CEO'S OFFICIAL MATE

CEO'S OFFICIAL MATE
BAB 29; Dia Mencintaiku dan Dia Gila



Aleya masih tidak percaya dengan kedua pria yang kini saling melempar senyum sambil menikmati makan malamnya. Terlihat benar di wajah mereka bahwa kebersamaan ini yang mereka inginkan dari dulu. Bahkan Han Byeol tidak bisa berhenti tersenyum sejak Aleya ‘dipaksa’ setuju untuk tinggal di rumah itu. Aleya tidak bisa menolak demi melihat senyum kedua laki-laki yang kini menjadi suport system kehidupannya.


“Pak Leo mengatakan bahwa kakakmu akan tiba di Korea dalam waktu dua hari,” San Hyuk mulai membahas perkara kedatangan orang yang paling tidak ditunggu itu.


“Apa kini Pak Leo menjadi orangmu?” Aleya tidak bisa tidak heran dengan perkataan San Hyuk. Pak Leo jelas orang yang dipekerjakan oleh orangtuanya, namun sejak kapan orang itu mau bekerja sama dengan San Hyuk.


“Dia sudah lama menjadi orang kita,” jelas San Hyuk singkat, “Han Byeol, selama pamanmu ada di sini, kau akan diantar jemput oleh supir sekaligus bodyguard pribadi Appa.” Han Byeol hanya mengangguk setuju. Ia percaya sepenuhnya pada ayahnya yang sudah selalu menjaganya itu. Tidak pernah ada keraguan sedikitpun mengenai keputusan-keputusan ayahnya.


“Wah, kau juga Byeol-a, ternyata kau sepatuh itu pada Appamu,” Aleya hanya bisa heran dengan sikap putranya itu. Selama ini pasti ada perdebatan dulu jika Aleya membuat peraturan untuk Han Byeol.


“Dan kau...” tanpa menghiraukan Aleya yang masih tidak terima, San Hyuk langsung mengunci wanita itu dengan tatapannya, “berhentilah membohongi dirimu sendiri. Mulai saat ini kau harus lebih berani mengakui perasaanmu...”


“Oppa!” Aleya mencubit lengan San Hyuk yang paling dekat dengannya.


“Akh...sakit!”


“Aku masuk kamar dulu ya...” Han Byeol dengan sadar diri pamit dari hadapan keduanya. Ia tidak ingin menganggu ayah dan ibunya yang kini terlihat lebih dekat dari sebelumnya. Bahkan Han Byeol sadar, sikap ibunya sudah tidak seperti dulu. Ia tidak lagi menjaga sikap dan caranya berbicara pada San Hyuk dan lebih terkesan santai dari sebelumnya. Perubahan-perubahan itu tidak terlewat dari pengamatan putranya yang memang sangat jeli memperhatikan orangtuanya.


“Terima kasih Byeol-a!” San Hyuk menghargai ketajaman intuisi anaknya itu, “Byeol saja bisa tahu dan begitu dewasa kenapa kau justru yang jadi seperti anak-akh...” gerutu San Hyuk yang kembali dihadiahi oleh cubitan dari Aleya.


Han Byeol mempercepat langkahnya. Ia berjalan tanpa menoleh ke belakang agar orang tua yang sedang di mabuk cinta itu tidak tahu bahwa ia tengah tersenyum bahagia. Han Byeol benar-benar berharap bahwa ini awal yang sesungguhnya untuk membuat ibunya bahagia.


“Oppa kenapa seperti itu sih!” Aleya langsung protes begitu melihat Han Byeol masuk ke dalam kamarnya.


“Aku kenapa? Aku hanya ingin mentut kembali hak ku!” San Hyuk bisa melihat telinga Aleya yang mulai memerah. Ia tersenyum dan semakin ingin menggoda istrinya, “kau tidak tahu betapa bahagianya aku saat kontrak tak berguna itu akhirnya selesai!”


Aleya hanya termenung menanggapi ucapan San Hyuk. Apa yang San Hyuk katakan tidak ada yang salah. Ayela lah yang selama ini berbohong tentang perasaannya. Ia terus saja mencari-cari alasan untuk menutupi sikap pengecutnya. Ia hanya takut jika perasaan San Hyuk berubah, ia akan kehilangan arah untuk melangkah. Ia takut bahwa San Hyuk hanya kasihan padanya. Ia takut harapannya akan pupus begitu ia membiarkannya berkembang.


