CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 61; Orang itu...



“Kalian seharusnya memahami maksudku kan? Aku hanya sekedar ingin tahu. Tidak lantas berniat untuk menyakiti Appa. Apakah salah jika aku bertanya tentang asal usulku?”


Orang dewasa di dalam ruangan itu saling pandang. Mereka bertukar pendapat dalam diam. Benar memang Han Byeol selamanya akan menjadi anak-anak bagi mereka, tapi Han Byeol juga semakin lama semakin tumbuh dewasa. Akan banyak hal yang terjadi dan harus ia mengerti dalam proses pendewasaan diri. Tidak selamanya dia akan menjadi anak penurut yang hanya mengikuti perintah sesuai dengan insting yang diberikan.


Pergolakan batin yang sedang di alami Han Byeol adalah hal yang lumrah. Ia pasti sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dan jiwa mudanya yang mulai menggelora yang mungkin membuatnya tidak bisa menahan diri.


Baik Aleya maupun San Hyuk sama-sama belajar untuk memahami perkembangan anak. Bukankah ini kali pertama mereka menjadi orang tua?


“Duduklah...” Aleya memegang bahu San Hyuk dan Jagad dengan kedua tangannya. Ia sudah memutuskan untuk menjawab semua pertanyaan yang akan dilontarkan oleh Han Byeol. Akan lebih baik jika kedua pria dewasa itu duduk agar mereka jauh lebih tenang.


“Tidak ada yang salah Byeol-a, kau benar, kau berhak mengetahui tentang asal-asulmu. Tanyakan apa yang ingin kau ketahui, Mom akan menjawabnya,” kata Aleya setelah ia juga duduk di samping Han Byeol. Ia menggenggam tangan Han Byeol erat untuk memberikan putranya itu keberanian.


“Aku...aku bukannya mau menyakiti hati Appa. Aku hanya...” Han Byeol ragu menatap San Hyuk yang duduk diseberangnya.


“Tidak apa-apa, Appa akan mendengarkannya,” San Hyuk menyakinkan Han Byeol sekali lagi.


Hening.


Han Byeol tenggelam dalam pikirannya. Ia menyusun kata dan kalimat apa yang akan ia tanyakan pada mereka. Perkara ini bukanlah hal yang mudah. Ada rasa penasaran namun juga ada rasa takut yang mencengkeram nurani. Ia takut terluka. Ada kenyaataan yang ingin ia pungkiri bahwa kehadirannya bukanlah suatu harapan orang yang saling mencintai. Keraguan itu jelas terlihat dari raut wajah pemuda itu.


“Apa orang itu masih hidup?” pertanyaan pertama itu keluar begitu saja sebagai pembuka.


“Ya, dia masih hidup,” jawab Aleya singkat.


“Kenapa ia tidak pernah datang? Apa ia orang jahat hingga ia menelantarkan aku dan Mom?” inilah hal yang paling membuat Han Byeol penasaran. Tidak masalah bagaimana ia bisa berada di rahim Aleya, tapi kenapa ibunya harus menanggung semuanya sendiri lah yang paling penting. Bagian ini yang menentukan sikap Han Byeol seharusnya jika ia bertemu dengan apa kandungnya suatu hari nanti.


“Tidak ada kesempatan untuknya datang dan yang paling penting adalah...dia...orang itu tidak tahu bahwa Mom mengandung dirimu...” jujur Aleya menjawabnya. Ia juga sempat berpikir, dengan sifat Robin yang seperti itu mungkin laki-laki itu tidak akan pernah membiarkan Aleya menderita sendirian. Tapi kembali lagi ke awal, Aleya juga tidak tahu bahwa ayah dari Han Byeol adalah Robin. Asumsi yang ia yakini adalah anak yang dikadungnya itu merupakan anak dari Jagad. Sekenario yang diinginkan Jagad itu sempurna terpatri di benak semua orang sesuai harapannya.


