
“Sepertinya Oppa yang jusru terlihat mau mati...” Aleya terkekeh melihat San Hyuk yang kesulitan bernafas, “aku baik-baik saja...duduklah terlebih dahulu.”
Aleya mengambilkan minum untuk San Hyuk dan Han Byeol yang kini duduk berdampingan di ruang keluarga. Ia lalu menyusul duduk di kursi yang ada di hadapan San Hyuk. Suasana sudah tidak setengang sebelumnya.
“Apa Han Byeol yang mengubungimu?”
“Iya, aku sudah mendapatkan kabar jika orang itu pergi meninggalkan hotel. Aku sudah dalam perjalanan kemari saat Han Byeol mengubungiku. Kau baik-baik saja?” pertanyaan San Hyuk ini mengarah pada Han Byeol. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana terkejutnya dia saat melihat Jagad yang katanya mirip dengannya.
“Aku baik-baik saja. Mom menyuruhku untuk tetap di kamar...” ada kekecewaan dari nada bicara Han Byeol. Entah karena ia tidak bisa melindungi ibunya atau alasan lain.
“Kau benar, memang itu yang harus kau lakukan,” kalimat San Hyuk bernada perintah. Ia tidak bisa memungkiri bahwa ada rasa cemas yang ia rasakan. Ia tidak ingin putranya itu jatuh ke tangan orang itu.
“Pertemuan ini tidak terlalu buruk. Aku bisa mengatasinya...” ucapan Aleya tidak sepenunya salah. Walau ia merasakan ketakutan yang luar biasa, tapi ia berhasil melaluinya.
“Tidak lain kali kau tidak boleh bertemu dengannya sendiri...”
“Aku tidak sendiri,” Aleya berusaha untuk menyakinkan San Hyuk untuk lebih percaya padanya, “tapi kenapa Woo Jin-ssi diam saja dihajar seperti itu?”
“Kita belum tahu tabiat orang itu dan yang paling penting kita tidak boleh merubah status korban menjadi tersangka. Mambalas luka secara fisik hanya akan menambah celah kita. Bukannya dia pertarung yang buruk, aku memang sengaja menyuruhnya...” San Hyuk ingin membaca terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Ia bukanlah orang yang gegabah dengan membalas pukulan dengan pukulan. Ia bahkan menyuruh Woo Jin untuk visum di rumah sakit untuk berjaga-jaga.
“Kau atasan yang buruk, kau tidak kasihan padanya?” Aleya hanya mendengus mendengar jawaban San Hyuk.
***
“Kau baik-baik saja?” Jagad memberikan sebotol air meneral untuk Robin. Ia hanya bisa menertawakan laki-laki yang sudah sejak lama menjadi tangan kanannya.
Wajah Robin terlihat kaku mulai dari saat ia memasuki lorong apartemen tempat tinggal Aleya. Bahkan Robin tidak berani melihat langsung wanita itu dan terus saja mengalihkan pandangannya jika wanita itu memandangan ke arahnya. Perasaannya begitu berat acap kali mengingat sosok Aleya.
“Memang tidak bisa aku pungkiri, ia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik. Bahkan lebih cantik dari terakhir kali kita bertemu dengannya...” Jagad mengakui kecantikan alami yang dimiliki Aleya. Hal itu sudah terlihat sejak ia kecil, namun kini aura kecantikan itu semakin terpacar bersamaan dengan pesonanya. Tidak ada berubahan yang berarti kecuali garis kedewasaan yang semakin tajam terlihat dari lekuk wajah dan tubuhnya.
Kecantikan yang membuat Jagad menjadi gila.
“Kau masih mencintainya?” pertanyaan Jagad tetap diabaikan oleh Robin. Laki-laki yang duduk di sampingnya itu memang pendiam. Bahkan tidak banyak bicara apalagi jika tentang Aleya.
“Apa dia sudah punya kekasih?” kali ini Jagad bertanya pada orang yang duduk di kursi kemudi. Orang itu merupakan seseorang yang baru-baru ini ia rekrut untuk menyelidiki tentang Aleya. Ia ingin tahu apa yang terjadi pada adiknya itu selama ia tinggal di Korea. Jagad membutuhkan informasi yang cukup untuk kembali membuat adiknya itu sengsara.
