CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 11; Perisai Pelindung



[Oppa, ada waktu malam ini? Jika tidak keberatan, bisakah kau menemaniku ke Bar XX jam delapan malam?]


Setelah berundi dengan batinnya sendiri, akhirnya Aleya mengirimkan pesan itu pada San Hyuk. Tidak seperti biasanya, ada rasa ketidakrelaan untuk mengajak San Hyuk bergabung dengannya malam itu. Kebiasaan berkumpul dan menghabiskan malam bersama ini merupakan hal yang tidak bisa Aleya biasakan ada dalam agenda hariannya. Ia harus pulang dan sebisa mungkin ia mengindari perkumpulan ini. Hanya sesekali ia bergabung, jika itu dirasa penting.


[Ada apa ini? Kenapa malam sekali?]


San Hyuk mengernyitkan dahi begitu melihat pesan teks yang dikirimkan oleh Aleya. Bukan tanpa alasan. Biasanya Aleya akan mengindari acara pertemuan itu dan selalu pulang lebih awal. Bahkan jika mereka pergi keluar bersama, Aleya selalu bilang ia harus pulang sebelum jam tujuh malam. Untuk orang seusia mereka, jam malam ini sangat tidak umum dan cenderung menyiksa. Tapi berbeda dengan Aleya, gadis itu selalu menjaga prinsipnya kecuali jika itu sangat penting.


“Gimana? Apa jawabannya?” tanya beberapa gadis yang duduk tak jauh dari Aleya. Mereka semua teman seangkatannya.


“Ehm... San Hyuk-ssi belum menjawab. Kita tau kan kalau mahasiswa seangkatannya sibuk?” kilah Aleya. Ia menjauhkan ponselnya begitu terlihat ada nama San Hyuk dilayar ponselnya, “sebentar...”


“Kenapa?” tanya San Hyuk langsung begitu Aleya mengangkat panggilannya.


“Hmmm, bagaimana aku mengatakannya?” Aleya menggigit kuku jarinya ragu.


“Ada yang ingin bertemu atau berkenalan denganku?” tebak San Hyuk.


“Iya...” Aleya bersyukur ia tidak harus menjelaskan duduk perkaranya pada San Hyuk. Laki-laki itu seolah sudah paham dengan apa yang sedang terjadi. Sudah hampir setahun Aleya dan San Hyuk menjalin hubungan pertemanan mereka. Tidak jarang keduanya menghabiskan waktu bersama di kampus. Hal ini tidak memungkiri munculnya rumor kencan antar keduanya. Jika salah satunya menjawab bahwa mereka hanya berteman, maka salah satu akibat yang ditimbulkan adalah hal-hal seperti ini.


“Bilang saja kalau aku tidak bisa, atau kalau mereka memaksa, ganti  lokasinya, jangan di bar. Di cafe saja. Aku selesai kuliah jam lima.” San Hyuk tidak ingin bertemu mereka tanpa Aleya, tentu saja. Hal yang paling penting adalah keberadaan Aleya bersamanya.


“Terima kasih...” hanya kalimat itu yang mampu Aleya sampaikan sebagai ganti rasa syukur atas pengertian San Hyuk. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada pemuda yang akhir-akhir ini mengisi satu ruang spesial di hatinya.


“Sampai bertemu nanti,” kata San Hyuk sebelum mengakhiri sambungannya. Laki-laki itu menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Walau selama ini ia memahami sistem jam malam Aleya, ada ganjalan besar yang sampai saat ini belum terjawab olehnya. Alasan Aleya melakukan itu. Gadis itu juga sangat sulit diajak keluar di akhir pekan. Apa dia memiliki seorang kekasih?


San Hyuk buru-buru membuang rasa pesimisnya.


Jika Aleya memiliki kekasih, mana mungkin ia mau ‘memanfaatkan jasa’ yang diberikan oleh San Hyuk? Aleya bisa saja mengajak kekasihnya untuk keluar malam agar terhindar dari acara minum-minum yang sering dilakukan oleh jurusan. Tapi sejauh yang ia tahu, Aleya selalu mengajaknya jika acara itu harus ia hadiri.


Lalu kenapa?


San Hyuk sudah pernah bertanya, tapi gadis pujaannya itu hanya tersenyum dan mengatakan bahwa San Hyuk belum waktunya tahu alasannya. Aleya juga selalu menolak di antar sampai ke rumahnya. Ia benar-benar seolah membatasi kehidupan pribadinya dan memilih untuk menjalin hubungan yang tidak terlalu dalam dengan siapa pun.


[Kita ke kafe H ya, Oppa bisa menyusul setelah selesai. Terima kasih]


Aleya menghela nafas begitu pesannya terkirim. Ia lalu berjalan kembali ke arah teman-teman sekelasnya. Aleya memang tidak terlalu akrab dengan mereka. Tapi semejak Aleya berteman baik dengan San Hyuk, orang-orang mulai menaruh perhatian pada Aleya. Bagaimana tidak, laki-laki bernama Shin San Hyuk itu merupakan super star di kampus mereka sejak awal masuk kuliah. Bagikan model yang berada di sekeliling orang biasa, San Hyuk mulai terkenal dengan sosoknya yang tampan dan rupawan. Belum lagi dengan sikap ramahnya yang membuat siapa saja merasa nyaman berada di dekatnya.