“Bagaimana mungkin? Kenapa Mom tidak memberitahunya? Jika dia bukan orang jahat, ia tidak akan membiarkan Mom berjuang sendiri kan?” Han Byeol tidak memahami sikap ibunya itu. Kenapa ia memilih untuk menderita sendirian?


“Bukan...bukan itu maksudku Mom...” Han Byeol merasa tidak enak hati saat Aleya meminta maaf padanya.


“Jika kau ingin tahu seperti apa ayah kandungmu, ia adalah orang yang memiliki hati yang sangat lembut. Ia bukan orang jahat hanya saja sedikit keras kepala. Orang itu juga sangat mencintai ibumu. Jika kau bertanya kenapa dia tidak bersama kalian berdua itu karena dia tidak mengetahui keberadaanmu,” Jagad menyambung ucapan Aleya. Ia menatap Han Byeol lekat-lekat untuk meyakinkan anak itu.


“Paman mengenalnya?”


“Ya, dia adalah temanku,” Jagad menunci pandangannya pada Aleya sebelum melanjutkan.


“Jika kau mencari siapa orang jahatnya di sini. Itu mudah. Aku akan menjawabnya. Orang itu adalah aku. Akulah yang membuat ibumu menderita selama dia remaja hingga ia sampai mengandung dirimu. Salahkan saja aku. Jika bukan karena diriku, ibumu tidak akan berniat pergi dari Indonesia. Akulah yang menyebabkan semua penderitaan ibumu,” tajam Jagad menatap Han Byeol. Tidak masalah ia dibenci oleh anak itu, tapi ia tidak ingin Robin dibenci olehnya.


“Apa maksud Paman?” Han Byeol tidak mengerti.


“Pendengaranmu tidak salah. Sama yang kau dengar dan kau mengerti, itulah yang sebenarnya terjadi,” Jagad tidak berbohong atas kalimatnya.


“Kakak...” Aleya meyayangkan bagian ini harus diceritakan oleh Jagad. Walau Aleya tidak menyangka Jagad akan mengakui dosa yang telah ia buat di masa lalu tapi mendengarnya sendiri seperti itu membuat hati Aleya merasakan keharuan yang menyesakan dada. Tidak pernah ia berpikir bahwa situasi semacam ini akan datang dan semua luka di masa lalu itu akan sembuh secara perlahan.


“Katakan saja Al, itu fakta yang sebenarnya. Dia mungkin orangku, tapi kau tahu  hatinya milik siapa. Aku hanya tidak ingin anakmu mengingatnya sebagai orang jahat. Akulah orang jahatnya di sini,” tegas Jagad sekali lagi.


“Mom...” Han Byeol tiba-tiba sangsi. Ia ingin memastikannya pada Aleya sekali lagi.


“Apa yang dikatakan Pamanmu benar, Mom sangat takut padanya hingga Mom kabur. Kau ingat saat aku menguncimu di kamar apartemen? Itu karena pamanmu datang ke sana mencari Mom,” ingatan Han Byeol langsung tertuju pada malam itu. Malam di mana ia merasa tidak berdaya karena tidak mampu melindungi ibunya.


“Jika Paman orang jahat, bagaimana aku bisa mempercayai setiap ucapannya? Apa yang bisa membuktikan bahwa orang itu juga bukan orang jahat seperti paman? Jelas-jelas Paman bilang kalau orang itu adalah teman Paman!” tiba-tiba ada titik amarah yang mucul dihati Han Byeol. Ia tidak menyangka bahwa Jagad bisa dengan santainya mengakui bahwa ia lah yang membuat Aleya menderita. Tapi kalau begitu kenapa ia ada di sini bersama ibunya?


“Tidak perlu kau mempercayai Paman. Kau sudah melihatnya sendiri betapa orang itu rela untuk mengorbankan nyawanya bahkan saat ia baru mengetahui keberadaanmu!”