
“Tunggu sebentar!” Jagad menghalangi langkah Aleya yang hendak pergi setelah mengantarkan mereka semua kembali ke hotel.
Tanpa menjawab, Aleya menatap Jagad dari atas ke bawah. Ia tidak tahu kenapa nada bicara laki-laki itu sedikit berubah lebih tenang. Tidak seperti biasanya yang bernada sinis bahkan mengancam. Ia lebih memilih mengamati hingga Jagad melanjutkan kalimatnya.
“Bisa kita bicara sebentar?” lanjutnya. Ia sebenarnya ingin mengajak Aleya berbicara, tapi selama ia di Korea sampai detik ini tidak pernah ada satu pun kesempatan untuk itu. Terlalu banyak yang ingin ia sampaikan hingga justru kata-kata yang seharusnya tidak ia katakan sebagai orang dewasa justru muncul dan mengancaukan segalanya. Akumulasi emosi yang selama ini ia pendamlah yang membuat kepribadiannya kacau begitu bertemu dengan Aleya.
“Apa?” sebenarnya Aleya juga penasaran dengan perubahan sikap yang ditunjukan Jagad. Hal itu nampak jelas dari perilakunya walau itu tidak mengurangi kecurigaan Aleya pada laki-laki itu.
“Apa kita akan berbicara dan bertengkar di sini seperti orang yang tidak berpendidikan?” tanya Jagad sambil memperhatikan sekitar. Mereka tengah berada di lobby hotel dan hanya beberapa meter jaraknya dari pintu keluar.
“Kau ingin mengajakku berbicara atau bertengkar?” tegas Aleya.
“Apa mungkin kita tidak bertengkar? Apa kau tidak sadar kalau kau itu berubah?” protes Jagad. Ia tidak terima jika hanya ia yang menjadi sumber masalah.
“Apa kau pikir aku masih gadis ingusan yang mudah kau permainkan?”
“Lihat, belum apa-apa saja kita sudah bertengkar!” Jagad menghembuskan nafas kasar. Ia tidak bisa memungkiri bahwa kini semakin dewasa Aleya terasa begitu mirip dengannya.
“Ikuti aku...” Aleya tiba-tiba melangkah keluar dari hotel.
“Apa kau sedang memerintahku?” Jagad protes sambil mengikuti langkah tegas kaki Aleya.
Di luar lobby hotel sudah siap sebuah mobil SUV berlambang trisula yang menunggu Aleya. Ia lalu menghampiri kursi pengemudi yang terdapat seorang sopir sekaligus bodyguard yang sudah menunggunya di sana.
“Aku akan membawa mobil ini sendiri!” tegasnya
“Tapi Nyonya...” orang yang diberi mandat untuk menjaga majikannya itu terlihat ragu begitu melihat sosok Jagad yang berdiri di belakang Aleya.
“Kalian bisa mengikutiku jika kalian mau,” Aleya tidak memberi pilihan lain selain mengikuti perintahnya. Ia sudah lebih dulu membuka pintu mobil untuk menyilakan pemuda itu keluar secara tidak langsung.
“Kau tidak akan membawa orang-orangmu untuk menyekapku kan?” tanya Aleya sambil mengajak Jagad untuk masuk ke dalam mobil.
“Buat apa aku masuk ke kandang macan jika aku bisa saja terbunuh sebelum memburunya?” gerutu Jagad sambil memasuki mobil. Ia bukanlah orang bodoh yang bisa mengabaikan orang-orang yang sedang mengawasi Aleya saat ini. Walau bisa saja ia mengerahkan orang bayarannya, tapi strategi itu tidak ada di dalam rencananya. Ia hanya ingin berbicara terlebih dahulu dengan Aleya sebelum memutuskan langkah apa yang akan ia ambil setelahnya.
“Kita mau ke mana?” tanya Jagad setelah sepuluh menit ada di dalam mobil yang dikendarai oleh Aleya.
“Ku kasih tahu pun kau tidak akan tahu,” jawab Aleya sedikit senang. Baru kali ini ia merasa unggul di atas kakaknya itu. Selama ini Jagad-lah yang memegang kendali atas hidupnya. Tak pernah terlintas di hidupnya bahwa posisi itu bisa terbalik seperti ini.
“Cih! Apa Kakak baru menyadarinya?” tandas Aleya tanpa mengalihkan pandangannya.
