CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 34; Lama Tidak Berjumpa



Aleya sibuk mengemasi barang-barang yang ia butuhkan di dalam apartemen lamanya. Ia akhirnya memutuskan untuk menjual atau menyewakan kamar miliknya kepada orang lain daripada membiarkannya kosong. Walau tempat tinggalnya saat ini cukup jauh dari lokasi tempatnya bekerja dan dari sekolah Han Byeol, Aleya tidak memiliki pilihan lain selain merelakan tempat tinggalnya.


Apartmen yang selama ini menjadi tempat tinggal San Hyuk selama di pusat kota memiliki lokasi yang lebih strategis, lebih luas, dan yang paling sistem keamanan yang lebih baik daripada apartemennya. Itu sebabnya Aleya merelakan apartemen yang berhasil ia beli dengan uang hasil kerjanya sendiri dan memilih apartemen San Hyuk yang dipertahankan untuk sekedar transit di kota.


Setelah diskusi dan perdebatan panjang dengan San Hyuk, Aleya diizinkan pergi ke apartemennya. Wanita itu boleh pergi asalkan tidak memaksakan dirinya untuk terlalu bekerja keras dan membawa serta supir sekaligus bodyguardnya.


Aleya sempat menolak keras saat San Hyuk mengatakan syarat yang berlebihan itu. Tapi akhirnya Aleya tidak bisa menolak demi keselamatan bersama.


“Mom, apa sudah selesai?” Han Byeol yang ikut serta bersama Aleya sudah lebih dulu membereskan barangnya.


“Sebentar lagi...”


BRAK!


Aleya dan Han Byeol terkejut. Keduanya saling bertukar pandang dalam diam.


Dari luar pintu apartemen mereka terdengar suara keras seperti benda tumpul yang terantuk sesuatu. Aleya memandang ke arah Han Byeol sekilas sebelum berdiri dan berjalan mendekati pintu.


“Mom!” Han Byeol menangkap tangan ibunya.


“Tidak apa-apa, aku hanya memastikan saja,” Aleya melepaskan tangan Han Byeol.


“Woo Jin-ssi...” Aleya memanggil kepala bodyguard yang ditugaskan untuk mengawalnya.


Woo Jin seharusnya berjaga di pintu masuk tanpa diminta. Apa ada sesuatu yang terjadi di luar sana?


BRAK!


Suara itu semakin terdengar keras begitu Aleya memupus jarak antara pintu dengan dirinya.


Jemari Aleya ragu memegang pintu. Ia tidak tahu apa yang terjadi dan apa yang harus ia lakukan jika terjebak dalam kronolgi yang sudah semestinya. Aleya baru akan membuka pintu utama namun terhalang oleh sesuatu. Woo Jin ternyata berdiri tepat di depan pintu dan memegang handlenya hingga Aleya tidak bisa membukanya dari dalam.


“Nyonya, A1...” samar Aleya bisa mendengar suara dari pengawalnya itu.


Aleya langsung menjauh dari pintu dan meraih lengan Han Byeol. Ia menarik putranya itu masuk ke dalam kamar.


A1 adalah kode darurat yang menandakan acaman utama yang dapat mengancam Aleya dan Han Byeol. Jika benar kode itu digunakan oleh kepala bodyguardnya itu berarti orang yang dimaksud A1 ada di sana saat ini.


Jagad ada di sana, hanya dipisahkan oleh selembar pintu yang bisa dibuka kapan saja.


“Byeol-a, kau tunggu di sini. Kunci pintunya. Apa pun yang terjadi, apa pun yang kau dengar, kau tidak boleh membuka pintu ini. Kau mengerti?” perintah Aleya. Ia mencoba menahan ketakutannya agar putranya lebih tenang.


“Bagaimana aku bisa melakukannya!” seperti yang Aleya duga, jiwa muda Han Byeol menolak untuk melarikan diri. Tidak seperti dirinya yang menyimpan ketakutan, Han Byeol jusrtu ingin maju melawan.


“Tolong Mom, aku tidak ingin kau terlibat. Kita tidak tahu bagaimana orang itu sekarang...”


“Tapi...” Han Byeol tiba-tiba teringat pesan San Hyuk. Ia menahan dirinya demi melihat ke dalam hati Aleya. Ia ingin memastikan bahwa ibunya benar-benar yakin dengan keputusannya. Karena jika ibunya itu mengajaknya untuk berjuang bersama, ia tidak akan melewatkan kesempatan itu.


