas tidak ingin kalah dengan pendapat Krisma. Ia tidak ingin membiarkan cucunya kesulitan di masa depan.


“Tapi pernikahan Jagad itu penting! Aku tidak ingin anak itu merusak masa depan dan kebahagiaan Jagad!” Krisma tidak bisa menahan dirinya. Ia kini berteriak sambil bercucuran air mata membayangkan pernikahan anaknya yang akan gagal.


“Anak itu butuh ayah!”


“Han Byeol punya Ayah!” Aleya yang membaca inti dari perdebatan  itu terpancing emosinya. Ia ikut berteriak untuk menghentikan pedebatan yang tidak melibatkan dia dan Han Byeol sebagai subjek utamanya. Dari awal, bukan Aleya dan Han Byeol yang menjadi prioritas permbicaraan itu. Hanya putra tunggal mereka yang mereka khawatirkan.


“Apa kau bilang?” selidik ayah. Ia tidak yakin dengan pendengarannya hingga ia kembali bertanya pada Aleya.


“Han Byeol memiliki ayah, kalian tidak perlu mencemaskan apa pun tentang Han Byeol. Urus saja pernikahan Kak Jagad. Jika ada yang bisa aku bantu aku akan dengan senang hati membantu.” Aleya tulus mengatakan hal demikian. Ia kini tahu tujuan orang tua angkatnya datang jauh-jauh ke Korea. Akan ada pesta besar di rumah dan akan sangat aneh jika Aleya tidak pulang ke negaranya. Nama baik keluarga itu akan hancur jika media masa sampai mencium ketidakhadiran Aleya dalam perhelatan besar kakaknya.


“Apa maksudnya dia punya ayah? Bagaimana dia bisa punya ayah jika kau saja belum menikah Aleya?” Thomas tidak paham jalan pikiran Aleya.


“Apa kau sudah gila?” Krisma menatap Aleya tak percaya. Apa Korea membuat anak angkatnya itu menjadi gila? Siapa yang mau menikah dengan orang asing yang bahkan memiliki anak? Jika adapun hal semacam itu hanya terjadi di drama.


“Ibu tahu aku sudah gila sejak lama. Kalau aku tidak gila, mana mungkin aku memilih hamil dan tinggal di negeri orang!” Aleya menatap ibunya tajam. Ia memang anak angkat yang harus selalu bersyukur dengan apa yang telah keluarga itu berikan padanya. Tapi kini ia sudah jauh lebih dewasa untuk membela dan melindungi dirinya sendiri.


“Aleya!” tegur Krisma.


“Semua tenang, apa maksudmu kau sudah menikah?” Thomas tidak ingin keduanya bertengkar lebih lama. Yang ia butuhkan saat ini adalah kejelasan maksud dari ucapan putrinya.


“Ya, Ayah tidak salah dengar. Aku sudah menikah!” jawab Aleya tegas.