Jika kabar tentang orang tua dan kedatangan Jagad tidak sampai padanya, mungkin Aleya akan selamanya menjadi pengecut dan membiarkan San Hyuk bertahan lebih lama. Ketakutan-ketakutan yang ia miliki semakin membesar seiring dengan hari kedatangan Jagad yang semakin dekat. Ia masih terus meyakinkan dirinya bahwa ia bisa melalui masa lalu itu dengan baik. Jika ia berhasil, maka Aleya berpikir bisa memberikan hati yang lebih baik untuk San Hyuk.


Tapi ternyata masa lalu itu masih terjebak di hati Aleya bagaikan kerak yang sulit untuk dihilangkan.


Aleya kehilangan semua tembok pertahanan yang ia bangun dalam sekali hempasan. Tubuhnya tidak bisa menerima itu dan hatinya terus mengirim sinyal pertolongan.


“Oppa…” Aleya berhenti tiba-tiba, ia seperti sedang berdebat dengan dirinya sendiri untuk mengatakannya pada San Hyuk atau tidak.


“Ada apa?” tatapan lembut San Hyuk membuat Aleya Kembali untuk menguatkan dirinya.


“Kak Jagad…” Aleya menelan salivanya, “orang itu pernah mengatakan padaku kalau ia…”


“Ia mencintaimu?” San Hyuk yang melihat keraguan Aleya langsung menebaknya.


“Bagaimana…”


“Orang itu tidak akan melakukan hal keji itu padamu jika ia tidak mencintaimu kecuali dia memang gila…” simpul San Hyuk.


“Tapi itu masalahnya…” mata Aleya bergetar, “dia mencintaiku dan dia gila…”


San Hyuk memilih untuk diam karena ia tahu bahwa apa yang akan disampaikan oleh Aleya berikutnya adalah sisi gelap lain yang belum pernah ia ungkapkan. Ia ingin sekali mengetahuinya tapi ia juga tidak ingin memaksakan keinginannya pada wanita yang sudah pasti terluka itu.


“Aku tidak memiliki teman selama aku ada di Indonesia. Bahkan di ponsel yang aku miliki hanya ada nomornya dan orang tua kami termasuk sopir yang bertugas mengantar jemputku…”


“Dan dialah yang membuatnya seperti itu…”


“Umur kami tidak terpaut jauh sehingga kami menempuh pendidikan bersama, kami berdua sekolah di lokasi yang sama mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Ada beberapa sekolah swasta yang membuat system pendidikannya mulai dari taman bermain sampai dengan sekolah tinggi. Hal itu yang membuatku terjebak pada lingkaran yang sengaja ia buat…”


“Kakak membuatku tidak bisa memiliki teman, ia selalu mengawasiku. Jika jam istirahat kami sama, ia akan mengunjungi kelasku dengan teman-temannya. Aku sampai tidak bisa berbicara dengan orang lain. Aku duduk sendiri, bahkan tugas kelompok pun aku kerjakan sendiri…”


“Semua orang takut mendekatiku termasuk guru kami…ia yang melakukan semuanya, bahkan kepala sekolah dan kepala Yayasan diam saja mengetahui ini.  Ini karena kami berdua tercatat bersaudara dan orang tua kami memiliki kekuasaan untuk mengerakan Yayasan sesuka mereka...”


“Pernah ada yang mengajak ku untuk berteman, namun selang beberapa hari dia menghilang. Saat ia kembali ke sekolah, ia bahkan tidak berani hanya untuk menatap mataku. Mulai saat itulah aku mulai menerima keadaanku dan tidak lagi berinteraksi dengan siapa pun. Aku takut kakakku akan melukai mereka...” semakin Aleya bercerita semakin erat ia mencengkeram tangan San Hyuk. Ia masih ingat benar seberapa besar pengaruh kakaknya itu dalam kehidupannya.


“Itulah yang membuatku diam-diam mengambil rencana studi ke luar negeri. Mungkin itulah mengapa ia sampai marah denganku dan melakukan semua itu padaku...”


Aleya tidak bisa menutupi ketakutannya. Terlebih lagi Aleya takut kakakknya itu akan menyentuh Han Byeol ataupun San Hyuk.