“Ku mohon...” sekali lagi Aleya memohon sambil mengeratkan pegangannya di tangan Han Byeol, “Mom janji, mom hanya akan menghadapinya jika ia bisa menerobos pertahanan Woo Jin-ssi.”


“Mom harus menjaga janji Mom...” Han Byeol dengan berat hati menuruti perintah ibunya. Ia langsung mengunci pintu kamarnya begitu Aleya keluar. Tak lupa pemuda itu menghubungi ayahnya untuk meminta bantuan. Setidaknya ibunya itu tidak bisa menolak bantuan San Hyuk.


Aleya *******-***** tangannya yang semakin dingin. Suara keributan di luar semakin terdengar. Ia yang tidak tahu apa yang terjadi di luar hanya berharap bahwa firasat buruknya tidaklah benar.


Apa benar ini waktunya? Apa benar itu Jagad?


Ia hanya bisa bertanya-tanya tanpa jawaban yang jelas. Tanpa sadar Aleya kembali meremas kuku ibu jarinya dengan penuh kecemasan.


BRAK!


Mata Aleya melebar demi memandang pemadangan tersebut. Ia menahan teriakannya agar tidak menimbulkan kepanikan bagi Han Byeol. Ia lalu berlari mendekati Woo Jin untuk memastikan keadaannya tanpa memedulikan orang-orang yang bertindak keji itu.


“Woo Jin-ssi?” Aleya menangkap bahu Woo Jin yang masih sadarkan diri.


“Saya... tidak apa-apa Nyonya, ban...tuan datang dalam lima menit...” Woo Jin jelas berbohong. Siapa saja yang milihatnya pasti tahu bahwa kondisinya tidak baik-baik saja. Ia bahkan kesulitan untuk berbicara.


Apa yang sebenarnya terjadi? San Hyuk mengatakan padanya bahwa Woo Jin adalah kepala bodyguard yang bisa diandalkan. Tapi kenapa Woo Jin justru terkapar dengan banyak luka sementara lawanya bersih tanpa luka sedikit pun?


Aleya tidak bisa bertanya ataupun memarahinya sekarang. Tubuhnya tiba-tiba langsung kaku karena suara yang sudah lama tidak didengarnya itu bergema hebat di gedang telinganya.


“Lama tidak berjumpa, Sayangku...”


Suara Jagad membuat seluruh tubuhnya merinding. Hawa dingin seolah ditiupkan dari belakang kepalanya yang membuat Aleya bergidik ngeri. Tubuhnya menjadi kaku hingga ia hanya termangu kaku sambil menopang tubuh Woo Jin.


Perlahan-lahan Aleya memberanikan diri untuk melihat lawan bicaranya.


Mata Aleya bertemu dengan mata elang tajam yang kini menatapnya penuh dengan gejolak rasa pengkhiantan. Ujung matanya yang tajam bagaikan belati yang mengoyak kenangan masa muda Aleya hingga sampai titik nadi.


Akhirnya pertemuan itu tiba.


Aleya diharuskan menghadapi masa lalu yang selama ini menjadi tempurung dalam hidupnya. Ia sudah tidak punya jalan memutar. Hanya ada satu arah dan itulah yang harus ia tempuh sekarang.


“Apa kau tidak merindukanku?”


***


Bagi kebanyakan orang, mimpi buruk datang ketika mereka tidur


Tapi tidak bagi Aleya


Mimpi buruknya datang selayaknya tamu tak diundang


Perlahan menapaki lorong apartemennya.


Tanpa takut menerobos masuk pertahanan rumahnya


Dan dengan nyata mimpi buruk itu hadir dihadapannya.


Aleya tidak bisa mengelak.


Terlebih lagi ia tidak bisa menghindar.


Logikanya mati, hatinya tercabik-cabik duri


Semua akal pikir dan perasaan seolah dikuasai.


Bahkan ia seolah bisa mengendalikan segala yang Aleya miliki.


Aleya takut tak bisa bangkit bangun dan berlari


Tapi masih ada bagian terburuk dari semuanya


Mimpi buruk itu tidak hanya menghantuinya tapi juga orang-orang yang kini dikasihinya


Jalan Aleya buntu


Ia tak mungkin pula memutar waktu