CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 31; Jangan Pikiran Laki-laki Lain



“Kenapa?” San Hyuk bertanya begitu ia masuk ke kamar mengikuti langkah Aleya. Ia baru saja pulang dari kantor setelah Sekretaris Kim memaksa San Hyuk untuk bekerja. Atasannya itu semula hendak absen, namun sekretarisnya memaksanya untuk berangkat karena ada meeting penting yang harus dihadirinya hari ini.


“Apa? Tidak ada apa-apa tuh?” Aleya terus menghindari tatapan San Hyuk begitu ia sampai rumah. Bahkan Aleya bergegas masuk ke kamar dengan alasan akan menyiapkan air untuk San Hyuk berendam.


“Apa kau marah karena aku memberitahu orang-orang kantor tetang status kita?” San Hyuk menangkap pergelangan tangan Aleya yang terus berjalan mendahuluinya.


“Tidak, bukan. Aku benar-benar tidak apa-apa,” Aleya melepaskan tangan San Hyuk, “mandilah terlebih dahulu, sudah malam...”


San Hyuk tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perintah Aleya. Ia segera masuk ke kamar mandi dan merendam tubuhnya ke dalam bathup yang sudah diisi air hangat oleh istrinya itu.


Pikiran San Hyuk terus saja tertuju pada Aleya. Sejak bangun tidur pagi tadi, wanita itu terus menunjukan gerak gerik yang mengarah pada kekhawatiran yang janggal. Pikiran Aleya terkadang entah ada di mana dan ia berulang kali meremas kuku ibu jarinya sendiri. San Hyuk yang sudah terbiasa dengan sikap Aleya tahu bahwa kebiasaan itu muncul karena rasa cemas yang sedang dirasakannya.


Apa ini kaitannya dengan kedatangan orang itu?


San Hyuk kehabisan cara untuk meyakinkan Aleya bahwa ia akan melindunginya. Ia bahkan sudah membayar orang untuk menyelidiki masa lalu Aleya dan merekrut beberapa bodyguard baru untuk menjaga Han Byeol dan Aleya. Walau San Hyuk belum pernah bertemu langsung, melihat betapa Aleya sangat ketakutan dengan sosok Jagad membuatnya ikut tidak tenang.


San Hyuk tidak ingin berperang tanpa kesiapan.


San Hyuk menghela nafas panjang saat ia kembali mendapati Aleya yang sedang melamun di beranda. Wanita itu bahkan tidak menyadari bahwa San Hyuk sudah selesai mandi dan berjalan mendekatinya. San Hyuk langsung menangkap tubuh Aleya begitu ada dalam jangkuannya, “kau benar-benar tidak akan memberitahuku?” bisiknya di telinga wanita itu.


“Oppa! Bikin kaget aja!” Aleya terperanjat saat San Hyuk memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Tubuh Aleya semakin tegang saat tangan San Hyuk yang dingin melingkari pundaknya.


“Hanya ada kau dan aku di kamar ini, tak akan ada orang lain yang melakukannya selain aku kan? Kenapa sempai sekaget itu? Kau memikirkan apa, hah?” San Hyuk menenggelamkan kepalanya dipundak Aleya.


“Aku tidak memikirkan apa pun...” Aleya tidak sepenuhnya berbohong. Ia juga sebenarnya tidak tahu apa yang seharian ini mengalihkan perhatiannya. Tiba-tiba saja pikirannya kosong dan hatinya gundah. Ia sudah menyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia sudah tidak lagi sendiri. Tapi itu ternyata tidak bisa mengusir rasa resah yang terus menyelimuti hatinya.


“Kau berbohong...” San Hyuk mengeratkan dekapannya.


“Oppa...” Aleya kehilangan kekuatan kakinya saat kecupan ringan itu berubah menjadi sesapan yang seakan menghisap seluruh tenaganya.


San Hyuk merespon kepanikan Aleya hanya dengan mengeratkan pelukannya di pinggang ramping wanita itu agar ia tidak terjatuh. Instingnya berbicara bahwa sikap Aleya ini tidak sepenuhnya penolakan. Ia hanya perlu mendorongnya sedikit lagi hingga rasa panik itu beransur-ansur menghilang hingga logika wanita itu kalah dengan instingnya.