Tepat setelah keburnya Aleya ke Korea, Jagad tidak bisa melacaknya. Bukannya ia tidak mampu atau tidak bisa, namun ia ada dalam pengawasan ketat ayahnya, Thomas. Segala aliran uang dan aktivitas Jagad dipantau detail oleh orang-orang yang dipekerjakan ayahnya. Bahkan pengeluarannya sekecil membeli permen di supermarket pun masuk ke dalam laporan. Alhasil, Jagad tidak bisa mengakses dana untuk membayar orang terlebih untuk mencari tahu tentang Aleya.
Baru setelah ia bertunangan dengan Luna, pengawasan itu lebih longgar. Walau Jagad belum bisa mencari Aleya ke Korea, ia mulai bisa mencium keberadaan wanita itu.
“Selama Nona di Korea, hanya satu orang laki-laki yang dekat dengannya. Orang itu bernama Shin San Hyuk...” jawaban Alex membuat tengkuk Jagad kaku akibat aliran darah yang tiba-tiba terpacu oleh detak jantungnya.
“Dia sudah berani bermain dengan laki-laki rupanya,” Jagad kembali menyingrai, ia tidak menyangka Aleya akan mudah bergaul dengan lawan jenis setelah apa yang terjadi padanya belasan tahun silam, “Shin San Hyuk...” gumamnya.
“Shin San Hyuk adalah putra ke tiga sekaligus pewaris Suwon Grup,” Alex melihat kaca tengah mobil untuk memastikan ekspresi wajah Jagad. Begitu ia melihat atasannya tidak memberikan respon apa pun ia baru menambahkan, “Suwon Grup merupakan salah satu dari lima perusahaan besar yang ada di Korea. Hotel tempat Anda menginap, rumah sakit, yayasan pendidikan, konstruksi, bahkan supermarket merupakan aset yang dikelola oleh Suwon Grup.”
“Walau kami belum mendapatkan bukti yang valid, baru-baru ini beredar kabar bahwa Shin San Hyuk adalah suami dari Nona Aleya. Kamu baru akan mencari....”
“Kau bilang apa!” Wajah Jagad berubah drastis mendengar penjelasan dari Alex. Jika apa yang dikatakan Alex benar, Jagad harus menganti statergi. Ia awalnya hanya akan membuat Aleya kembali menderita dengan menyeretnya kembali pulang ke Indonesia. Tapi beda urusan kalau ia mendapatkan dukungan sebesar itu dibelakangnya. Bagaimana bisa anak tak tau diri itu bisa mendekati pria dengan background sepert itu.
“Apa kau benar-benar melakukan pekerjaanmu dengan benar?” tanya Jagad ingin memastikan sekali lagi.
“Kami akan memberitahu Anda besok ini. Baru hari ini kami mencari koneksi di dinas pencatatan sipil untuk mencari bukti kebenaran tersebut,” Alex memfokuskan kembali pandangannya ke depan kemudi. Ini baru kali pertamanya ia bertemu langsung dengan Jagad dan ia baru merasakan secara langsung tekanan yang muncul dari aura Jagad.
“Jika itu benar, kita dalam masalah besar...” Jagad bergumam lirih pada Robin.
“Apa sebaiknya kita berhenti saja? Jujur, aku merasa sangat bersalah...” Robin akhirnya membuka mulutnya.
“Ada apa denganmu?” Jagad heran melihat keteguhan Robin tiba-tiba surut. Biasanya laki-laki itu berhati dingin dan sangat lurus dalam menjalankan semua tugasnya, “apa hatimu luluh setelah melihatnya lagi?”
“Aku kira aku baik-baik saja, tapi begitu aku melihat sorot matanya hari ini aku rasanya ingin mati...” Robin membuang pandangannya ke luar jendela. Bahkan sampai saat ini dadanya masih terasa sesak. Ia lebih baik meloncat ke dalam Sungai Han yang ada di depan sana daripada harus berurusan lagi dengan Aleya.
“Aku tidak tahu kau selemah itu!” Jagad membuang nafasnya kasar. Ia tidak menyangka Robin akan serapuh ini saat bertemu dengan Aleya. Ia pikir temannya itu sudah melupakan semua masa lalunya, tapi ia salah. Robin masih menyimpan rasa itu untuk Aleya.
“Maafkan aku...” permintaan maaf dari Robin membuat hati Jagad semakin pilu. Selama ini ia tidak pernah ingat mendengar kalimat itu dari mulut Robin. Hal ini membuat Jagad tidak bisa berkata-kata. Sepertinya ia telah menorehkan trauma di dalam diri Robin.
Jagad kembali terdiam. Ia harus mencari tahu terlebih dulu sebelum mengambil langkah selanjutnya. Waktu yang ia miliki semakin sempit.