CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 49; Saudara Tiri



Kamar yang ditempati Robin terasa semakin sesak. Tidak hanya karena bau asap rokok yang memenuhi ruangan tapi juga beratnya rasa yang menyelimuti kedua insan di dalamnya.


Jika dipikir-pikir siapa yang mau disalahkan atas kejadian itu jika keduanya sama-sama menjadi korban atas situasi yang bukan menjadi keinginan mereka. Baik Aleya dan Robin adalah orang yang sama-sama terjebak dalam permainan yang tengah disusun oleh Jagad. Mereka hanyalah pion yang mengikuti lakon sang pemain utama.


Aleya menatap kosong pada Robin yang kini terisak meneteskan air mata. Sosok Robin yang seperti itu terasa femiliar bagi Aleya. Ya, dalam ingatannya, Robin adalah satu-satunya orang yang selalu menjadi pelindungnya jika bersama kelompok Jagad. Dialah yang selalu memberikan perhatian-perhatian kecil dan tak jarang mengajak Aleya untuk mengobrol bersama. Bagaimanapun takdir memepertemukan mereka, Robin masih memiliki sisi lembut itu di dalam hatinya.


Robin tak menyangka bahwa air mata yang sudah lama kering itu kini mengalir deras dari sudut matanya. Ia seolah kehilangan jati dirinya di hadapan wanita itu. Ia merasa bahwa beban berat yang selama ini ada dan menganjal hatinya sudah bertemu dengan sumbernya. Ya, Aleyalah yang membuat hidupnya serasa tak bermakna lagi setelah hari itu. Ia lalu hanya hidup dengan melakoni apa yang diminta oleh Jagad. Bukan karena ia takut, tapi ia juga merasa tidak memiliki arti lain untuk hidup. Robin juga tidak memiliki keberanian untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Jadi ia memilih untuk hidupnya saat ini. Ia sebagai bayangan Jagad dan bergerak dalam bahaya tanpa mempedulikan nyawanya.


“Kita bicara lagi lain waktu...” Aleya berdiri dari tempatnya duduk. Waktu yang dijanjikan San Hyuk sudah hampir habis. Ia tidak ingin membuat keributan yang tidak perlu.


“Al...” Robin menangkap lengan Aleya sebelum wanita itu pergi. Bahkan sentuhan seperti itu saja sudah membuat hati Robin kelabakan.


“Suamiku akan membuka paksa kamar ini jika dalam waktu satu jam aku tidak keluar...” Aleya melepaskan tangan Robin, “jika kau benar-benar merasa bersalah padaku, setidaknya lakukan sesuatu agar Jagad tidak menyentuh Han Byeol-ku.”


“Dan kau, lebih baik kau ke rumah sakit...” tanpa menunggu jawaban Robin, Aleya beranjak keluar dari kamar.


“Nyonya...” suara dari headsfree yang dikenakan Aleya menghentikan langkahnya.


“Ada apa?”


“Anda bisa masuk ke kamar di sebelah, ada orang asing yang sekarang menggunakan lift dan menekan lantai 17,” tanpa menyiakan waktu, Aleya berlari keluar kamar dan masuk ke kamar yang telah disebutkan oleh penjaga sebelumnya tepat sebelum pintu lift terbuka.


Robin terkejut dengan pergerakan Aleya yang tiba-tiba mengubah ritme langkahnya. Ia baru saja akan menyusul arah pergerakan Aleya saat ia mendengar suara lift yang berbunyi. Insting Robin membuatnya melangkah mundur. Ia masuk kembali ke dalam kamar dan mengambil parfum serta menyalakan rokoknya bersamaan untuk menutupi aroma manis yang ditinggalkan Aleya.


Seperti yang diperkirakan, orang yang dimaksud adalah Alex. Ia berjalan menelusuri lorong sunyi kemudian mengetuk pintu sesuai ketukan yang telah disepakati. Robin pun membuka pintu sebelum menimbulkan kecurigaan.


“Uh...apa Anda melakukan percobaan bunuh diri?” komentar Alex begitu ia memasuki kamar. Ia yang bukan perokok berat merasa terganggu dan langsung membuka balkon kamar.