“Jangan pikiran laki-laki lain...” San Hyuk memutar tubuh Aleya agar berhadapan dengannya, “hanya ada aku di hadapanmu saat ini...” selesai mengatakannya, San Hyuk langsung menyatukan bibirnya dengan bibir tipis Aleya. Ia bahkan tidak memberi kesempatan pada wanita itu untuk berbicara ataupun mencari alasan lainnya.


San Hyuk sebenarnya tidak ingin terburu-buru. Tapi melihat Aleya yang pikirannya tersita oleh laki-laki membuatnya sedikit terpancing emosinya. Setelah ia berhak merasakan rasa cemburu, ia tidak ingin lagi Aleya membagi hati dan pikirannya untuk orang lain. Ia ingin memiliki wanitua itu untuk dirinya sendiri. Rasa serakah itu yang membuat San Hyuk maju selangkah lagi untuk menuntaskan haknya atas wanita yang selama ini menempati seluruh ruang di hatinya.


“Ambil nafas perlahan...” bisik San Hyuk lirih. Ia bukanlah laki-laki yang lantas kehilangan akal sehat dan menyerang Aleya tanpa jeda. Pikirannya masih ingat bahwa Aleya tidak dalam kondisi prima dan dari caranya membalas ciuman San Hyuk pun terkesan bahwa ia belum terbiasa melakukanya. San Hyuk dengan sabar menggiring wanita itu untuk menikmati setiap menit dan jeda saat melakukannya. Hingga tanpa Aleya sadari ia mulai belajar untuk memberikan umpan balik dan menyerahkan naluri menguasi tubuhnya.


“Kau...” San Hyuk tidak bisa menahan senyumnya saat melihat ekspresi wajah Aleya yang kini terlena dan hanyut ke dalam instingnya sebagai manusia pada umumnya. Aleya bahkan tidak sadar bahwa atasan gaun tidurnya sudah terlepas dan menyisakan gaun tidur yang mengekspos sebagian besar kulitnya.


Jemari San Hyuk mengusap beberapa bekas kecupannya pada bahu wanita. Ada rasa bangga sekaligus haru yang ia rasakan, kemudian ia kembali menyatukan indera pengecapnya sebelum logika kembali menguasai Aleya, “Saranghae...” bisik San Hyuk disela pergumulan itu.


“Oppa...” Aleya tiba-tiba merasakan gugup yang luar biasa begitu menyadari dirinya sudah ada di bawah tubuh San Hyuk. Kesadarannya kembali saat ia merasakan sakit di pangkal pahanya.


Aleya baru saja menyadari apa yang terjadi. Ingatannya kembali pada setiap detik-detik panas yang ia habiskan bersama San Hyuk. Nalurinyalah yang membimbingnya hingga ia bahkan tidak menyadari kapan dan di mana tepatnya semua penutup tubuh keduanya terlepas.


“Tidak ada jalan untuk kembali...” San Hyuk tersenyum dengan penuh kemenangan. Aleya kini sepenuhnya ada dalam kuasa San Hyuk.


Aleya tidak bisa berkata-kata. Tenggorokannya tercekat oleh rasa sakit atas gerakan yang ditimbulkan oleh San Hyuk hingga memenuhi dirinya dengan purna. Tanpa sadar ia mencakar punggung laki-laki itu yang justru membuat San Hyuk kembali menggempur pertahanan dan kesadaran Aleya secara bersamaan hingga hanya kenikmatan yang akan Aleya ingat.


Aleya kini hanya bisa memasrahkan dirinya pada rasa percaya yang ia miliki pada San Hyuk. Entah apa yang terjadi, namun Aleya bersyukur, ia tidak memiliki kenangan buruk itu dalam ingatannya. Ia menerima sepenuhnya kewajiban yang harus ia tunaikan sebagai seorang istri yang sah bagi San Hyuk.


Walau ini bukalah yang pertama, namun Inilah kali pertama Aleya merasakan dengan jelas bagiamana rasanya dua perasaan dalam dua diri manusia yang berbeda jenis bersatu. Rasa saling mengisi dan membutuhkan membuatnya tahu betapa berharganya hubungan suami istri ini jika didasari oleh rasa cinta dan kasih sayang.