“Kau bahagia hidup tanpaku kan?”
Aleya memilih untuk tidak menjawabnya. Walau mungkin tidak bisa dipercayai begitu saja, Aleya merasakan ada nada kesepian dalam kalimat tanya itu.
Jika dipikir baik-baik, sebenarnya tidak ada dendam dalam hati Aleya. Ia tidak pernah berpikir untuk membalas perbuatan kakaknya itu. Bahkan sebelum mengetahui bahwa Han Byeol ternyata bukan putra dari kakaknya pun ia tidak menaruh dendam pada Jagad. Masa lalu itu memang buruk baginya dan ketakutan-ketakutan itu jelas menghantui hidup Aleya selama ini. Tapi setelah bertemu lagi dengan Jagad, ternyata Aleya bisa melaluinya hingga saat ini. Walau ia tidak serta merta berterima kasih pada ingatannya yang menghilang, namun selebihnya tidak ada trauma yang mendalam. Akar dendam dan trauma itu sudah ia kikis perlahan bersamaan dengan kehadiran Han Byeol dan ketulusan San Hyuk selama ini.
Kadang memang kehamilan yang terjadi pada Aleya menjadi mimpi buruk bagi setiap wanita yang baru saja menginjak dewasa. Tapi musibah itu benar-benar dimaknai dengan berbeda oleh Aleya. Walau memang berat pada awalnya, tapi Aleya berhasil menjadikan Han Byeol sebagai pegangan hidupnya. Lewat Han Byeol, Aleya lebih bisa mencintai dirinya.
Aleya adalah rumah dan Han Byeol adalah penghuni rumah itu. Tidak ada alasan bagi Aleya untuk runtuh dan rapuh selama Han Byeol ada di sana.
Begitu besarnya porsi Han Byeol dalam langkah pemulihan mental Aleya.
Aleya memahami benar hukum itu dan apa yang ia percayai tidak mengkhianatinya. Ia benar-benar tumbuh menjadi pribadi yang diharapkannya.
Bahkan kini Aleya merasa bangga pada dirinya yang bisa berbincang dan menatap mata Jagad secara langsung. Tidak seperti kelihatannya gunung yang sulit didaki, begitu kita menetapkan hati untuk mengawali langkah pertama, tanpa sadar kini kita sudah berhasil melaluinya.
Inilah hasil dari usaha yang dilakukan Aleya selama ini.
Ia hanya perlu menghadapinya.
Dalam keheningan pengendaranya, mobil Aleya membelah kota Seoul ke arah utara menuju Seongbuk-Dong. Berbeda dengan hiruk pikuk perkotaan yang ramai, Seongbuk-Dong memiliki suasana yang lebih damai dengan suasana yang lebih hijau di lereng pengunungan, tepatnya di kaki Gunung Bukhan.
Jagad melemparkan pandangannya ke arah luar begitu pemandangan kota berangsur-ansur berubah ke kawasan yang didominasi pepohonan yang mengambarkan musim semi yang indah. Ia mengurunkan kaca mobil dan menghirup udara yang menyajikan suasana berbeda dari musim yang ada di Indonesia. Sensasi yang membuat pikirannya jauh lebih tenang tanpa beban pikiran apa pun dalam ingatan.
Laju mobil Aleya mulai melamban begitu ia masuk lebih dalam. Perjalanan itu lalu berhenti di depan rumah tradisional korea yang dibangun tahun 1930an. Keelokan arsitektural hanok berjalinan sempurna dengan nuansa musim semi yang semakin membuat taman di sekitar rumah tradisional itu terlihat mempesona. Aleya mendahului Jagad keluar dari dalam mobil.
“Tempat apa ini?” tanya Jagad sambil menjajari langkah Aleya.
“Tempat yang membuat pikiran kita jauh lebih nyaman...” walau jawaban Aleya terkesan sembarangan, tapi Jagad tidak berkomentar lebih lanjut. Pasalnya ia merasakan apa yang dimaksud adiknya itu.
Keduanya berjalan bersisihan menyusuri jalan setapak menuju restoran. Jika tidak ada yang tahu benang takdir yang melilit mereka, keduanya tampak seperti sepasang saudara akrab dan penuh kasih sayang.
Sayang, takdir menjebak mereka dalam kegelapan.