“Ada urusan apa kau datang malam-malam?” Robin langsung menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Alex. Ia belum tahu cara kerja orang yang direkrut oleh Jagad kali ini hingga ia hanya bisa menaruh kewaspadaan padanya.


“Tuan Jagad yang menyuruhku datang kemari...” sambil berkata demikian Alex menunjuk kotak obat yang tadi dibawanya. Untuk membuktikan bahwa ia sedang tidak berbohong, ia menunjukan pesan yang ditinggalkan Jagad, “saya benar-benar heran, sebenarnya bagimana hubungan Anda dengan Tuan Jagad?”


“Lakukan saja pekerjaanmu sesuai dengan yang ditugaskan. Jangan mencampuri urusan orang lain!” tandas Robin.


“Apa Jagad memerintahkanmu untuk melakukan sesuatu padanya?” Robin langsung menarik kerah Alex begitu nama Han Byeol disebut.


“Woow...tenang Bos. Sementara ini tidak ada. Informasi itu hanya bagian dari penyelidikan yang tidak penting!” Alex melepaskan cengkraman Robin, “hanya saja, Saya melihat pikiran dan hati Anda sedang terbagi.”


Selesai mengatakannya Alex meninggalkan Robin dalam tanda tanya. Orang suruhan Jagad itu hanya ingin memastikan sesuatu. Tugasnya hanya berusaha untuk mencari informasi sebesar bayaran yang diberikan. Ia tidak peduli dengan hasil yang ingin dicapai oleh atasannya. Hanya saja urusan ini sepertinya menarik jika dilewatkan begitu saja karena berkenaan dengan salah satu penerus Suwon Grup.


***


Aleya keluar dari kamar 1702 begitu ia mendapat kabar bahwa tamu Robin sudah pergi. Ia kembali menyusuri lorong dan masuk ke dalam lift khusus pegawai untuk kembali ke ruang kontrol.


San Hyuk menyambut Aleya dengan pelukan begitu ia masuk ke dalam ruangan. Ia lalu membantu melepaskan alat komunikasi yang menempel pada tubuh Aleya tanpa diminta.


“Terima kasih atas bantuan kalian malam ini...” San Hyuk mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang mau direpotkannya malam itu sebelum pamit undur diri. Ia dan Aleya langsung keluar dari hotel menuju basement. Setiba di sana, seorang sopir sekaligus pengawal mereka sudah menunggu.


“Tuan malam ini sebaiknya mengingap di hotel. Akan mencurigakan apabila ada mobil malam-malam masuk ke dalam kediaman tuan. Kepala Pengawal sudah memesankan Anda kamar hotel. Saya akan mengantar Anda ke sana.” San Hyuk tidak banyak bicara dan setuju saja dengan saran dari para pengawalnya.


Tidak ada percakapan antara keduanya selama perjalanan. Aleya hanya memandang ke luar jendela dan sibuk dengan pikirannya sendiri sementara San Hyuk sedang berusaha menebak apa rencana dari Jagad selanjutnya. Ia benar-benar tidak menemukan titik terang dari mana sumber masalah ini berasal. Apa sebenarnya motif Jagad melakukan ini semua.


Selama di ruang kontrol tadi ia mencermati percakapan antara Aleya dan Robin. Walau ia terus menahan diri agar tidak terbakar amarah, ia sebiasa mungkin fokus pada inti pembicaraan itu. San Hyuk bisa menyimpulkan bahwa Jagad hanya ingin mengambil video dirinya meniduri adiknya untuk membuat ayah mereka murka. Alih-alih melakukannya sendiri tapi menyuruh Robin yang memiliki perasaan untuk Aleya.


Bukankah Aleya mengatakan kalau Jagad menyukainya?


Kalau begitu kenapa ia menyuruh orang lain untuk melakukannya?


Kenapa Jagad melakukan hal-hal keji pada Aleya hanya untuk melukai hati ayahnya selama ini?


Tiba-tiba kata-kata anak haram itu teriang di telinga San Hyuk. Ia segera membuka ponselnya dan mencari tahu maksud dari kalimat itu. Seperti dugaanya!


Aleya dan Jagad adalah saudara tiri.