Aleya juga merasa bahwa San Hyuk terlalu menonjol untuk menjadi temannya. Ia sempat merasa terbebani dengan julukan sebagai wanita terdekat San Hyuk. Tiba-tiba perhatian yang selama ini sudah ia terima karena asal negaranya yang berbeda, kini harus bertambah dengan keberadaan San Hyuk di sisinya.


Justru Aleya sendiri merasa ada yang tidak beres dengan dirinya begitu ia mengenal San Hyuk. Aleya kira dirinya membatasi diri dari sosok lelaki manapun mengingat apa yang sudah terjadi pada dirinya. Ia kira bahwa dirinya tidak baik-baik saja. Tapi perkenalannya dengan San Hyuk justru membangkitkan kuncup bunga di hatinya yang awalnya sudah layu sebelum berkembang.


Aleya hanya mampu bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia pantas untuk merasakan cinta?


Tidak!


Bukan pantas atau tidak, tapi fokus Aleya bukan itu saat ini. Ada hal lain yang menjadi prioritas utamanya. Ia harus menyelesaikan studinya untuk bisa bertahan hidup secara mandiri. Sepasang tangannya bahkan tidak cukup untuk mengerjakan hal lain lagi melebihi porsinya saat ini. Tidak sepantasnya perhatiannya terpecah hanya karena seorang laki-laki.


“Hai...” tapi hanya sapaan seperti itu saja sudah memecah keteguhan yang baru saja Aleya dengungkan.


San Hyuk yang baru datang langsung menarik kursi tambahan agar bisa duduk di samping Aleya walau masih banyak kursi lain yang ada di hadapannya. Wajah kecewa jelas tersurat dari beberapa wanita yang duduk di sana. Tapi San Hyuk tidak peduli.


“San Hyuk-ssi!” Aleya terkejut dengan kemunculan San Hyuk. Ia baru menyadari bahwa sudah cukup lama Aleya tenggelam dalam pikirannya hingga tidak menyadari kehadiran laki-laki itu.


“San Hyuk-ssi?” protes San Hyuk begitu mendengar Aleya memanggilnya dengan bahasa formal. Ia sengaja menaikan notasi suaranya sebagai bentuk penolakan atas ketidakakraban antara keduanya.


“Oppa...” bisik Aleya sambil menoel perut San Hyuk. Ia memohon dengan matanya agar San Hyuk tidak sok akrab dengannya.


“Baiklah...” San Hyuk yang paham langsung mengedarkan tatapannya, “perkenalkan namaku San Hyuk, aku dari jurusan Arsitek dan sudah angkatan empat! Terima kasih sudah mengajaku bergabung. Teman-temanmu sangat mempesona, Aleya-ssi?” sambil berucap demikian San Hyuk meluruskan tangannya di sandaran kursi Aleya. Walau wajahnya tersenyum, siapa pun bisa melihat sinyal yang dikirimkan dari mata San Hyuk kepada semua orang yang ada di sana. San Hyuk tidak ingin mereka ikut campur dalam hubungannya dengan Aleya.


Mau tidak mau masing-masing dari mereka mulai memperkenalkan diri. Perkumpulan yang awalnya untuk mengenal dan mencari perhatian San Hyuk menjadi terasa begitu canggung.


“Seonbae, mau minum apa?” tanya Aleya tanpa tahu situasi yang sedang terjadi. Ia membuka buku menu dan membaca beberapa opsi minuman yang bisa di pesan oleh San Hyuk.


“Terserah kau saja...” kata San Hyuk sambil terus melempar senyum pada teman-teman Aleya. Jemarinya tanpa aba-aba menyingsingkan rambut Aleya yang menutupi pandangannya pada buku menu. San Hyuk juga kadang membisikan sesuatu pada Aleya.


Detail itu tidak luput dari pengamatan teman-teman Aleya. Kepribadian San Hyuk yang dikatakan oleh orang-orang mulai disangsikan. Walau cangkang luarnya ramah, tapi sisi San Hyuk yang sesekali melempar senyuman pada orang-orang sambil melakukan skinship pada Aleya membuat mereka sadar.


Ada sifat San Hyuk yang luput dari perhatian.


Laki-laki itu terlihat begitu mengintimidasi. Auranya membuat beberapa di antara mereka bahkan menghindari tatapannya. Tidak ada ruang bagi mereka untuk ikut campur.


Sedangkan Aleya?


Ia dengan polosnya memilih minuman untuk San Hyuk tanpa mengetahui bahwa ia mendapatkan perisai sekaligus pelindung yang disegani di kampusnya.